Assalamu'alaikum...,  Ahlan Wasahlan |  sign in  |  

Ahlan...

Sebuah blog untuk mengekspresikan diri. Manampung tetes pikiran yang jatuh. Sebuah parit kata, yang merayap dari celah jiwa. Sebuah bejana penyambut derai-derai inspirasi. Di sini dicoba untuk dieja. Kali saja menjadi huruf yang bisa dibaca. Menjelma alenia, membentuk cerita. Kalaupun berupa coretan tak berbentuk, mohon seka raut yang berluluk. Biar cerah. Dan jahitkan saku yang masih melambai. Karena aku sosok yang tak luput dari alpa. Thank's!


Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Pudarnya Pesona Ukhuwah

Written By rumah karya on Minggu, 12 Februari 2012 | 11.48.00

Faktor kepentingan terkadang membuat sekat yang jauh dan menenggelamkan rasa empati. Saling cubit dan toyol. Saling geol dan senggol. Dan saling sikut dan gigit. Dalam ranah politik, ini terang terlihat. Menjadi lumrah dan biasa, karena memang tujuan dan kepentingan yang berbeda. Dan untuk mencapi misi, beragam cara dirakit. Terkadang masuk akal. Terkadang tak tertangkap nalar pikiran.

Begitu juga dalam dunia sepakbola. Keinginan untuk menjadi tim terbaik mengharuskan bekerja maksimal. Latihan ekstra. Disiplin. Serta kompak. Ini cara sehat yang bisa diterima. Mengherankan ketika skor pertandingan ikut diatur agar bisa menjadi jawara. Tidak sportif. Pada setiap pertandingan, tentunya ada yang kalah dan menang. Ini biasa. Dan menjadi tidak biasa ketika tidak bisa menerima kekalahan, bahkan sampai tawuran. Ini bisa kita lihat pada sepakbola tanah air. Acapkali pertandingan menjadi ajang lempar-lemparan. Menyedihkan.

Atau mungkin kita masih ingat keributan antara Mesir dan Aljazair pada kualifikasi piala dunia yang diadakan di Afrika Selatan pada tahun 2010 silam. Mesir tidak lolos. Pesaing beratnya di wilayah regional, Aljazair, berhasil menghentikan laju langkah mereka dengan skor tipis 1-0 dalam suatu babak play-off di Sudan, setelah kedua tim bersaing ketat dengan memperoleh poin yang sama. Sebelum play-off di Sudan, Mesir telah memprotes ketika suporter Aljazair menghancurkan markas besar perusahaan telekomunikasi Mesir Oroscom Telecom Dzejjy. Mobile. Mesir menang 2-0 atas Aljazair pada pertandingan yang diadakan di Kairo tersebut.

Sebelum itu, pemerintah Aljazair dibuat kesal setelah suporter Mesir melempari bis yang ditumpangi tim nasional Aljazair dengan batu. Beberapa suporter terluka pada laga kualifikasi di Kairo itu.

Itu mending hanya luka-luka. Kalau sudah menimbulakan korban jiwa, ini baru dilema. Seperti yang terjadi di Port Said pada 1 Februari 2012 lalu. Petaka yang menelan tujuh puluh empat nyawa ini menyita perhatian penduduk dunia. Setiap orang yang bersentuhan dengan media, dapat memelototkan mata menyaksikan.
Semua berawal ketika tim sepakbola Al Masri menjamu tim sepakbola papan atas Al Ahly. Pertemuan ini mengantarkan Al Masri sebagai pemenang dengan skor 3-1. Sebuah catatan yang jarang terjadi. Adalah suatu kebanggaan ketika bisa mengalahkan tim superior semisal Al Ahly. Sayang, bukannya kebahagiaan yang meluap. Tapi justru kekerasan yang muncul. Tiba-tiba ratusan suporter Al Masri masuk ke dalam lapangan, bukan merayakan kemenangan, namun mengejar pemain Al Ahly. Seperti yang terekam dalam video, suporter Al Masri tampak turun dari tribun, memukuli pemain Al Ahli. Ratusan suporter lainnya terinjak-injak dan luka-luka, 74 orang berakhir nestapa. Presiden FIFA –induk organisasi sepakbola dunia-, Blatter, menyebut tragedi ini sebagai peristiwa kelam dalam sepakbola.

Dari serangkain peristiwa di atas, saya tidak menyoal sepakbola sebagai penyebab kerusuhan dan perpecahan. Karena kerusuhan bisa terjadi apapun sarananya. Entah karena bidang tanah. Entah sebab harta benda. Saya teringat ketika kecil dahulu, bagaimana masalah sepele pemuda merambah tawuran antar desa. Masalah kelompok atau oknum berakibat perang antar kecamatan.

Tapi yang kita tilik di sini adalah suporter yang miskin nilai perikemanusiaan. Tak memikirkan akibat dari perbuatan mereka. Dan lebih mengedepankan ego serta emosi. Klub yang didenda. Atau pemain yang cedera akibat lemparan-lemparan, tak lepas dari ulah mereka. Menyedihkan. Terlebih ketika suporter itu muslim. Dan yang menyerang juga muslim. Ini lebih menyakitkan lagi.
Sepakbola hanyalah sebuah permainan, bukan medan jihad yang harus menumpahkan darah dengan mengacungkan senjata. Seharusnya kita bersatu membangun islam dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, terutama nilai ukhuwah. Jangan hanya dijadikan sebagai pajangan belaka, hingga ia membusuk diantara deretan pikiran yang tak terbentuk, karena tak kunjung diamalakan. Menjaga diri dari serigala-serigala yang siap menerkam kapan saja adalah keharusan.

Selaku suporter arif bijaksana, cukup menjadikan sepakbola sebagai hiburan dan media silaturhim yang menyegarkan pikiran dari tumpukan-tumpakan masalah. Jangan ciptakan ia sebagai ajang permusuhan. Kalau menang, jangan menghina. Kalau kalah, cukup sekedar kecewa saja, tak usah mengumbar amarah.

Sepakbola ibarat mata pisau yang kegunaanya tergantung yang memakai. Bahkan kalau dimanfaatkan dengan maksimal, sepakbola bisa menjadi lem perekat ukhuwah antar pemain, sesama suporter. Suporter yang dimaksud di sini adalah yang beragama islam.

Aplikasi dari teori sangat urgen dalam menjaga tindak tanduk. Tidak berbuat, kecuali tahu resiko dan akibat. Memahami bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap muslim lainnya. Tentunya kita tidak asing dengan hadis rasulullah Saw. yang mengatakan umat islam itu satu tubuh. Dari Aliyah kita sering mendengarnya, bahkan mungkin Tsanawiyah. Ketika satu jiwa mengeluh karena sakit, maka yang lainnya pun ikut merasa, sebuah analogi tentang umat islam dari rasulullah Saw.. Satu sama lain adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, bahkan tidak sempurna keimanan ketika kecintaan terhadap saudara tak seperti cinta pada diri sendiri. Yang menjadi pertanyaan, seberapa jauh kita telah mengamalkannya. Jangan-jangan dia hanya menjadi pajangan belaka dalam bak pikiran.

Ukhuwah merupakan sebuah anugerah yang yang patut kita sukuri dan mesti dijaga keutuhannya. Ia adalah kekuatan yang mampu mengangkat beratnya beban. Sukarnya persoalan. Dan rumitnya permasalahan. Hubungan yang mengalir dalam nadi pelakunya semata-mata karena Allah. Ia kental. Lebih intim dari hubungan nasab. Walau satu naungan dalam rahim, namun berbeda tempat berdiri ketika lahir. Tetap kedekatan sesama muslim lebih mulia. Kita bisa melihat sebuah sikap yang tercermin dari sahabat Mush’ab bin Umair terhadap saudara kandungnya Abu Aziz bin Umair, disaat saudara kandungnya itu menjadi tawanan perang Badar. “Perkuat ikatannya! Ibunya seorang yang kaya raya. Siapa tahu ibunya akan menebus anaknya dengan tawaran yang tinggi” Pinta Mush’ab kepada sahabat Anshar yang menawannya.
Ucapan Mush’ab ini membuat kaget saudaranya. Seseorang yang diharapkan bantuannya, malah membiarkan ia tertawan. “Beginikah caramu memperlakukan saudara kandungmu?‘ Geram Abu Aziz.
“Kamu bukan saudaraku. Tapi orang yang menahanmu itulah saudaraku!” Jawab Mush’ab bin Umair tegas.

Inilah sikap yang ditunjukkan Mus’ab bin Umair. Cinta yang ia labuhkan buat saudara seimannya lebih besar dan kokoh ketimbang cinta pada saudara kandung, karena memang dengan saudara seaqidah inilah ia akan dapat tolong menolong dalam kebaikan dan kesabaran. Serta berlomba-lomba dalam setiap kebajikan.

Banyak ayat dan hadis yang menerangkan bagaimana sikap seorang saudara terhadap yang lainnya, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah. Dan jangan bercerai- berai.” (Q.S. Ali ‘Imran : 103). Dalam hadis qudsi Allah berfirman, “Wahai hambaku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezholiman terhadap diri-Ku, dan menjadikannya haram diantara kalian. Oleh sebab itu, janganlah kalian saling menzholimi,” (HR. Muslim). Atau dalam hadis lain, “Janganlah kalian saling mendengki, saling bersaing dalam penawaran, saling membenci dan saling membelakangi. Dan janganlah sebagian kalian membeli belian bagian yang lain. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim terhadap muslim lainnya adalah saudara." (HR. Muslim)
Dan banyak ayat dan hadis lainnya.

Maka rasululullah Saw. dan para sahabat adalah sebaik-baik tauladan yang telah mengamalkan apa yang Allah dan rasul-Nya ajarkan. Semoga rasa ukhuwah ini tertanam dalam diri kita, umta islam. Dengan demikian, kita takkan mudah terprovokasi oleh hal-hal yang hanya akan merusak persaudaraan. Dan pesona ukhuwah akan tetap berkibar dengan gagah di jagad raya. Wallahua’lam.
(Udo Iwan)
11.48.00 | 0 komentar

Merajut Indahnya Persaudaraan

Written By rumah karya on Selasa, 20 September 2011 | 16.16.00

Ada sebuah kekuatan yang meretas pada saat Rasulullah Saw. masih hidup dan kekuatan itu kemudian menjalar pada jiwa-jiwa sahabat. Yang saya maksudkan adalah kekuatan persaudaraan seperti yang ditunjukkan secara sempurna oleh penduduk di Kota Madinah, kaum Anshar, terhadap orang-orang pendatang yang terusir dari Kota Makkah, kaum Muhajirin. Orang-orang Anshar dengan hati lapang dan penuh keikhlasan membantu saudara-saudaranya dari Makkah. Mereka siap membagi apa pun yang mereka miliki demi meringankan penderitaan kaum Muhajirin. Bahkan, Sa’ad bin Rabi’ dari Anshar selain membagi harta, juga menawarkan istrinya pada Abdurrahman bin ‘Auf yang Muhajirin.

Refleksi persaudaraan yang juga ditunjukkan Umar bin Khattab saat ia teringat salah satu sahabatnya. Hati Umar gelisah menahan rindu ingin bertemu sahabat itu. Cerita tentang kegelisahan Umar terdapat dalam riwayat Imam Ahmad dalam kitab Az-Zuhud, bahwa pada suatu malam Umar merasa ada yang kurang, “Mengapa malam terasa begitu panjang?”, gumam Umar. Setelah menunaikan salat Subuh, ia langsung mengunjungi sahabat yang ia rindukan itu. Ketika bersua, Umar merangkulnya erat, seakan enggan berpisah.

Ukhuwah yang teretas di masa Rasul itu adalah bentuk persaudaraan yang didorong oleh kekuatan cinta yang diikat karena iman kepada Allah. Dari sanalah kekuatan ukhuwah itu memekar. Dengan ukhuwah maka hidup menjadi lebih berarti, saling mengasihi satu sama lain, saling meringankan beratnya beban, saling membantu yang membutuhkan dan melegakan yang resah.

Seperti yang tergambar dalam suatu kisah, ketika seorang laki-laki datang pada Rasulullah Saw. seraya berkata “Wahai Rasulullah, saat ini saya dalam kesusahan”, ujar laki-laki itu mengadukan nasibnya. Kemudian dia diminta mendatangi rumah istri-istri Nabi Saw., namun ia tidak menemukan bantuan, karena mereka juga tidak memiliki apa-apa. Rasulullah Saw. menawarkan kepada para sahabat perihal kondisi orang itu, “Adakah yang mau menjamunya malam ini? Semoga Allah merahmatinya”, tawar Rasulullah Saw., “Saya wahai Rasulullah,” jawab Abu Thalhah Al-Anshory. Ia lantas membawa tamu tersebut ke rumahnya, sesampainya di rumah ia meminta istrinya menyiapkan jamuan makan. “Ini tamu Rasulullah Saw., sediakan jamuan untuknya dan jangan disisakan,” bisik Abu Thalhah ke telinga istrinya. “Tapi kita tidak punya makanan apapun kecuali makanan untuk anak-anak,” istri Thalhah menimpali. “Jika anak-anak minta makan, ajaklah mereka tidur. Lalu matikan lampu. Biarlah kita sekeluarga lapar malam ini“.

Sikap Abu Thalhah keesokan harinya mendapat apresiasi Rasulullah, padahal beliau sendiri sama sekali tidak berniat untuk memperoleh pujian karena menjamu tamu tadi malam. Tentu saja, apa yang dilakukan oleh Abu Thalhah adalah sebuah cerminan tentang persaudaraan yang telah memupus keegoan diri. Berganti dengan sikap untuk selalu mengedepankan kepentingan orang lain ketimbang kebutuhan diri sendiri. Model persaudaraan seperti itulah yang menjadi acuan kita dalam membina hubungan baik dengan orang lain, apalagi dengan saudara kita yang seakidah.


Memotret Realitas Ukhuwah di Mesir

Makna persaudaraan yang saya rasakan di Cairo berlahan seakan memudar, barangkali pudarnya ukhuwah itu akibat digerus oleh sikap ingin selalu mementingkan diri sendiri. Walaupun deskripsi ini masih sebagai simpulan subyektif penulis sendiri yang barangkali akan berbeda dengan simpulan orang lain. Malah, terkadang saya mencoba menghibur diri dengan interpretasi baru menyamakan kondisi yang terjadi dengan keadaan Islam di akhir jaman. Dimana agama ini akan menjadi sesuatu yang asing dan mulai ditinggalkan oleh orang-orang. Maka, makna persaudaraan atas nama Islam juga kemudian terasa menjadi asing, bisa disebabkan oleh perilaku orang-orang muslim sendiri yang mulai mengabaikan nasib saudaranya.

Kehadiran saudara atau teman ketika kita berada jauh dari tanah air menjadi sangat berarti. Kehadiran mereka akan mengganti posisi keluarga yang kini sangat jauh di mata. Dengan begitu kita ingin membina jalinan persaudaraan yang tidak lagi tersekat oleh batas teritorial atau kedaerahan. Hubungan ukhuwah yang kita bina menembus semua sekat yang memagar. Kita mengumpul bersama dalam sebuah naungan dan jalinan persaudaraan atas nama Islam, sebagaimana dulu di masa Baginda Rasulullah. Itu karena persaudaraan dalam Islam tidak mengenal batas apa pun. Saya melihat sebagian persaudaraan yang kita bina masih memprioritaskan unsur teritorial. Unsur itulah yang mengakibatkan sebagian kita sedikit enggan membantu saudaranya yang lain. Malah, terkadang yang sesama teritorial juga sudah tidak saling membantu.

Menurut saya ini akan menjadi kontras apabila kita mencoba merenungi bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia yang berada di Cairo menuntut ilmu agama di Al-Azhar. Al-Azhar sendiri merupakan corong ilmu-ilmu keislaman yang seharusnya bisa menjadi pendorong utama untuk mengaplikasikan makna ukhuwah. Kita pun tidak menginginkan apabila muatan ilmu yang kita peroleh tentang persaudaraan hanya mengerucut sebagai teori belaka, tanpa menghadirkan perwujudan realitas yang kita idam-idamkan mengenai tuntutan persaudaraan dalam Islam.

Apalagi disini, jika kita mau belajar dengan baik, banyak sekali terdapat ulama dan buku-buku Islam yang menjelaskan tentang makna ukhuwah. Bukankah model ilmu aplikatif yang kita obsesikan akan kita tularkan ke masyarakat Indonesia nanti? Dengan adanya berbagai delegasi dari seluruh nusantara di Cairo ini, seharusnya bisa menjembatani bakal teretasnya persaudaraan yang lebih utuh. Tidak malah membuat jurang pemisah yang lebar dengan menumbuhkan fanatisme terhadap hal-hal yang dilarang oleh Islam sendiri. Persaudaraan yang tidak lagi terbatas oleh sekat teritorial, namun telah beranjak kepada ukhuwah yang memiliki kandungan makna yang lebih tinggi, yaitu persaudaraan karena Islam.

Dari sinilah Persaudaraan Dibina

Melihat besarnya jumlah mahasiswa yang menuntut ilmu di Mesir ini, dan untuk memudahkan komunikasi dengan berbagai lapisan yang beragam, sudah sangat patut kemudian didirikan berbagai wadah untuk menyatukan. Dari PPMI sebagai organisasi induk, kekeluargaan, dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di setiap propinsi di Mesir. Setiap wadah memiliki tanggungjawab untuk memperhatikan kondisi saudaranya di lingkungan masing-masing dengan menggunakan berbagai macam sarana kegiatan.

Walaupun diakui bahwa kekeluargaan secara tidak langsung memang membuat sekat yang membatasi komunikasi dengan organisasi kedaerahan yang lain. Di mana satu kekeluargaan, anggotanya biasanya hanya akan berkomunikasi aktif dengan anggota kekeluargaannya saja. Komunikasi dengan anggota kekeluargaan yang lain sedikit renggang. Hal ini barangkali disebabkan karena intentitas pertemuaan yang sedikit. Berbeda halnya dengan DPD, hampir semua lapisan masyarakat dapat menyatu dalam satu kesatuan. Hal itu mungkin disebabkan jumlah anggota yang sedikit dan tingkat pertemuan yang lebih banyak yang mengharuskan setiap orang harus melebur dengan orang lain.

Namun, sebenarnya itu bukanlah suatu polemik, jika kita mau mengamalkan perintah Rasulullah Saw. Model amal yang mudah untuk dilaksanakan. Tidak menjadi persoalan apakah kemudian kita tersekat oleh ragam organisasi, tetapi semua bentuk itu hanya formalitas. Sebab, kita lebih disatukan oleh jalinan yang lebih erat ketimbang jalinan-jalinan itu tadi. Amal yang saya maksud adalah silaturrahim. Silaturrahim ini begitu mudah akan mendekatkan hati-hati kita yang jauh. Sebab, kadang kala komunikasi yang tidak aktif sering merenggangkan hubungan. Walaupun juga bukan berarti orang yang sering mengadakan komunikasi tidak rentan oleh permasalahan. Hanya intinya memang, kita ingin kembali membina jalinan erat persaudaraan melalui silaturahmi yang pernah diajarkan nilai-nilai agungnya oleh Rasulullah Saw., dan para sahabat.

Di salah satu hadis, Rasul pernah bertanya: “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan puasa?" "Tentu wahai rasulullah," jawab para sahabat. Beliau menjelaskan, "Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah …. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturrahim." (HR. Bukhari Muslim).

Dari sinilah persaudaraan dibina. Dari silaturrahim yang bisa membuka rahmat dan pertolongan Allah Swt. Dengan terhubungnya silaturrahim, maka Insya Allah persaudaraan Islam akan terjalin baik. Namun sebaliknya, rahmat dan kasih sayang Allah akan menjauh, bila tali silaturrahim telah terpenggal. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Tahukan kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan atau keburukan? Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah balasan (pahala) orang yang berbuat baik dan menyambungkan tali silaturrahim. Sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan adalah balasan (siksaan) bagi orang yang berbuat jahat dan memutuskan tali silaturrahim.” (H.R Ibnu Majah). Wallahu a’lam. (Udo Iwan)
16.16.00 | 0 komentar

Sepenggal Cerita

Written By rumah karya on Selasa, 12 Oktober 2010 | 10.44.00

Terjaga! Tidur panjang selesai. Bangkit! Itulah yang harus dilakukan. Bekerja! Itulah yang harus dilaksanakan. Bergerak itulah tugas. Kini, bukan saatnya mematung, atau menatap kosong awang. Episod itu sudah jauh, sudah berganti dengan episod baru, sebuah episod dramatis, di mana di episod ini, kegigihan serta keuletan diuji.

Tonggak kesabaran didrobak. Musim panas mungkin musim yang ditunggu-tunggu. Sebab, di musim ini, segala geliat perkuliahan berhenti. Sesuatu yang beraroma kampus, di babat. Berubah kelegaan. Tak dinyana, lenyap sudah derita. Begadang melibas muqarrar, padam. Percikan fres menjelma pelita. Terang. Semua jelas. Kabut tebal raib. Fokus tak lagi pada satu titik muqarrar. Banyak hal sekarang yang bisa diraup. Tak semata muqarrar yang terkadang buat urat-urat syaraf melingkar-lingkar, pusing, belajar terlalu dipanjat.

Merdeka! Bekas! Sandangan pundak berserak. Bercecer jadi kerak-kerak lunak, melebur dengan tanah. Tak terlihat lagi beban ujian. Sekarang sudah bisa tersenyum. Saling sapa sesama. Menyeruak dari rumah. Ziarah. "Gimana ujiannya…??" sudah bisa saling tegur. Gembok-gembok kamar dirantai dalam museum, god by, tak lagi berguna. Dilirik ketika bayang-bayang ujian melambai.

Sebuah fenomena unik. Seperti jangkrik dalam cerita, menderita. Tak bergerak ketika kesempatan ditangan. Tertawa melihat semut yang tertatih-tatih mengisi gudang. Setelah kesempatan itu menjadi angin, terkejut. Terlambat. Kini, hanya bisa Menatap kosong. Semut menikmati musim dingin dengan sejuta bekal. Sementara semut mati kedinginan dengan lapar menari-nari. Itu mungkin sepenggal cerita ketika ujian tiba. Terutam yang aku rasa.
10.44.00 | 0 komentar

Sportivitas

Written By rumah karya on Sabtu, 09 Oktober 2010 | 16.19.00

Gesekan waktu selalunya membawa pada perubahan. Pesawat yang dahulu tidak ada, kini dengan racikan super canggih, besi bisa terbang di udara. Besi bisa berjalan memanjang dengan teknik rakit super hebat. Kapal bisa mengapung dengan pola yang tak terpikirkan manusia baheulak. Semuanya maju, karena memang skenario dunia tidak menggunakan flashback seperti di film atau sinetron. Inilah kehidupan nyata. Bebas dari campur tangan manusia. Yang kesemua cerita telah diatur yang Maha Kuasa. Siapa yang antagonis dan sipa yang protagonis. Siapa yang happy ending. Dan siapa yang sad ending. Semua telah diatur tanpa tambalan, tanpa ada kekurangan. Close shot yang kurang pas, montage shot yang kacau, angle on yang kurang mantap atau juga point of view yang tak cocok. Perfect. Semua imtiyaz.
Begitu juga dengan pergantian pada setiap scene kehidupan. Semuanya memiliki masa, masa tenar seperti fir’aun si durhaka yang Allah abadikan dalam firman-Nya. Cerita Qarun di dinding sejarah manusia yang tenggelam bersama harta dan jiwanya. Kaum saba’ yang Allah abadikan dalam Al-Quran kesombongannya. Setiap generasi bisa memelototkan mata membaca kisah mereka. Atau geleng-geleng kepala tak menyangka. Bagaimana dulu terjadi malapetaka.

Setiap antagonis memiliki akhir kisah yang berbeda. Terkadang bahagia, seperti pelacur yang memberi minum seekor anjing. Allah masukkan ke Surga. Terkadang juga merana, seperti Fir’aun dan rekan-rekannya yang durhaka. Allah campakkan ke Neraka yang menyala-nyala.

Semua memiliki masa, masa kejayaan berlimpah nikmat, nabi Sulaiman misalnya. Lautan, bumi dan udara semua di bawah kendali. Pasukannya tak tersapu mata. Manusia, jin dan hewan tunduk di bawah titah. Sebuah masa yang Allah pahat dalam firman-Nya. Subhanallah!

Begitu juga dengan episode pemerintahan. Menggelinding dan terus menggelinding. Dari semenjak kita belum menginjakkan kaki di Zagazig ini, sampai kini kita pelakon ataupun bintang yang akan memainkan peran masing-masing. Siapa pemerintah dan siapa rakyat. Kitalah aktor. Siapa antagonis dan siapa protagonis. Siapa yang aktif dan siapa pasif. Sekaranglah babak itu dimulai. Di babak ini, estapet itu menyambung kembali. Melanjutkan program-program dahulu. Menambal sobekan-sobekan baju. Dan tentunya kita harus lebih maju dari pendahulu. Seperti halnya zaman yang melesat-lesat bagai anak panah. Cepat berganti. Tak terasa. Tiba-tiba kita telah sampai di gerbang rumah. Dengan menggagas ide-ide baru, karena kita adalah pembaharu. Membuat inovasi-inovasi. Gebrakan-gebrakan anyar. Mempekatkan warna-warna yang buram oleh zaman. Dan kesemuanya bisa tercipta dengan kerjasama.

Di episode ini kembali kita belajar untuk hidup bersosial. Hidup untuk orang lain. Hidup bagaimana memberikan manfaat, karna itu sebaik-baik umat –manusia-. Miris! Ketika rakyat tidak memilik simpati pada pemerintahan. Bisa dihitung jari ketahanannya berdiri. Tak ubahnya bangunan tanpa tiang. Atap-atap kegiatan hanya menjadi pajangan belaka. Tanpa bisa memberi keteduhan pada pemilik rumah. Percuma pondasi dan dinding kalau tidak bisa bernaung. Sia-sia biaya yang dikeluarkan, kalau tiada memberi pencerahan.

Selayaknya bagi masyarakat yang diberikan haknya, untuk menunaikan kewajiban. Ketika ada sesuatu berupa musa’adah, informasi atau pelayanan kita tak pernah ditinggalkan. Selalu didahulukan. Sebagai orang yang mengerti mana hak dan kewajiban, sudah sepatutnya untuk meletakkan mana yang harus ditaruh dan mana yang harus ditinggalkan.

Perlu direnungkan, DPD adalah fasilitator. Perpanjangan tangan dari pada kita. Membantu segala urusan. Menjawab beragam pertanyaan. Memberi solusi permasalahan. Menaungi rakyatnya, menyatukan semua dalam sebuah kesatuan. Sebagai orang yang tahu berterima kasih, sepatutnya meramaikan kegiatan-kegiatan. Jangan hanya ada ketika musa'adah. Ketika ada acara, minggat. Jangan hanya hak yang dituntut. Ketika tidak dapat ini, berorasi. Bicara sana-sini. Seakan hilang kepedulian. Dan kewajiban enggan dijalankan. Jadilah masyarakat yang memiliki sportivitas. Ketika diminta bantuan datang, ketika ditelpon menjawab. Ketika ada acara, ramaikan. Dengan demikian simbiosis mutualisme tercipta. Jangan hanya diam membantu. Menuntut ini itu ketika tak sesua selera. Ketika diminta pertimbangan, masukan dan saran, enggan.

Kalau bukan kita yang akan mensukseskan setiap program DPD, siapa lagi. Tidak mungkin kita berharap pada burung yang terbang.. Tidak mungkin kita meminta masyarakat di luar sana untuk selalu hadir. Sedang kita, duduk diam. Berendam di dasar laut tanpa memperlihatkan raut. Ini juga mungkin suatu penyakit, ketika ada acara sedikit. Ketika ada musa’adah berhimpit-himpit. Semua keluar dari persembunyian yang paling sunyi, hatta tak terdeteksi nyamuk dan kepinding. Membludak. Andai setiap acara DPD demikian. Waw! luar biasa. Ide-ide akan berseliweran. Lalu lalang. Tidak lagi pusing mencari apa, bagaimana dan siapa. Tapi bingung memilah yang mana. Saking meimpah ruah. Dengan demikian celah-celah akan tertutupi. Lobang-lobang akan tertimbun. Buah baju akan terpasang. Dan tak lagi ada tuntutan karena semua sesuai kehendak. Karena semua bergerak. Karena tetes pikiran tumpah. Itulah tack and give. Masyarakat memberi ide. DPD menerima masukan. Dengan demikian terciptalah sportivitas. Saling melengkapi. Menerima dan memberi.

Sportivitas sangat urgen dalam setiap tindak tanduk kita. Tanpa adanya sportivitas, maka akan seperti dalam sepak bola Indonesia, yang selalu dikhiri dengan tawuran masa. Ketika hak kita tidak diberikan tentunya bisa dituntut. Lalu bagaimana ketika kewajiban kita tidak dilaksanakan. Apakah terjadi tawuran. Tentunya tidak! Tapi yang terjadi adalah ketimpangan. Dan itulah yang akan melanda DPD ini. Jikalau sportivitas itu lenyap.

Marilah kita tancapkan sportivitas itu dalam diri. Dengan demikian tanpa perlu dipanggil kita akan datang. Tanpa perlu di komando kita akan bergerak hanya dengan melihat gejala-gejala masalah. Keseimbangan akan terjadi. Dan DPD kita akan terus maju dengan inovasi-inovasi jitu. Wallau a’lam
16.19.00 | 0 komentar
Share photos on twitter with Twitpic

Bersama ikhwah memenuhi undangan orang Mesir

Orang kaya sedang beerfose. (Hihihi... gak malu)

Menggaya saja, biar dibilang keren. Hahaha...

Makan sate bareng konco-konco. Walau mahasiswa, kita gak kalah saing ya sama emak-emak. Hahaha... kita..?? Lu aja kali...!@#$%
Share photos on twitter with Twitpic

Jelajahi

Share photos on twitter with Twitpic

Tentang Seseorang

Foto saya
Seorang sosok yang ingin di atas biasa orang. Tapi seringkali tertinggal oleh kereta yang merangkak. Sering tenggelam oleh gerimis penggal malam. Dan selalu tegak, namun tak kalah cepat dari keong. Tetap optimis, karena gerimis sepenggal malam takkan menenggelamkan gunung menjulang.

Arsipan

Total Tayangan Halaman

free counters

Makan sate bareng di hari lebaran