Assalamu'alaikum...,  Ahlan Wasahlan |  sign in  |  

Ahlan...

Sebuah blog untuk mengekspresikan diri. Manampung tetes pikiran yang jatuh. Sebuah parit kata, yang merayap dari celah jiwa. Sebuah bejana penyambut derai-derai inspirasi. Di sini dicoba untuk dieja. Kali saja menjadi huruf yang bisa dibaca. Menjelma alenia, membentuk cerita. Kalaupun berupa coretan tak berbentuk, mohon seka raut yang berluluk. Biar cerah. Dan jahitkan saku yang masih melambai. Karena aku sosok yang tak luput dari alpa. Thank's!


Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan

Kurang Bukan Penghalang

Written By rumah karya on Sabtu, 21 Januari 2012 | 12.51.00

Pagi ini giliranku belanja ke pasar. Hidup dirantau mengharuskan kemandirian. Semua pekerjaan kita yang melakukan. Memasak. Mencuci. Belanja. Dan menyetrika. Tidak seperti di kampung, ada ibu atau adik yang mengerjakan pekerjaan rumah. Jam setengah sembilan aku berangkat. Agak siang memang, karena pagi-pagi udaranya sangat dingin. Tahulah, sekarang Mesir sedang musim dingin. Januari. Walau matahari sudah meninggi, tetap saja udaranya menembus jaket-jaket tebal yang aku pakai.
Orang sudah ramai berlalu-lalang. Jam segini aktivitas sudah mulai berjalan, mungkin karena pasar. Kalau hari biasa, masih sepi. Kebanyakan masry (orang Mesir) masih dalam mimpi. Aktifitas mulai mencair jam sembilan atau setengah sepuluhan. Di belakang jam itu, hanya anak-anak I’dadiyah, Ibtidaiyah dan Tsanawiyah saja yang tampak berpagi-pagi. Udara yang dingin ditambah angin yang berembus sepoi menambah beku aktivitas.

Karena rumahku yang tidak terlalu jauh dari pasar Syiba, aku cukup berjalan kaki. Tempat tinggalku biasa dikenal dengan mantiqoh Mauaf (kawasan terminal, asal katanya mauqaf; tempat pemberhentian. Dalam bahasa Amiyah huruf qaf biasa dibaca alif). Tuk-tuk (bajaj) berwarna hitam sudah mulai keliling mencari penumpang serta mengantarkan ibu-ibu Mesir yang baru pulang. Jam segini sebagian pembeli sudah pada selesai belanja. Kalau musim semi, panas atau gugur aku juga sudah pulang.

Lebih kurang sepuluh menit berjalan, aku sudah sampai di pasar. Sudah ramai. Ibuk-ibuk mondar-mandir beranjak dari satu pembeli ke pembeli lain. Para pedagang sibuk meneriakkan dagangannya. Pasar kecil setiap hari selasa ini begitu padat. Belum ditambah tuk-tuk dan mobil yang ikut masuk, terkadang bikin jalan tambah zahmah alias macet.

Huh!

Kusapu pandanganku pada setiap penjual. Hmmm? Tak ada yang jual cabe merah rupanya.
Aku terus menerobos ke dalam pasar. Ada yang menjual to’miyah juga rupanya di tengah pasar.

Dari deretan penjual sayur mayur, kulihat seorang kakek tua dengan dagangan plastiknya. Aku perkirakan umur beliau 60-an. Tampangnya kusut. Pakaian kumal. Dan sedikit bungkuk. Musim dingin menambah kekusutannya. Jaketnya yang tebal tidak menampakkan badannya yang kurus. Aku mampir ke-galeh-nya membali kresek. Aku tidak membawa kantong apa-apa ketika berangkat. Lebih senang membeli langsung di pasar.

“Assalamu’alaikum.” Sapaku.
“Kam wahdah?” Menunjuk kresek hitam.
“rubu’ yabni.”
“Aiz bigeneh.” Mengangkat telunjuk ke atas.
Tangan kurusnya segera mengambil empat plastik hitam dan memberikannya padaku.
“syukran.”

Akupun berlalu dari hadapannya. Baru saja beberapa langkah. Terdengar suara memanggil.
“Stanna.”

Aku menoleh ke belakang. Tampak dia mengibaskan sebuah plastik warna pink, yang ukurannya lebih kecil dari plastik hitam yang kubeli barusan.

“Hadiah minni.”

Dengan senang hati aku menerima pemberiannya. Tak lupa juga memberikan senyum dan terima kasih.

Aku tercenung sambil terus berjalan menuju pedagang ikan. Meskipun bapak itu hanya pedagang plastik, keinganan untuk berbuat baik tak membuatnya enggan untuk memberikan helai plastiknya. Dengan itulah dia mampu berbuat baik. Kalau memang memiliki keingan untuk berbuat baik, keterbatasan takkan pernah mampu menghalangi. Aku jadi teringat para sahabat yang mengeluh kepada rasulullah Saw., “Wahai rasulullah. Orang kaya itu datang dengan banyak pahala, mereka shalat seperti kami shalat. Mereka berpuasa seperti kami berpuasa. Dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta yang mereka miliki, (sedangkan kami tidak bisa). ”Rasulullah kemudian menjawab, “bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang bisa disedekahkan?! Sesungguhnya setiap tasbih, takbir, tahmid dan tahlil adalah sedekah.” (HR. Imam Muslim)

Berinfak di tengah kekurangan justru tersedia balasan yang lebih buat pelakunya. Setiap orang tentunya ingin mendapatkan. Namun tak semua orang bisa mengerjakan. Setiap sesuatu yang bernilai, memang berat untuk mengaplikasikannya. Dalam Al-Quran Allah mengkhabarkan kepada kita,

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu. Dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit. Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintain orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran 133-134)

Lebih lengkap, ketika setiap amalan baik kita dibungkus dengan takwa kepada Allah. Seperti yang Allah sebutkan di atas.
Hadis dan ayat ini memberikan motivasi kepada kita untuk bersedekah atau berinfak dengan yang kita bisa. Orang kaya dengan kelebihannya ia berinfak, seperti halnya Abu Bakar. Abu bakar dikenal sebagai orang yang kaya. Dan menjadikan kekayaannya itu sebagai ladang ibadah. Semua hartanya ia sumbangkan untuk dakwah islam,hingga tak tersisa. Rasulullah pun bertanya dibuatnya, “apa yang engkau sisakan untukmu dan keluargamu?” Ia menjawab, “Allah dan rasul-Nya.”

Ketika kita tidak memiliki apa-apa, masih bisa melakukan seperti yang rasulullah ajarkan pada sahabatnya, bertasbih, takbir, tahmid dan tahlil. Atau juga seperti hadis berikut, “Mendamaikan dua orang yang berselisih adalah sedekah. Membantu seseorang mengangkatkan baawaannya kekendaraannya adalah sedekah. Kata-kata yang baik adalah sedekah. Setiap langkah menuju shalat adalah sedekah. Dan menyingkirkan rintangan dari jalan juga sedekah." (HR. Bukhari Muslim)

Begitu banyak pintu kebaikan yang bisa dimasuki. Yang jadi pertanyaan, kita mau masuk atau tidak. Yang jelas, pintu itu takkan pernah tertutup. Kekurangan bukanlah sekat yang membatasi diri kita untuk bisa bersedekah dan berbuat baik.

“Kam kilo ya andunisi..?”

Aku sedikit tergagap. Suara penjual ikan membuyarkan lamunanku. Tanpa kusadari, aku telah berdiri di depan penjual ikan. Ah, betapa malunya aku melamun di tengah keramaian. Huhuhu!
12.51.00 | 1 komentar

Bukan Bunglon

Written By rumah karya on Selasa, 12 Oktober 2010 | 16.38.00

Jikalau lembaran sejarah kembali dibuka. Maka akan tampak goresan-goresan jasa semangat pejuang dalam mempertahankan, membela dan menyebarkan Islam.

Satu halaman dari perjuangan Nabi dalam membela Islam pada perang Badar. Lihatlah bagaimana Nabi melawan kaum Quraisy yang jumlahnya berlipat-lipat, satu banding tiga. Secara logika orang sehat, amat mustahil umat Islam akan menang. Tapi itulah kenyataannya, umat islam mengalahkannya.

Lihatlah satu halaman dari perjuangan Salahuddin al-Ayyuby. Bagaimana Salahuddin meneguk kemenangan ketika melawan pasukan Salib. Dimana pada masa sebelumnya belum ada yang bisa mengalahkan. Lihatlah Muhammad al-Fatih yang membuka Konstatinopel. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Kenapa mereka semua bisa melakukan itu? Jawabannya tidak lain, karena kekuatan iman yang terpancang di sanubari mereka.


Dengan keyakinan mereka pada Allah yang melangit; itulah yang menyebabkan mereka meneguk tetesan demi tetesan kemengan. Allah menurunkan bantuan, bak langit memuntahkan isi perutnya, bahkan lebih deras dari itu.
Kita juga (para penuntut ilmu) sama dengan mereka, sama-sama meperjuangkan, membela dan menyebarkan Islam. Yang membedakan hanyalah pedang dan pena. Mereka pedang yang diayun-ayunkan sedangkan kita pena yang digores-goreskan.

Mereka bisa meraih kemengan demi kemengan, kenapa dengan kita tidak? Kita juga bisa melakukan hal yang sama. Jikalau ada keinginan dari diri kita. Ketahuilah! Kemenangan tidak datang dengan sendirinya, jikalau bukan kita yang mencari kemenagan itu.

Peperangan termin satu baru saja berlalu. Dengan menyisakan sejuta hikmah dan pelajaran. Mungkin manis atau pahit, atau mungkin juga asam. Kita yang merasakan.
Jangan biarkan bara semangat yang menyala-nyala ketika imtihan, padam. Hanya dengan setetes nikmat liburan ataupun kesenangan. Kembali kobarkan, kembali nyalakan!

Bara yang paling kuat nyalanya akan padam, jika ia dibiarkan sendiri. Untuk mengembalikan nyalanya, harus disatukan kembali dengan yang lain. Semangat kita yang hampir padam, kembali nyalakan. Bergabung dengan mereka yang semangatnya masih menggebu. Insya Allah, semangat kita pun akan ikut menggebu seperti halnya mereka. Seperti halnya bara.

Catatan bagi kita! Kita bukanlah bunglon yang selalunya berubah di setiap tempat. Kita adalah kita. Orang akan merubah, bukan yang dirubah. Jangan sampai suasana liburan memadamkan bara kita. Jangan sampai suasana Mesir yang melenakan menggepengkan semangat kita yang dulu bulat.

Selesainya peperangan bukan berarti selesai pula tugas kita. Masih banyak peperangan yang akan dilalui. Bagaimana mungkin akan menang, jikalau tanpa persiapan, jikalau pedang yang tumpul tidak kembali diasah?

Pisang itu belum tentu berbuah lagi.
Jika kita kalah dalam pertempuran. Habis, tamatlah riwayat kita. Mumpung kesempatan itu masih ada, lakukan yang terbaik. Sebelum air mata penyesalan berguguran. Jangan sampi kalah sebagai pecundang. Tapi, jadilah pemenang!

Durian mungkin bila kita mengingkan, cukup ditunggu dibawah pohonnya. Tapi amat berbeda sekali dengan jengkol, bila kita menginginkannya, kita harus mengambil sendiri. Kesuksesan tidak datang dengan sendrinya. Tapi kita cari.

Yang menjadikan kita ulama bukanlah al-Azhar. Tapi diri kita sendiri. Al-Azhar hanyalah sebagai sarana. Jikalau tidak kita gunakan sarana tersebut sebaik-baik mungkin, percuma. Kita tidak akan bisa, kita tidak akan jadi ulama.

Semua kembali kepada kita. Kita yang menentukan derap langkah. Kekanankah, kekirikah, kedepankah atau kebelakangkah? Dan yang paling penting adalah mengambil hati empunya kesuksesan. Jangan kotori tugas suci ini dengan perbuatan nista, yang akan berakhir kecewa, putus asa dan berujung penyesalan.

16.38.00 | 0 komentar

Bangkit

Bangkit itu darah Palestina yang memuncrat di tembok-tembok bisu rumah, mepertahankan jiwa dan tanah air mereka. Bangkit itu derai air mata mereka –rakyat Palestina- yang mengguyur tanah kering yang diinjak-injak Zionis Yahudi laknatullah. Bangkit itu nyawa Mahasiswa Trisakti yang menggelinjang, ditembak aparat keparat orde baru. Bangkit itu gatal tangan kotor Israel yang selalu digaruk. Tangan yang tak pernah menyetuh air. Tangan yang selalu berlumur merah darah Palestina. Tangan yang tak tahan melihat Palestina bebas mengepak-ngepakkan sayapnya, terbang bebas di angkasa.
Bangkit itu muka tembok Amerika yang tak pernah jera atau malu pada dosa, menghancurkan mereka yang tak mau tunduk atau patuh pada perintah. Dalih-dalih “Terorisme,” dalih-dalih “keamanann dunia.” Setelah semua hancur berserakan, dengan sekenanya mengatakan salah duga, tak sengaja, atau tak lainnya-lah. Setelah Afganistan lebur, setelah puing-puing menjelma jalanan curam, runcing-runcing reruntuhan. Muka tembok itu masih saja menacari-cari celah kesalahan dengan isu-isu tanpa landasan.

Bangkit itu angka, bangkit itu harga, bangkit itu nyawa, harta dan jiwa. Bangkit itu keringat para pahlawan yang tak henti-hentinya tumpah, berjuang memerdekakan tanah air Indonesia dari penjajah, walau berkalang tanah, Cut Tjak Dien yang ‘tak pernah gentar melawan Belanda bersenjata misalanya. Bayangkan! seorang wanita yang demi kehormatan bangsanya, rela berjuang mati-matian. Keluar hutan bergeriliya bersama sang suami Cut Ditiro, suami kedua. Setelah suami pertama gugur di tangan kotor Belanda, Teuku Ibrahim Lamnga.
Bangkit itu butuh perjuangan. Bangkit itu Hasan al-Bana yang terus berupaya mewujudkan tataran Islam di negeranya, Mesir. Bukan kapitalis yang di usung Barat. Tidak mudah memang untuk melakukan semua, tapi itulah, demi kebangkitan, beliau rela. Hatta nyawa jadi taruhan. Beliau syahid ditembak rezim yang merasa tergerogoti eksitensinya, raja Faruk.
Bangkit itu bocah dua puluh satu tahun -Muhamad al-Fatih- yang berhasil menghancurkan kekuatan imperium Romawi. Kekuatan yang tak terkalahkan pada masanya. Berbagai kegagalan telah ditemukan untuk membebaskan. Tapi itulah, seorang Muhammad al-Fatih mampu menerobos regol (gerbang), menginjakkan kaki di tanah kering akan Iman ini, dan shalat didalamnya.
Bangkit itu tidak seperti roda mobil yang menggelinding di aspal jalanan. Yang bisa melaju semauanya. Bangkit itu melewati duri-duri berserak, yang mesti diinjak, jika tidak ingin kepahitan ditemukan. Jika tidak rela kaki berlumuran darah, tunggulah! Nantilah! samapi duri itu busuk, lapuk detelan tanah. Jangan harap kenyataan itu akan sama dengan mimpi yang mengelayut-layut dalam memori. Karena semuanya sudah hancur berserakan. Yang akan ditemui hanya puing-puing penyesalan yang tak ada harga lagi, basi, busuk, layu, mati.
Bangkit itu butuh keberanian dan nyali. Bangkit itu adalah Soekarno yang dengan lantang menolak imperialisme barat dengan pernyataan tegasnya, “Go to hell with your aid!” Ia tak pernah gentar. Karena dia memang punya nyali, karena memang dia pemberani.
Bangkit itu terkadang juga kekejaman. Tengoklahlah pembantaian kejam yang dilakukan Salibiyyin terhadap empat puluh ribu umat Islam Palestina. Mereka tega menghabisi mereka –umat Islam Palestina- yang sama sekali tak berdosa. Tak pandang bulu, tua-kecil, laki-laki-wanita, semua dienyahkan keperut bumi. Menyedihkan memang! Tapi itulah, demi kebangkitan, mereka rela menghilangkan sifat ke-manusiawiannya. Ya! Mereka ingin menempati kembali tanah suci yang telah dibebaskan khalifah Umar bin Khatab.
Bangkit itu tidak seperti durian mateng yang runtuh berjatuhan dari dahan. Bangkit itu bukan jengkol tua yang menggelantung di pohon. Meski tua tak pernah ia mau menyentuh tanah. Tapi, ia harus diambil, dipanjat, barulah ia akan berguguran. Bangkit itu butuh gerak dan langkah yang besar untuk menggapainya. Hawa kemerdekaan yang dihirup saat ini, mahal harganya. Beribu nyawa telah hilang melayang. Ini bukti bahwa kebangkitan itu tidak mudah. Untuk itu sudah selayaknya kita generasi muda menghargai jarih payah mereka –para Pahlawan-.
Bangkit? Bisa. Tidak mudah! Butuh perjuangan! Butuh pengorbanan! Jika ingin bangkit, harus rela semua itu, walau harus menginjak duri yang berserak.
Bangkitlah!


16.34.00 | 0 komentar

Lorong Kehidupan

Mentari semburatkan jingga di angkasa. Menutupi kegelapan malam. Hampa pandangan pada satu titik, berganti. Kini, semuanya bisa dinikmati. Tak lagi ada batas. Bebas. Merdeka. Semut yang hitam di batu hitam, jelas. Senyap, sumpek dan seabrek kerja, tak lagi ada. Bebas-sebebasnya. Merdeka semerdekanya.
Nafas kelegaan, menghela. Mengiringi berlalunya beban bagi sebagian insan. Berakhir. Setiap sesuatu yang bergerak, memang demikian adanya. Sudah ketentuan Ilahi.
Ujian adalah sebuah keniscayaan, setiap yang hidup di semesta ini, tidak mengenal level atau strata, kaya atau miskin, berpangkat atau melarat, berilmu atau bodoh. Semua dapat ujian. Bahkan, setiap lorong kehidupan yang dijelajahi manusia adalah ujian.
16.18.00 | 0 komentar

Semangat Mereka

Menangislah! Aku ingin menangis. Menjerit sejadi-jadinya. Menyesali diri yang selalu menghabiskan jatah hidup hanya untuk sesuatu yang tak berarti. Aku ingin menangis melihat semangat para ulama dahulu mencari ilmu. Mereka mencari ilmu dengan semangat dan bersungguh-sungguh, tekun belajar dan memberikan seluruh waktunya untuk menulis, menghafal, dan membaca. Hingga akhirnya, hal itu menjadi kenikmatan tiada tara. Sementara bagaimana aku? Ah! Aku benci pada diri. Membiarkan waktu pergi. Aku iri. Ingin semangat seperti mereka, menghabiskan menit-menit untuk belajar. Tapi, aku cuma bermimpi tanpa mau meniti tangga-tangga. Aku takut menginjak duri-duri. Aku takut terpeleset. Yang pada intinya aku malas. Ya! Malas.

Aku iri pada Ibnu Uqail yang tekun dalam membaca dan meraih ilmu, “'Tak halal bagiku menyia-nyiakan sedikit pun waktu tanpa faedah. Bila lisanku berhenti dari menghafal dan berdiskusi, mataku berhenti dari membaca, maka aku menggunakan pikiranku ketika istirahat. Aku tidak bangun, kecuali sudah terlintas dalam benakku apa yang akan aku tulis."

Subhanallah. Sementara aku, apa yang telah kuperbuat dari sekian banyak waktu. Aku tidak bekerja, tidak disibukkan oleh hal lain, kecuali hanya belajar, "Hanya untuk itu kamu disuruh." Kata Ayah dan Ibu dulu. Menangis mengingat semua berlalu. Tak ada buah yang kupetik! Tidak ada!
Imam Nawawi pada awal belajarnya, membaca setiap hari dua belas buku pelajaran kepada para gurunya, lengkap dengan penjelasan dan koreksiaan, “Aku mengomentari semua yang berkaitan dengan penjelasan-penjelasan kitab yang sulit, atau kalimat-kalimat dan tata bahasa yang sulit. Allah memberikan barakah pada waktuku dan kesibukkanku, serta membantuku.”

Telah berapa banyak buku yang telah aku tamatkan? Jangankan dua belas buku perhari. Satu buku dalam sebulan saja belum ada. Kalau begini caranya, bagaimana mungkin aku akan menjadi sumur tempat mengambil air kehidupan. Jadi pintu untuk setiap masalah. Mustahil aku akan menjelma semua. Imam Nawawi tidak pernah menyia-nyiakan waktunya, baik di waktu malam atau siang, dan hanya menyibukkan dirinya dengan ilmu. Bahkan ketika beliau berjalan, beliau terus mengulang-ulang ilmu yang telah dihafalnya, atau membaca buku yang ditelaahnya sambil berjalan. Beliau makan hanya sekali dalam sehari semalam, yaitu setelah isya’ di waktu akhir dan beliau minum hanya sekali di waktu sahur.

Aku selalu menyia-nyiakannya. Berjalan penuh dengan canda dan tawa. Makan banyak, minum banyak. Tidur banyak. Semua serba banyak, kecuali belajar yang tidak banyak. Ya Allah! Betapa meruginya hamba yang selalu terbuai oleh angan kosong serta tipu daya syetan.

Sebagian diantara mereka selalu memanfaatkan waktunya, bahkan tidak meninggalkan menuntut ilmu ketika di dalam kamar kecil (WC) sekalipun. Ibnu Rajab Al-Hanbali bercerita, “Imam Majduddin bin Taimiyah, apabila beliau masuk WC untuk membuang hajat, beliau berkata kepada orang-orang yang berada di sekitarnya, ‘Bacalah kitab ini dan keraskanlah suaramu!’ “Ibnu Rajab berkata, “Hal itu menunjukkan kuatnya semangat dalam belajar ilmu dan meraihnya, serta dalam menjaga waktunya.” Betapa tingginya semangat mereka. Tak hanya dalam majelis mereka belajar ilmu. Dalam hamam pun masih untuk mendapatkan ilmu. Adakah semangatku seperti semangat mereka? Pertanyaan besar yang selalu mengantung dan tak pernah menemui jawaban.

Ada juga diantara mereka yang sambil makan mendengarkan ilmu. Ibrahim bin Isa Al-Muradi berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang lebih rajin dalam menuntut ilmu melebihi Al-Hafidz Abdul Azhim Al-Mundziri. Saya bertetangga dengannya ketika di madrasah, di Kairo, selama dua belas tahun, dan rumah saya berada di atas rumahnya. Setiap kali saya bangun malam, saya selalu mendapatkan lampu di rumahnya menyala. Beliau menyibukkan diri dengan belajar dan menulis. Sampai ketika beliau makan dan minum, kitabnya selalu berada di depannya, beliau membaca dan menelaahnya.”
Begitulah mereka menghargai waktu, tak pernah meremehkan, walau sebentar. Satu detik adalah satu ilmu, atau mungkin lebih. Subhanllah! Betapa jauh semangatku dibandingkan semangat mereka.

Ya Allah! Jadikanlah semangat hamba seperti halnya semangat dalam menuntut ilmu. Amiin!

11.03.00 | 1 komentar

Kakek Muadzin

Written By rumah karya on Minggu, 10 Oktober 2010 | 09.57.00

Diantara ketakjuban-ku pada Mesir adalah masjid-nya yang tak pernah lengang shalat berjamaah, baik masjid kecil –meskipun kecil, di Mesir tetap namanya masjid- maupun besar. Maka, 'tak heran kalau Mesir dijuluki negeri seribu menara, karena memang masjid bertaburan di mana-mana. Bangunannya berbagai, ada masjid yang berdiri tegak sendiri, ada juga masjid yang menyatu dengan flat rumah, biasanya terletak di ardiyah (lantai dasar). Orang-orang Mesir yang baik hati, biasanya selalu menjadikan ardiyah rumahnya masjid, namun ada juga ditingkat dua atau tiga. Meskipun masjid bejibun, tetap ‘tak sepi, walau hanya dua atau tiga orang saja, suara imam tetap menggema.

Azan selalu berkumandang, bersahut-sahutan dari satu menara kemenara lain. Besar-kecil, tua-muda, berbondong-bondong menghadiri. Debu-debu, tipis, diinjak-injak jamaah yang ke luar masuk. Gemercik air kran yang dihidupkan setiap saat senantiasa terdengar. Aku berdecak kagum dengan pemandangan ini.!

Kemudian jika aku tilik kampung halamanku, ingat mushalla-mushalla dan masjidnya, aku sedih sekali, kosong, sunyi tak berpenghuni, kaecuali waktu-waktu tertentu. Masjid hanya sekali dalam seminggu dan mushallah 'tak menentu, padahal masjid dan mushalla ‘tak seberapa di sana. Namun tetap saja kesibukan mengalahkan semua. Harus aku akui memang, sumber daya manusia untuk mengajak, terbatas. Tak seperti di Mesir ini, yang berserakan ulama dan doktor-doktor. Di mana setiap tahunnya Mesir melahirkan doktor-doktor. Dan tercatat bahwa Mesir adalah Negara kedua terbanyak setelah Israel dalam melahirkan doktor-doktor setiap tahunnnya. Terlepas dari itu semua kesadaran yang tinggi juga lahir dari mereka, kesadaran untuk mengamalkan perintah Allah dan rasul-Nya, karena memang orang tua mereka mendidik untuk itu. Di kampungku orang yang mondorong untuk itu (berjamaah di masjid-red), masih sangat sedikit atau mungkin bisa dikatakan belum ada.

Dari sekian banyak jamaah, kesalutan itu kusematkan pada seorang kakek tua. Matanya telah kabur. Ia berjalan tertatih-tatih, terkadang membentur. Sebuah tongkat senantiasa menyangga ke mana-mana, itulah mata baginya kini. Pendengarannya ‘tak jelas lagi, ketika berbicara dengannya harus dengan suara yang tinggi, terkesan kurang sopan memang, tapi memang harus seperti itulah kalau menginginkan jawaban.
Setiap kali aku shalat di masjid itu, as Salam, ia selalu tampak di shaf awal, duduk berzikir, ‘tak pernah kulihat dia alpa, kecuali ketika malam jatuh, atau ketika kelam masih membayang, Maghrib, Isya dan Shubuh. Aku kagum padanya, keterbatasan langkah ‘tak menghalanginya berjamaah -di masjid-. Ia benar-benar mengamalkan apa yang rasulullah sabdakan, “Shalat berjamaah (di masjid) lebih baik daripada sahalat sendirian dengan pahala dua puluh lima derajat.” Atau dalam riwayat lain, “Dua puluh tujuh derajat.”

Setiap kali aku melihatnya di masjid, aku malu sendiri pada diri, tubuh masih sehat, mata dan pendengaran masih awas, ayunan kaki masih lincah, tapi terkadang enggan memenuhi panggilan Allah, “Ya Allah! Jadikanlah hamba orang yang pandai bersyukur terhadap segala nikmat-Mu.”

Di sini (Mesir) aku ingin mendidik diri, meniru semangatnya yang membakar. Selalu shalat lima waktu di masjid, duduk berdiri di shaf awal. Berharap ketika pulang nanti bisa mengajak masyarakatku mengamalkan perintah rasul ini. Untuk itu aku harus bisa mendidik diri karena kata imam al Juri dalam kitab adab an Nufus, “Orang yang tidak bisa mendidik dirinya, tidak akan bisa mendidik orang lain.” Ya, walaupun sebagai manusia, aku juga terkadang ada bolongnya..

Pelajaran selalu bercecer dimana kita berada, di angkot, jalanan, emperan, pasar, atau mungkin di hutan, namun sering kali kita ‘tak menyadarinya, kita terlalu angkuh, enggan untuk melihat, akibatnya kita sering silap. Semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga bagiku agar selalu rajin berjamaah di Masjid, dan bisa menghidupkan kembali masjid dan mushalla yang terpaku tak bergerak di kampungku. Amiin!


Catatan hari Ahad, 17 Mei 2009
09.57.00 | 0 komentar

Gerbang Kemiskinan

Written By rumah karya on Sabtu, 09 Oktober 2010 | 16.25.00

Satu hal yang dikhawatirkan oleh rasulullah Saw.adalah ketika dibentangkannya dunia, sebagaimana diluaskan pada umat-umat terdahulu, kemudian manusia saling balapan untuk merengkuhnya, hingga mereka lebur, jatuh terjerembab dan tersungkur, layaknya umat di masa lampau.Sebagai sample, bisadilihat bagaimana Qarun dan hartanya dibenamkan ke dalam tanah, kekayaan telah menutup gerbang hatinya, hingga ia lupa pada sang Pemberi. Kekayaan telah menggelapkan pandangnya, hingga ia tidak bisa melihat orang-orang yang butuh. Kekayaan telah menulikan telinganya, hingga ia tidak bisa mendengar seruan nabi Musa ‘alaihissalam.Sample lain juga bisa dilihat pada kaum Saba’ yang Allah Ta’ala ceritakan dalam al Qur’an, tanah-tanah subur, pohon-pohon rindang dan hijau, sungai yang mengalir dan buah-buahan yang ranum, dikaruniakan kepada mereka, namun mereka lupa, lupa tempat berpijak.Akhirnya Allah akhiri cerita mereka dengan air bah, hancurlah semua kekayaan itu, kemudian tumbuh pohon-pohon yang tak bisa dimakan buahnya. Satu hal yang dikhawatirkan oleh rasulullah Saw.adalah ketika dibentangkannya dunia, sebagaimana diluaskan pada umat-umat terdahulu, kemudian manusia saling balapan untuk merengkuhnya, hingga mereka lebur, jatuh terjerembab dan tersungkur, layaknya umat di masa lampau.Sebagai sample, bisadilihat bagaimana Qarun dan hartanya dibenamkan ke dalam tanah, kekayaan telah menutup gerbang hatinya, hingga ia lupa pada sang Pemberi. Kekayaan telah menggelapkan pandangnya, hingga ia tidak bisa melihat orang-orang yang butuh. Kekayaan telah menulikan telinganya, hingga ia tidak bisa mendengar seruan nabi Musa ‘alaihissalam.Sample lain juga bisa dilihat pada kaum Saba’ yang Allah Ta’ala ceritakan dalam al Qur’an, tanah-tanah subur, pohon-pohon rindang dan hijau, sungai yang mengalir dan buah-buahan yang ranum, dikaruniakan kepada mereka, namun mereka lupa, lupa tempat berpijak.Akhirnya Allah akhiri cerita mereka dengan air bah, hancurlah semua kekayaan itu, kemudian tumbuh pohon-pohon yang tak bisa dimakan buahnya. Potongan contoh berikutnya juga bisa dilihat pada kisah pemilik kebun, satu orang bertaqwa kepada Allah dan menyadari semua itu dari-Nya, bukan semata kerja keras. Dan seorang lagi seorang yang angkuh, yang merasa apa yang dihasilkan adalah hasil dari kerja kerasnya, semua keindahan itu membuat terminal otaknya berhenti berpikir tentang kekuasaan Allah. Ia lupa kalau semua yang ia dapatkan itu datangnya dari Allah, kemudian Allah tutup lembaran kisahnya dengan kehancuran pada kebun itu. Hingga kemudian ia menyesali diri, sayang, tak berarti. Dan pada akhirnya seperti itulah kesudahan orang yang terbang di awang, orang yang tak ingat siapa-siapa.
Dari hadis yang diriwayatkan oleh al Bukhari tersebut, dapat dambil kesimpulan, bahwa kekayaan dapat melupakan dari mengingat Allah, itu sebabnya kenapa rasulullah mengkhawatirkan ketika dibentangkan dunia kepada umatnya. Namun bukan berarti rasulullah melarang umatnya untuk kaya, kekhawatiran itu hanya beliau tujukan kepada umatnya yang akar keimannya lemah.Takut tak kuat diterpa angin nafsu. Sedangkan kepada umatnya yang memiliki tembok keimanan, sama sekali rasulullah tidak mengkhawatirkan, sebagai contoh bisa kita lihat pada sahabat Abu Bakar, misalnya. Kita ketahui, bahwa Abu Bakar adalah sahabat nabi yang kaya, memilik harta yang banyak, kemudian harta itu ia sumbangkan untuk islam, hingga nabi bertanya, “Apa yang kau tinggalkan untuk anak dan istrimu,” apa jawabnya, “Allah dan rasul-Nya.” Kita juga bisa melihat Utsman bin Affan, lihatlah bagaimana dermawannya ia, membantu orang yang membutuhkan, menyumbangkan hartanya untuk perkembangan islam. Sama sekali tidak dimakannya sendiri. Dari contoh ini dapat kita petik pelajaran bahwa islam tidak melarang umatnya untuk kaya. Hanya saja ada kekhawatiran dari rasulullah jikalau kekayaan itu diberikan kepada orang yang beriman lemah. Bukan berarti kemiskinan tidak perlu dientaskan, karena kemiskinan merupakan masalah akut yang melanda bangsa kita.
Dari contoh ini juga dapat kita ambil ibrah, bahwa kekayaan itu juga dapat menghancurkan seperti halnya kaum Saba’, Qarun dan sipemilik kebun. Itu lantasan karena pondasi keimannya tidak kokoh. Jikalau keimanan itu telah membaja dalam dada, kita bisa lihat sahabat Abu Bakar dan Usman bin Affan, harta menjadikannya semakin dekat pada Allah.Membuka pintu dan mata hatinya, menyadari bahwa semua itu adalah amanah. Tentunya semua itu kembali bagaimana kita menstir kekayaan tersebut, dengan melihat jurang-jurang yang akan mendatangkan kehancuran, dengan akal dan pikiran terus digelindingkan, hingga ia mencapai garis ketakutan yang luar biasa pada Ilahi.
Kemiskinan merupakan sebuah kata yang sering berkeliaran di udara, sebuah kata yang sering ditangkap oleh telinga, atau direkam oleh mata melalui media, baik cetak maupun elektronik.Atau juga mungkin melingkari kehidupan kita sehari-hari. Kebanyakan manusia amat takut terguling kedalamnya, takut semua kebutuhan tak tercukupi, seakan tak yakin kalau Allah selalu memenuhi, mereka lupa pada ayat Allah yang mengatakan akan memberi dari pintu yang tak terduga.Akibatnya mereka berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan kekayaan, mereka begitu sedih dan berduka ketika kekurangan atau sirna harta, bahkan yang lebih sadis sampai menukar agamanya hanya untuk mendapatkan kesengan sekejap. “Semua makhluk yang melata di bumi Allah cukupkan rezekinya,” tak ada yang luput, begitulah Allah berfirman. Semua angin khawatir bisa dibendung dengan tembok keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, seperti itulah Allah menjamin. Tak lagi ada badai was-was dan cemas.Jangan sampai kedipan dunia menyamatkan pandangan mata, hingga tak bisa melihat titik hitam ditengah benderang.
Kalau kita sering browsing, kita akan saksikan begitu banyak berita-berita kriminal, pencopetan, perampokan berlanjut pembunuhan, tujuannya cuma satu, harta. Satu hal yang sama sekali tidak diinginkan. Tentunya semua mendambakan hidup damai, saling bantu, memberi dan menolong antara sesama, tak ingin adanya kekerasan. Tapi itulah kenyataannya, demi harta apapun dilakukan.
Kita melihat kemiskinan melanda bangsa kita Indonesia semakin mengerikan dan dahsyat, berdasarkan data terakhir Word Bank November 2006 menyebutkan kemiskinan di Indonesia meningkat menjadi empat puluh sembilan persen, sekitar seratus empat puluh juta jiwa dari total penduduk Indonesia yang berjumlah dua ratus juta jiwa. Masalah kemiskinan memang bukan suatu kondisi yang diinginkan masyarakat, baik kota maupun desa. Tapi, itulah, jeratan kemiskinan terus mengintai saban hari, hingga tiap tahun angka kemiskinan bukannya berkurang malah meningkat. Kemiskinan adalah jeratan yang harus dibongkar semua pihak tanpa pandang bulu, dengan tentunya terus memupuk keimanan, agar bisa seperti halnya Abu Bakar dan Usman bin Affan. Namun kemiskinan tetaplah fakta dan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Yang kaya tambah perkasa dan yang miskin tambah melarat. Tak heran kalau banyak pengamat politik, ekonomi, sosial atau pun hukum mengatakan pemerintah hanya mampu melihat kemiskinan yang terpampang di depan mata, tanpa bsa melihat akar kemiskinan tersebut, yang berakibat akar tersebut tambah subur ditetesi hujan ketidaktahuan.
Kalau kita sinkron-kan dengan kualitas SDM, tentu juga menjadi suatu masalah atau penyebab, kita ketahui betapa rendahnya SDM kita, sabagai bukti bisa kita lihat bagaimana hasil-hasil bumi negara dipercayakan pada asing, karena menyadari betapa rendahnya kemampuan. Akibatnya kekayaan-kekayaan itu dibawa ke negara mereka, tinggalah serpihan tak berharga. Kemudian semua olahan itu dijual kekita dengan harga melonjak. Bagaimana kita tidak bertambah miskin?Di satu sisi, negara ingin mengentaskan kemiskinan dengan mengucurkan berbagai aliran dana kepada rakyat miskin. Tapi di sisi lain, banyak aliran dana yang malah diselewengkan.Maka jelaslah, kenapa hingga kini masalah kemiskinan belum juga dapat ditekan hingga pada titik yang terendah. Karenanya, meskipun berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, tetap hingga kini masih banyak rakyat Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sepertinya pemerintah harus lebih jeli lagi dalam memahami masalah kemiskinan. Karena selama ini, banyak kebijakan yang ditetapkan pemerintah justru malah membebani rakyat dan secara langsung bukan malah memerangi kemiskinan, tapi malah menjadikan rakyat semakin miskin. Untuk kita, marilah kita melihat keadaan disekeliling kita, kali saja ada sahabat kita yang membutuhkan uluran tangan. Disanalah letak peran kita membantu mereka, jangan tunggu dulu pemerintah turun tangan. Wallahua’lam!
16.25.00 | 0 komentar

Setitik Cinta

Written By rumah karya on Rabu, 12 Mei 2010 | 04.13.00

Dulu, waktu irwan bertanya tentang dana pemberangkatan ke Mesir, sebenarnya dana itu belumlah ada. tidak ada sepeserpun ditangan. Ibu tidak tahu harus menjawab apa. Tapi, kemudian Makwo berkata pada ibu, 'udah ni bilang aja ada, untuk menyenangkannya. Supaya dia nanti tidak kecewa.' Ibu sebenarnya berat sekali untuk mengatakan, iya, karena memang tidak ada dana sepeserpun. Tapi, akhirnya ibu mengatakan iya, ada. Tanpa tahu harus berbuat apa, karena Makwo terus mendesak. Entah dari mana ibu akan mendapatkannya.

Sebenarnya ibu berharap agar Irwan tidak lulus dalam tes ke Mesir, karena masalah dana tadi. Tapi kenyataanya tidak sesuai dengan harapan ibu. Irwan lulus. Orang-orang bilang, ibu ini orang orang yang bodoh, karena mendo'akan anaknya gagal, 'mana ada orang tua yang mendo'akan anaknya gagal, yang ada itu mendo'akan agar anaknya sukses, gimana kamu ini sih.' Begitulah perkataan orang terhadap ibu. Dulu, waktu irwan bertanya tentang dana pemberangkatan ke Mesir, sebenarnya dana itu belumlah ada. tidak ada sepeserpun ditangan. Ibu tidak tahu harus menjawab apa. Tapi, kemudian Makwo berkata pada ibu, 'udah ni bilang aja ada, untuk menyenangkannya. Supaya dia nanti tidak kecewa.' Ibu sebenarnya berat sekali untuk mengatakan, iya, karena memang tidak ada dana sepeserpun. Tapi, akhirnya ibu mengatakan iya, ada. Tanpa tahu harus berbuat apa, karena Makwo terus mendesak. Entah dari mana ibu akan mendapatkannya.

Sebenarnya ibu berharap agar Irwan tidak lulus dalam tes ke Mesir, karena masalah dana tadi. Tapi kenyataanya tidak sesuai dengan harapan ibu. Irwan lulus. Orang-orang bilang, ibu ini orang orang yang bodoh, karena mendo'akan anaknya gagal, 'mana ada orang tua yang mendo'akan anaknya gagal, yang ada itu mendo'akan agar anaknya sukses, gimana kamu ini sih.' Begitulah perkataan orang terhadap ibu.

Ibu sangat membenarkan apa yang mereka katakan, memang ibu akui, ibu ini adalah orang yang bodoh, mendo'akan anaknya gagal.

Waktu itu ibu tidak tahu harus berbuat apa, karena tidak ada dana, karena tidak ada sesuatu yang bisa dijual. Karena kalau irwan tidak lulus, tentu tidak jadi bahan pikiran Ayah da Ibu. Tapi, Allah bekehendak lain, Allah Maha tau apa yang terbaik buat hambanya. Dan itulah yang terbaik. Yang irwan jalani sekarang.

Akhirnya dengan membaca Basmalah Ayah-Ibu mulai segala usaha. Sebagaimana irwan lihat sendirikan sebelum berangkat dulu. Pagi-pagi nderes karet, siangnya pulang, kemudian pergi ketambang, pulang sampai tengah malam. Sekali seminggu buat makanan untuk dijual keliling desa dan PT Sawit. Dengan kerja demikian. Akhirnya, terkumpul sedikit dana. Sebagai tambahan Ayah-Ibu pinjam ke Bank dengan jaminan surat tanah rumah, juga bantuan dari sanak keluarga. Barulah terkumpul dana untuk irwan berangkat.

Ibu bercerita ini bukan bermaksud untuk menyebut-nyebut pengorbanan. Tapi, irwan tahu bagaimana proses irwan bisa sampai ke negri yang irwan impikan dan supaya bisa dijadikan cambuk bagi irwan untuk rajin belajar, 'beginilah orang tua saya mencari dana saya kuliah, akankah sya sia-siakan.' Ibu Cuma berpesan kepada irwan pandai-pandailah dalam memanfa'atkan kesempatan, jangan banyak bermain, rajin-rajinlah dalam belajar. insyaAllah Ayah dan Ibu akan selalu mendo'akan Irwan agar menjadi orang yang sukses.

Percakapan itu berakhir dengan bara yang menyala-nyala dalam dadaku. Memompa semangat yang menggebu makin menggebu. Aku takkkan sia-siakan pengorbanan ini, untuk bersantai atau bermalas-malasan.

Masih banyak misteri yang belum kuketahui.

04.13.00 | 0 komentar

Geliat Senja

Senja tiba. Malam bertamu. Gerbang siang tutup. Gelap semua. Matahari bersembunyi di barat meninggalkan kuning keemasan di cakrawala. Perlahan tapi pasti, kelam memeluk flat-flat yang menjulang. Aktifitas petani pun terhenti, kecuali sebagian yang masih berdiri menyiangi bibit padi. Anaknya tampak cekatan membantu.

Keledai berdiri malas, mondar-mandir, tak sabar untuk segera pulang beristirahat. Lelah, seharian bekerja membatu tuannya, mengangkut barsim –nama makanan hewan yang ditanam- atau sekedar mengantar hilir-mudik majikan.

Lampu jantung yang menggantung di tiang listrik, menyala, menyibak kelam yang jatuh. Burung pipit terbang mutar-mutar, mencari tempat tidur, salah satunya di lobang lampu balkon rumahku. Di pematang sawah, kuiihat cewek Mesir berbaju dan berjilbab biru dengan rok putih berbaur cokelat berjalan tergesa, mungkin takut malam mendekap.

Senja tiba. Malam bertamu. Gerbang siang tutup. Gelap semua. Matahari bersembunyi di barat meninggalkan kuning keemasan di cakrawala. Perlahan tapi pasti, kelam memeluk flat-flat yang menjulang. Aktifitas petani pun terhenti, kecuali sebagian yang masih berdiri menyiangi bibit padi. Anaknya tampak cekatan membantu.

Keledai berdiri malas, mondar-mandir, tak sabar untuk segera pulang beristirahat. Lelah, seharian bekerja membatu tuannya, mengangkut barsim –nama makanan hewan yang ditanam- atau sekedar mengantar hilir-mudik majikan.

Lampu jantung yang menggantung di tiang listrik, menyala, menyibak kelam yang jatuh. Burung pipit terbang mutar-mutar, mencari tempat tidur, salah satunya di lobang lampu balkon rumahku. Di pematang sawah, kuiihat cewek Mesir berbaju dan berjilbab biru dengan rok putih berbaur cokelat berjalan tergesa, mungkin takut malam mendekap.

Derai tawa sahabat-sahabat-ku yang sedang rileks pulang ujian al Quran menggema, mengisi rumah. Bercerita pengalaman lucu imtihan tadi, penulisan ayat yang mutar-mutar sampai gemetar-gemetar menahan air yang ingin ke luar.
Di bawah kuningnya langit, pesawat tempur meintas cepat meninggalkan garis putih memanjang. Di pojok timur sana, di samping flat-ku, mahasiswa Mesir duduk bercanda sambil menunggu maghrib tiba. Dibelakang tempat tinggal mereka, tegak univarsitas Zagazig, sebuah universitas kebanggaan propinsi bagian Timur ini. Sayup-sayup suara azan pun menggema, bertanda kehidupan siang berakhir, berganti kehidupan malam yang firman Allah “tempatnya beristirahat,” tempatnya mengumpulkan tenaga untuk aktivitas besok. Makanya kalau malam jangan begadang, agar siangnya tak meradang atau meriang.
Maka berakhirlah rekaman jejak senja ini.

“Dan Dia-lah yang menjadikan malam untukmu sebagai pakaian dan tidur untuk beristirahat. Dan Dia menjadikan siang tempat untuk bangkit berusaha. (Q.S. Al Furqan: 47)
04.09.00 | 0 komentar

Secarik Surat

Dear, Irwan...
Bagaimana keadaanmu di negeri orang sana? Masih betahkah? Semoga kau masih betah dan terus mengejar cita-citamu, seperti halnya nabi Musa yang akan terus mencari seseorang untuk belajar ilmu darinya, walau sampai bertahun-tahun. Atau seperti halnya imam Ahmad yang takkan berhenti berkelana meraup ilmu, sampai kubur memisahkan, semoga semangatmu seperti halnya mereka.

Irwan, terkadang tanpa kita sadari, kita seringkali tertipu oleh nafsu syaitan, menghancurkan semua mimpi dan cita-cita kita, semoga kau jadi orang tegar, seperti halnya nabi Yusuf yang tak terpedaya. Tentunya kau juga ingin seperti dia bukan? Oh, ya, Irwan, di kampung kita masyarakat sedang tersenyum bangga, tahukah kau kenapa? Selama kampung itu tegak, belum ada yang menginjakkan kakinya di luar negeri, belum ada tenaga pengajar yang asli penduduk sana. Pada masamu sekarang, kau telah memecahkan rekor itu, kau menggetarkan kampung kita. Yang lebih menggetarkan lagi, kau berasal dari keluarga yang sederhana atau menengah ke bawah. Kau lihat betapa banyak keluarga mampu yang hidup di atas rata-rata kita, tak ada anaknya yang sampai sekolah sejauh kau sekarang, paling banter, Padang, dan itupun telah kau taklukkan bukan? Namamu dikenal sekarang, setiap kata yang meluncur, namamu selalu terselip disela-sela obralan mereka.

Dan berita gembira juga untukmu, perlahan dari orang tua sudah mulai memasukkan anak-anaknya ke sekolah agama, tentunya berharap bisa sepertimu. Kalau masalah gadis, itu belum bisa aku ceritan padamu, nanti sajalah, yang jelas banyak menunggu kedatangmu.
Dear, Irwan...
Bagaimana keadaanmu di negeri orang sana? Masih betahkah? Semoga kau masih betah dan terus mengejar cita-citamu, seperti halnya nabi Musa yang akan terus mencari seseorang untuk belajar ilmu darinya, walau sampai bertahun-tahun. Atau seperti halnya imam Ahmad yang takkan berhenti berkelana meraup ilmu, sampai kubur memisahkan, semoga semangatmu seperti halnya mereka.Irwan, terkadang tanpa kita sadari, kita seringkali tertipu oleh nafsu syaitan, menghancurkan semua mimpi dan cita-cita kita, semoga kau jadi orang tegar, seperti halnya nabi Yusuf yang tak terpedaya. Tentunya kau juga ingin seperti dia bukan?

Oh, ya, Irwan, di kampung kita masyarakat sedang tersenyum bangga, tahukah kau kenapa? Selama kampung itu tegak, belum ada yang menginjakkan kakinya di luar negeri, belum ada tenaga pengajar yang asli penduduk sana. Pada masamu sekarang, kau telah memecahkan rekor itu, kau menggetarkan kampung kita. Yang lebih menggetarkan lagi, kau berasal dari keluarga yang sederhana atau menengah ke bawah. Kau lihat betapa banyak keluarga mampu yang hidup di atas rata-rata kita, tak ada anaknya yang sampai sekolah sejauh kau sekarang, paling banter, Padang, dan itupun telah kau taklukkan bukan? Namamu dikenal sekarang, setiap kata yang meluncur, namamu selalu terselip disela-sela obralan mereka. Dan berita gembira juga untukmu, perlahan dari orang tua sudah mulai memasukkan anak-anaknya ke sekolah agama, tentunya berharap bisa sepertimu. Kalau masalah gadis, itu belum bisa aku ceritan padamu, nanti sajalah, yang jelas banyak menunggu kedatangmu.

Irwan, setiap perjuangan tak berjalan mulus begitu saja. Aral-aral akan banyak melintang menghadangmu. Tak sedikit orang yang berguguran, tak tahan menahan cobaan. Terlebih coabaan itu datang dari dalam diri, ia musuh dalam selimut, kalau kau tidak hati-hati, kau bisa mati. Namun, tak jarang pula yang berhasil. Ketahuilah irwan, semua orang punya rintangan dan cobaan tersendiri dan semua orang berbeda pula dalam menyikapinya. Penyikapan itulah yang menjadi kunci. Sikap itu persimpangan jalan, salah arah, takkan pernah sampai tujuan. Kau lihat saja dalam pelayaran, satu centi saja meleset pada awalan, berkilo-kilo akan tersesat nantinya. Irwan sahabatku, langkah awal dalam memulai itu penting, jangan kau sampai salah dalam mengambil awalan, sebab bisa jadi kau akan patah-patah. Minimal tulang-tulangmu akan nyilu.

Irawan, masih ingatkah kau cerita ibu ketika kau sampai di Mesir. Dulu dana keberangkatanmu itu belum ada sepeser pun, padahal beberapa minggu lagi kau akan berangkat. Demi menyenangkan hatimu, beliau mengatakan "ada". Tahukah kau betapa pusingnya beliau setelah tiga huruf itu diucapkan. Kemana beliau akan mencari dana sebanyak yang kau minta. Tapi, beliau tetap yakin, kau pasti bisa mereka labuhkan di negeri yang bernama "Mesir". Ingatkah kau, kerja yang mereka lakukan, di luar kerja manusia biasa. Tak semua orang sanggup melakukan itu. Kenapa beliau sanggup, karena beliau memiliki tenaga dalam yang lahir dari semangat, yang lahir dari kebanggaan. Anaknya akan melanjutkan studi di negeri yang sangat jauh, negeri yang sering disebut namanya dalam al Qur'an, negeri yang para nabi banyak hidup di sana, negeri yang ulama banyak menghabiskan waktu di sana. Betapa bangganya mereka. Kebanggaan itulah yang melahirkan tenaga luar biasa. Tentunya kau tak lupa begitu sajakan, Wan. Kurasa dinding memorimu masih hangat dengan ukiran itu.

Irwan, betapa sayangnya ayah dan ibu padamu. Tak lupa mereka mengirimkan pesan-pesan singkat, menanyakan kondisimu. Mereka khawatir akan keadaanmu, apakah kamu sudah makan atau belum, apakah kamu masih ada uang atau tidak. Mereka takkan pernah bisa tidur nyenyak, andai kau sengsara di negeri orang sana. Untuk itu, mereka selalu berusaha keras mencukupi kebutuhanmu, agar belajarmu tak terganggu. Mereka hanya ingin kau belajar, mereka tak ingin belajarmu terganggu, terlebih karena berhari-hari tidak makan. Mereka tak ingin kau bekerja, yang banyak sedikitnya akan dapat menggesek waktu belajarmu. Betapa perhatian sekali mereka padamu. Beruntung sekali kau punya orang tua seperti mereka. Mereka memang tidak punya banyak harta, tapi mereka kaya kasih sayang dan cinta. Dan itu melebihi semuanya. Dengan itu semua rasulullah membina keluarganya, beliau tidakmeninggalkan harta benda, beliau hanya meninggalkan kasih sayang dan cinta. Dengan semua itu kita akan saling melengkapi satu sama lain. Akan saling bantu membantu, pikul memikul. Atau pepatahnya, "berat sama dipikul, ringan sama dijinjing". Betapa indahnya kasih sayang, wan.

Irwan, fluktuatif itu sebagai manusia tentunya ada, kecuali para malaikat dan nabi, down-nya semangatmu dalam belajar dan ibadah, jangan sampai membuatmu jatuh terlalu dalam. Berusahalah terus untuk bangkit. Jangan sampai tembakanmu pada target meleset. Gabungkanlah baramu yang padam itu dengan mereka yang masih menyala. Domba-domba itu akan mudah dimakan serigala dikala ia sendirian. Kau ingatlah semua itu. Kau tentunya tak ingin keringat orang tuamu kering dengan percuma. Ingat, wan! Mati-matian mereka bekerja. Entah bagaimana kondisi badan mereka sekarang. Apakah masih sekencang dulu kulitnya. Apakah masih sekuning dulu kulitnya.

Irwan, terkadang ketidak tekunan kita pada sesuatu sering kali menggores penyesalan. Terlebih di depan mata ada hal yang kita pernah belajar tentangnya, tapi kita tidak sanggup merangkai kata menjelaskan. Untuk itu irwan, tekunlah, perdalamlah sesuatu itu sampai engkau benar-benar paham, jangan hanya sepotong-potong. Karena potongan-potongan itu akan membingungkan orang. Akan membuatmu dalam keraguan.

Irwan, hati-hatilah, syaitan itu ada di depan-belakang, kiri-kananmu. Dan dia telah berjanji untuk menyesatkan manusia sampai hari kiamat nanti. Waspadalah kau dengan tipu dayanya. Ingat! ia hanya penipu, setelah kau jatuh, ia akan membiarkanmu mengerang kesakitan. Juga kau harus ingat, syaitan itu hanyalah makhluk lemah, kata Allah, kau bisa mengalahkannya, dengan cara apa, tentunya dengan cara selalu mendekatkan diri pada-Nya. Semakin dekat kau, semakin tak berkutik ia. Dekatkanlah selalu dirimu pada-Nya, tingkatkan terus amal ibadahmu. Amalkan apa yang telah kau pelajari. Ingatkah kau perkataannya Abu Darda', "tidak ada hal yang lebih aku takutkan ketika ditanya di akhirat nanti melainkan sesuatu yang aku ketahui, tapi aku tidak mengamalkannya." Ingat, wan, jangan sampai ilmu itu jadi bumerang bagimu.

Terakhir, selamat berjuang, kami akan selalu mendoakanmu, semoga kau berhasil menggapai apa yang kau cita-citakan. Amiin...
04.04.00 | 1 komentar
Share photos on twitter with Twitpic

Bersama ikhwah memenuhi undangan orang Mesir

Orang kaya sedang beerfose. (Hihihi... gak malu)

Menggaya saja, biar dibilang keren. Hahaha...

Makan sate bareng konco-konco. Walau mahasiswa, kita gak kalah saing ya sama emak-emak. Hahaha... kita..?? Lu aja kali...!@#$%
Share photos on twitter with Twitpic

Jelajahi

Share photos on twitter with Twitpic

Tentang Seseorang

Foto saya
Seorang sosok yang ingin di atas biasa orang. Tapi seringkali tertinggal oleh kereta yang merangkak. Sering tenggelam oleh gerimis penggal malam. Dan selalu tegak, namun tak kalah cepat dari keong. Tetap optimis, karena gerimis sepenggal malam takkan menenggelamkan gunung menjulang.

Arsipan

Total Tayangan Halaman

free counters

Makan sate bareng di hari lebaran