Assalamu'alaikum...,  Ahlan Wasahlan |  sign in  |  

Ahlan...

Sebuah blog untuk mengekspresikan diri. Manampung tetes pikiran yang jatuh. Sebuah parit kata, yang merayap dari celah jiwa. Sebuah bejana penyambut derai-derai inspirasi. Di sini dicoba untuk dieja. Kali saja menjadi huruf yang bisa dibaca. Menjelma alenia, membentuk cerita. Kalaupun berupa coretan tak berbentuk, mohon seka raut yang berluluk. Biar cerah. Dan jahitkan saku yang masih melambai. Karena aku sosok yang tak luput dari alpa. Thank's!


Pituah Amak

Written By rumah karya on Senin, 26 Maret 2012 | 21.37.00

Kau adalah bara yang membakar semangat kerja
Kecukupanmu adalah embun yang menghilangkan dahaga
Cintaku padamu
telah membius rasa letih yang mencabik-cabik raga
Tak peduli titis hujan
Tak peduli panas sang surya
Atau larut malam yang menggoda
untuk memejamkan mata
Aku tak hiraukan itu semua

Kau adalah penghangat dalam dinginku
Penghibur kala dukaku
Cita-citamu adalah harapanku
harapan yang dulu dihempas kemiskinan
Aku tak rela anakkupun tenggelam karsanya

Aku berharap tak hanya nama pahlawan yang berdenyar
karena jasa yang mereka ukir
Atau nama ulama yang menggaung
karena karya yang mereka toreh
Tapi juga namamu
karena jasa yang kau pahat
karena karya yang kau buat

Asamu adalah cambukku untuk giat
Rantaumu adalah jendela pikiranku
yang membuka ragam jalan
terkadang tak tertempuh orang
Inilah karunia Tuhan

Anakku!
Kampung kita butuh pendidik
Aku berharap kau menjadi guru bagi kami
Membuka selimut bodoh yang melingkupi
Tak hanya kampung, mungkin dunia

Harapan Itu adalah motor penggerak
kaki kami menjeput setiap rezeki
yang menggeletak disudut bumi
Kami kerahkan seluruh tenaga untuk berusaha
Tak ingin kau kekurangan di negeri orang sana

Anakku!
Orang tuamu bukanlah pengusaha bertabur harta
Atau pejabat bergaji jutaan rupiah
Hanya pekerja keras yang mengandalkan tenaga
Tak lebih!

Alhamdulillah!
Sampai saat ini kebutuhanmu tetap terjaga
Entah masih bisa setamat kau kuliah
karena usia terus bertambah
Mengingat adikmu akan tamat sekolah

Anakku!
Tak bisa kugambarkan haru hati
melihat kau menaiki pesawat untuk kali pertama
Hanya buliran bening disudut mata yang berbicara
Kapan kita bersua lagi?
Kapan kami bisa naik pesawat sepertimu?
Melihat dunia dari angkasa?
Atau merasakan suasana di udara?
Ah, itu tidak penting
yang jelas kau sudah buat kami bahagia.

Menyekolahkanmu ke luar negeri
ada kebanggaan tersendiri bagi orang seperti kami
karena semua lahir dari keringat yang mengalir
Kelukur-kelukur di badan tak lagi terasa
Rasa letih tak lagi ada
Sirna semua

Tubuh yang makin ringkih
Garit urat yang menyembul
Keriput kulit membungkus tulang
tak lagi jadi perhatian
Karena semua perhatian hanya tertumpu padamu

Terkadang ketika telat mengirimmu uang
Aku meneteskan air mata
apakah kau makan seperti kami di sana?
Dapat tidur nyenyak?
Apakah sewa rumahmu tidak menunggak?
Tak kuasa aku menyuap nasi di tangan
Berat!

Tanpa segan,
aku akan menyatroni rumah-rumah tetangga mencari pinjaman
Terkadang ada, terkadang juga susah
Karena kebutuhan yang berbeda-beda

Rasa gundah terus mendekap
Mata manegantuk tak terkejap
Mengingat pinjaman yang tak dapat-dapat
Sangat menjadi bahan pemikiran

Terkadang ibu ditegur ayah
untuk jangan menyebut-nyebut jerih payah
karena itu adalah kewajiban orang tua, katanya
Ibu sependapat dengannya
tidak sedikitpun membantah
Ibu bercerita hanya sebagai bara
biar semangatmu terus menyala
Sebagai angin
biar semangatmu terus berkibar

Sebagaimana kau tahu
Ibu bukanlah penyair
yang dapat meramu kata menjadi indah
Pakar sejarah
yang dapat menceritakan berbagai peristiwa
Atau ahli agama
yang dapat mengajarkan ragam hikmah

Melalui curhatanlah aku ingin membuka matamu
agar jangan pernah terpejam
Mengingatkanmu agar jangan pernah alpa
Melalui inilah ibu bisa menyusun kata

Anakku!
Kini kau telah dewasa
Sudah saatnya menentukan alur cerita
Apakah ber-ending nestapa
Atau bahagia
Semua tergantung bagaimana kau melangkah

Inilah pituahku yang harus kau jaga
Jangan pernah lupa!
Tak semua orang memiliki keberuntungan sepertimu.


Udo Iwan
Zagazig, 5 Maret 2012. 15:33
Pesan Amak yang kuabadikan dalam sajak. Sebagai stimulan. Cambuk. Biar selalu terkenang bagaimana mereka lelah berjuang. Ummi wa abi, Uhibbukum fillah.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Ini baru satu petuah, tapi bisa dijadikan karya yang sangat indah, tetap berkarya kawan! puisikan pituah-pituah yang lainnya.

*edisi ramadhan

rumah karya mengatakan...

Super, Ram. Mari kita buat pituah yang lain, edisi ramadhan.

Posting Komentar