Assalamu'alaikum...,  Ahlan Wasahlan |  sign in  |  

Ahlan...

Sebuah blog untuk mengekspresikan diri. Manampung tetes pikiran yang jatuh. Sebuah parit kata, yang merayap dari celah jiwa. Sebuah bejana penyambut derai-derai inspirasi. Di sini dicoba untuk dieja. Kali saja menjadi huruf yang bisa dibaca. Menjelma alenia, membentuk cerita. Kalaupun berupa coretan tak berbentuk, mohon seka raut yang berluluk. Biar cerah. Dan jahitkan saku yang masih melambai. Karena aku sosok yang tak luput dari alpa. Thank's!


Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan

Dajjal; Fitnah Akhir Zaman

Written By rumah karya on Rabu, 21 September 2011 | 13.56.00

Syaikhul islam ibnu hajar mengatakan:dinamakn dengan dajjal karena ia menutupi kebenaran dengan kebathilan nya.

Hadis Huzaifah r.a katanya: Rasulullah s.a.w. telah bersabda: Dajjal ialah orang yang buta sebelah matanya, lebat (gondrong) rambutnya serta dia mempunyai Syurga dan Neraka. Nerakanya itu merupakan Syurga dan Syurganya itu adalah Neraka (Hadis Sahih Muslim)

Ada beberapa ciri dan sifat Dajjal yg disebutkan dalam Hadis Rasulullah S.a.w, diantaranya: Seorang yg kelihatannya masih muda, berbadan besar dan agak kemerah-merahan, rambutnya kerinting dan tebal. Kelihatan dari belakang seolah-olah dahan kayu yg rimbun.

Dan tandanya yg paling ketara sekali ada dua;
Pertama: Buta mata kirinya dan kelihatan seperti buah kismis yg kecut, manakala mata kanannya tertonjol keluar kehijau-hijauan berkelip-kelip laksana bintang.
Kedua: Tertulis diantara dua matanya tulisan “Kafir (Kaf-Fa-Ra)”. Tulisan ini dapat dibaca oleh setiap org Islam, sama ada ia pandai membaca atau tidak. hadis riwayat At-Thabrani, kedua-dua tanda ini menjelma dalam diri Dajjal setelah ia mengaku sebagai Tuhan. Adapun sebelum itu, kedua-dua tanda yang terakhir ini belum ada pada dirinya.

Tempat Tinggalnya Sekarang

Menurut riwayat yg sahih yg disebutkan dalam kitab “Shahih Muslim”, bahawa Dajjal itu sudah ada wujud sejak beberapa lama. Ia dirantai di sebuah pulau dan ditunggu oleh seekor binatang yg bernama “Al-Jassasah”. Dajjal itu telah ada dan ia menunggu masa yg diizinkan oleh Allah swt utk keluar menjelajah permukaan bumi ini dan tempat “transitnya” itu ialah di sebelah Timur bukan di Barat..
Berapa lama ia akan hidup setelah kemunculannya

Dajjal akan hidup setelah ia memulai kebohongan kepada umat ini, selama empat puluh hari saja. Namun begitu, hari pertamanya adalah sama dengan setahun dan hari kedua sama dengan sebulan dan ketiga sama dengan satu minggu dan hari-hari kembali lagi sama seperti hari-hari biasa. Jadi keseluruhan masa Dajjal membuat fitnah dan kerusakan itu ialah 14 bulan dan 14 hari. Dalam Hadis riwayat Muslim ada disebutkan:
Kami bertanya: “Wahai Rasulullah! Berapa lamakah ia akan tinggal di muka bumi ini? Nabi saw, menjawab: Ia akan tinggal selama empat puluh hari. Hari yg pertama seperti setahun dan hari berikutnya seperti sebulan dan hari ketiga .seperti seminggu. Kemudian hari yg masih tinggal lagi (yaitu 37 hari) adalah sama seperti hari kamu yg biasa.
Lalu kami bertanya lagi: Wahai Rasulullah saw! Di hari yg panjang seperti setahun itu, apakah cukup bagi kami hanya sholat sehari saja (yaitu 5 waktu saja). Nabi saw menjawab: Tidak cukup. Kamu mesti mengira hari itu dengan menentukan kadar yg sesuai bagi setiap sholat..”

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim mengatakan: “Tidak ! Ia akan muncul di Timur” diikuti dengan kalimat: “Beliau menunjuk dengan tangan beliau ke arah Timur, tempat munculnya fitnah Dajjal ialah di Timur.
Ini menunjukkan bahawa merajalelanya Dajjal akan membahayakan bangsa-bangsa di Timur. Adapun kenyataan yang tak dapat dibantah lagi, bahawa fitnahnya Dajjal tak akan menimpa bangsanya sendiri, bahkan mereka akan memperolehi keuntungan dari hasil porak-poranda di Timur. Jadi yang dimaksud munculnya Dajjal di Timur ialah merajalelanya fitnah Dajjal di negara-negara Timur dengan jalan memperbudakkan penduduknya, baik secara jasmani mahupun rohani, lahiriyah mupun batiniyah.
Menurut apa yang diterangkan dalam Hadits, terang sekali bahawa pada zaman Nabi, Dajjal itu sudah ada, akan tetapi pada waktu itu tangan dan kakinya dirantai. Inilah gambaran yang sebenarnya bagi bangsa-bangsa Eropa pada waktu itu. Mereka mengurung diri dalam tanah air mereka sendiri, lalu pada suatu ketika, mereka mengalir ke seluruh dunia untuk menakluki dan menjajah negara-negara lain, sehingga mereka benar-benar menguasai, atau setidak-tidaknya memaksakan pengaruhnya terhadap negara-negara itu, sehingga gerak-geri negara-negara itu dipimpin dan diawasi oleh bangsa-bangsa Eropa.

Itulah sebabnya mengapa di dalam Hadits diterangkan bahawa Dajjal mengaku Tuhan, kerana segala sesuatu di dunia dikerjakan menurut perintah Dajjal, seakan-akan dialah yang menguasai dan menentukan nasib bangsa-bangsa lain. Inilah apa pula yang dimaksud oleh Hadits lain yang menerangkan bahawa Dajjal ialah yang menentukan hidup-matinya orang-orang. Dengan perkataan lain, Dajjal akan meninggikan dan merendahkan darjat bangsa-bangsa lain menurut apa yang dianggap sesuai dengan tujuannya.
Berikut adalah khutbah Rasulullah S.a.w berkenaan Dajjal
Dari Abi Umamah Al-Bahiliy, beliau berkata: “Rasululah s.a.w telah berkhutbah di hadapan kami. Dalam khutbahnya itu Baginda banyak menyebut masalah Dajjal. Baginda rasulullah telah bersabda: “Sesungguhnya tidak ada fitnah (kerusakan) di muka bumi yang paling hebat selain daripada fitnah yang dibawa oleh Dajjal. Setiap Nabi yang diutus oleh Allah SWT ada mengingatkan kaumnya tentang Dajjal. Aku adalah nabi yang terakhir sedangkan kamu adalah umat yang terakhir. Dajjal itu tidak mustahil datang pada generasi kamu. Seandainya dia datang sedangkan aku masih ada di tengah-tengah kamu, maka aku adalah sebagai pembela bagi setiap mukmin. Kalau dia datang sesudah kematianku, maka setiap orang menjaga dirinya. Dan sebenarnya Allah SWT akan menjaga orang-orang mukmin.

“Dajjal itu akan datang nanti dari satu tempat antara Syam dan Iraq. Dan mempengaruhi manusia dengan begitu cepat sekali. Wahai hamba Allah, wahai manusia, tetaplah kamu. Di sini akan saya terangkan kepada kamu ciri-ciri Dajjal, yang belum diterangkan oleh nabi-nabi sebelumku kepada umatnya.
“Pada mulanya nanti Dajjal itu mengaku dirinya sebagai nabi. Ingatlah, tidak ada lagi nabi sesudah aku. Setelah itu nanti dia mengaku sebagai Tuhan. Ingatlah bahawa Tuhan yang benar tidak mungkin kamu lihat sebelum kamu mati. Dajjal itu cacat matanya sedangkan Allah SWT tidak cacat,Dan juga di antara dua mata Dajjal itu tertulis KAFIR, yang dapat dibaca oleh setiap mukmin yang pandai membaca atau buta huruf.
Di antara fitnah Dajjal itu juga dia membawa syurga dan neraka. Nerakanya itu sebenarnya syurganya sedangkan syurganya itu neraka, yakni panas. Sesiapa di antara kamu yang disiksanya dengan nerakanya, hendaklah dia meminta pertolongan kepada Allah dan hendaklah dia membaca pangkal surah Al-Kahfi, maka nerakanya itu akan sejuk sebagaimana api yang membakar Nabi Ibrahim itu menjadi sejuk.
Kata Rasulullah s.a.w lagi: “Di antara tipu dayanya juga dia suruh langit supaya menurunkan hujan tiba-tiba hujan pun turun. Dia suruh bumi supaya mengeluarkan tumbuh-tumbuhannya tiba-tiba tumbuh. Dan termasuk ujian yang paling berat bagi manusia, Dajjal itu datang ke perkampungan orang-orang baik dan mereka tidak mengakuinya sebagai Tuhan, maka disebabkan yang demikian itu tanam-tanaman dan ternakan mereka tidak menjadi

aripada Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda; “Akan timbul di akhir zaman orang-orang yang mencari keuntungan dunia dengan menjual agama. Mereka menunjukkan kepada orang lain pakaian yang dibuat darIpada kulit kambing (berpura-pura zuhud dari dunia) untuk mendapat simpati orang ramai, dan percakapan mereka lebih manis daripada gula. Padahal hati mereka adalah hati serigala (mempunyai tujuan-tujuan yang jahat). Allah swt. Berfirman kepada mereka, “Apakah kamu tertipu dengan kelembutan Ku?, Ataukah kamu terlampau berani berbohong kepada Ku?. Demi kebesaran Ku, Aku bersumpah akan menurunkan suatu fitnah yang akan terjadi di kalangan mereka sendiri, sehingga orang yang alim ( cendikiawan ) pun akan menjadi bingung (dengan sebab fitnah itu)”
Pengikut Dajjal

Dalam musnad ahmad bin hambal, dari usman bin abi 'Ash ra. Bahwasanya rasulullah Saw. Kebanyakan pengikut dajjal itu adalah dari golongan yahudi dan perempuan. (Musnad Ahmad bin Hambal. Jilid 4, hal. 216-217). (Hendri K.)
13.56.00 | 0 komentar

IMAN ITU UNIK

Written By rumah karya on Jumat, 12 November 2010 | 03.27.00

Amru bin Abdu Wuddin namanya, dengan suara menggelegar ia berteriak di seberang parit yang sedang digali oleh kaum muslimin.

“Hai Muhamamad keluarkan tentaramu untuk membunuhku…..
Saya sudah lama rindu dengan neraka…

Keluarkan mereka, lawan saya….”

Itu kata tantangan yang ia sampaikan pada nabi Muhammad saw. “Suruh maju anak buahmu untuk melawanku, bukankah kalian rindu dengan surga? kemarilah saya akan mengantarmu ke surga,” katanya lagi dengan nada yang lebih keras. Tantangan yang sangat dahsyat.

Hari itu, tak seorang pun kaum musyrikin mampu menyeberangi parit galian kaum muslimin sepanjang kota Madinah. Dengan kekuatannya Amru bin Abdu Wuddin mampu menyeberangi parit dan memasuki Madinah. Ia pun berteriak-teriak bak orang kesurupan. Ia memanggil-manggil dengan suara tinggi menantang Muhammad dan tentaranya untuk bertarung dengannya.

Amru bin Abdu Wuddin bukan orang biasa. Dia terkenal ganas, buas dan mengerikan. Perempuan-perempuan kafir Quraisy jika ingin menakut-nakuti anak-anaknya selalu menyebutkan namanya. Anak-anak Quraisy yang rewel dan tidak mematuhi orang tuanya serta merta tunduk dan takut jika disebutkan nama ini. Nama Amru bin Abdu Wuddin membuat anak-anak Qurasiy yang bandel dan tidak mau tidur malam akan segera lari ke kasur untuk tidur.Pokoknya nama itu benar-benar menakuktkan orang-orang Quraisy. Ia bagaikan monster yang siap menerkam dan menghabisi nyawa siapa pun juga yang melawannya.

Dan hari itu, di perang Khandak ia menantang kaum muslimin untuk melawannya.

“Hei Muhammad, bukankah kamu yang mengatakan bahwa jika kaum muslimin terbunuh dalam perang, ia masuk surga? Bukankah kau juga yang mengatakan bahwa kaum kafir yang mati akan masuk neraka? Mana tentara kalian yang ingin masuk surga itu? Suruh mereka kemari untuk melawanku, saya sudah sangat rindu dengan neraka,” itu tantangannya lagi.

Akhirnya Ali bin Abi Thalib berdiri, ia maju dengan gagah berani. Ia tak gentar, tak ada khawatir, apa lagi takut. Padahal umur Ali bin Abi Tahlib saat itu baru dua puluh satu tahun. Masih sangat muda. Muda sekali. Namun tak takut ia sediktipun, tak gentar ia sekalipun harus melawan monster mengerikan di zamannya.

“Izinkan saya melawannya ya Rasul,” ucapnya pada Rasulullah. Rasul meragukan kemampuannya. Ia masih terlalu muda. Amru bin Abdu Wuddin bukan lawan yang imbang untuknya. Ia tidak ingin anak dari paman yang sangat menyayanginya itu mati terlebih dahulu. Beliau masih ingin bersamanya. Ali sangat dicintainya dan rasul pun berkata, “duduklah engkau wahai Ali, jangan engkau yang melawannya.”

Ali bukan pemuda biasa, dengan kekuatan iman Ali berucap “hai Rasulku, jangan halangi saya masuk surga.”
Rasul bangga mendengarnya, senang sekali dan semakin cinta ia pada Ali. Dengan segera Rasul berdiri lalu melepaskan sorban kemuliannya. Dipakaikan sorban itu pada Ali. Pedangnnya yang paling tajam ia lepaskan, ia berikan pada Ali.
Ia mencium keningnya lalu berdoa,”Wahai Rabbku, sungguh engkau telah mengambil Hamzah dariku di perang Uhud, kumohon padamu jangan ambil Ali dariku hari ini.”

Ali pun turun dengan memakai sorban kebesaran nabi, ia maju menghadapai sang sombong dengan membawa pedang yang penuh berkah itu. Ia berdiri tegak dihadapan sang laknat. Gagah sekali ia.

“Hei, siapa kamu anak muda?” Tanya sang monster dengan nada heran.
“Saya Ali bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah,” jawab Ali tegas.

“Mengapa Muhammad tidak mengutus orang yang lebih besar darimu?” Tanyanya lagi pada Ali.
“Rasulullah mengutusku sebab sayalah yang paling kecil di antara mereka. Untuk melawanmu tidak perlu di utus orang besar, kedudukanmu tidak bisa menyamai salah seorang di antara mereka, makaya saya yang diutus untuk melawanmu sebab saya yang paling rendah kedududakannya.”

Ali pun bertanya padanya, “lalu kamu siapa?”
Sang thagut berkata, “hai Ali, dulu bapakmu adalah sahabat dekatku, saya tidak ingin membunuhmu sebab saya tidak mau jika orang tuamu menjadi sedih sebab saya membunuhmu.”

Ali bukannya mundur, malah berkata,”bahkan saya ingin membunuhmu dan membuat bapakmu bersedih sebab saya membunuhmu.”

Sang kafir menjadi kaget dan takjub. Ia bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuatnya begitu berani dan tidak takut sedikitpun? Siapa sebenarnya ia?

Ali lalu berkata padanya, saya tidak akan membunuhmu sebelum engkau menjawab tiga kata-kata ini. Sang kafir penasaran, “apa tiga kalimat itu, katakanlah!”

Pertama, engkau harus mengakui dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Si kafir dengan sombong menjawab, “demi Allah, saya tidak akan mengatakannya sekalipun saya ditenggelamkan dalam neraka jahannam.”

Beritahu padaku kata yang kedua. Ali pun berkata, “engkau mesti kembali dan tidak usah memerangi Rasulullah.”
Ia menjawab, “kalau saya kembali pasti orang-orang akan menertawakanku sebab mereka akan berkata saya takut pada anak kecil sepertimu.”

Lalu apa kata yang ke tiga itu? Tanyanya lagi. Ali pun berkata, “yang ketiga adalah kamu harus melawanku dengan posisi engkau tetap berada di atas kudamu dan saya berdiri di sini.”

Amru tidak memenuhi permintaan Ali. Ia turun dari kudanya dan bertarung dengannya. Ia tidak mau dikatakan pengecut sebab melawan Ali dari atas kuda. pertarungan pun dimulai. Pertarungan yang sengit, sangat sengit, hingga akhirnya terdengar jeritan dengan lengkingan yang sangat keras. Kaum muslimin kaget, mereka semua menyangka Ali telah terbunuh.

Tiba-tiba Ali datang dengan membawa kepala Amru bin Abdu Wuddin yang telah tertancap di ujung pedang Rasulullah. Pedang Rasulullah yang dipakai Ali telah menewaskannya. Ali pun menjadi pahlawan perang khandak yang paling pertama membunuh musuh.

Sungguh berani ia. Di mana energi keberanian itu ia ambil?
Jawabanya tiada lain adalah keimanan. Keimananlah yang menggerakkan Ali hingga tidak gentar sedikitpun. Iya keimanan.

Itulah sebabnya jika ingin membentuk tentara yang gagah berani tak ada jalan lain kecuali membina keimanan mereka sebab seperti kata Anis Matta, iman itu unik. Unik sebab keimanan bisa membuat seorang yang tadinya keras tiba-tiba berubah lembut. Lihatlah Umar yang terkenal keras itu ia akan sangat lembut di hadapan istri dan anak-anaknya. Bahkan ia berkata, jadilah engkau seperti bayi dihadapan isterimu.

Iya, mesti lembut kita pada mereka, sebab bukan musuh yang harus dikasari. Mereka cinta, mesti dikasih disayangi. Mereka jalanmu menuju surga maka dengan keimanan yang dalam perlakukanlah selembut dan sebaik mungkin.
Keimananlah yang mampu membuat seorang yang lemah menjadi kuat. Keimananlah yang merubah orang yang lembut dan manis menjadi tegas berani dan ditakuti.

Lihatlah Abu Bakar yang terkenal lembut itu, tiba-tiba ia bagaikan gunung batu yang kokoh tak tergoyahkan. Ia seperti karang yang tak bisa dihempas badai lagi. Tak ada kata lain, pembangkang dan orang-orang murtad itu harus dihabisi, diperangi dan dimusnahkan hingga ia menunaikan kewajibannya, itu ketegasannya yang menggetarkan.

Dan keimanan mampu merubah segalanya. Itulah sebabnya yang paling pertama dan utama dalam pembentukan manusia muslim yang di dahulukan adalah pembentukan keimanan. Maka jangan Anda heran mengapa pertemuan mingguan, pengajian, jilsah dan liqo'-liqo' itu selalu dimulai dengan membaca dan mentadabburi Al Quran?

Sebab Al Quran adalah amunisi keimanan yang paling tinggi. Semakin sering kamu membaca dan mentadabburinya nya semakin tinggi keimananmu. Semakin kuat.
Dan Anda yang tidak suka bahkan membenci lalu menghalangi gerakan Tarbiyah ini, tolong tanyakan pada hatimu yang paling dalam, kok saya benci yah?

** Kutulis untuk seluruh aktivis Tarbiyah, semoga kita tetap tabah menapak jalan ini meski duri semakin tajam

Penulis,
Ahsanur Ahmad
Mahasiswa Pasca Sarjana
Universitas Al-Azhar, jurusan Tafsir.
03.27.00 | 0 komentar

Imam Ahmad bin Hanbal

Written By rumah karya on Sabtu, 09 Oktober 2010 | 16.54.00

Dari masa ke masa, perkembangan selalu terjadi. Layaknya ulat yang menjelma kempompong, secara ajaib menyembul kupu-kupu indah. Dalam perkembangan hadis pun demikian, sebut saja Muwato’, di mana dalam muwato’ mencakup hadis nabi, qoul sahabat dan ijma’ tabiin, semua berbaur menjadi satu. Seiring perkembangannya, kemudian menjelma menjadi Musnad, di mana di sana tertulis hadis nabi saja, tanpa ada penyertaan qoul sahabat ataupun ijma’ tabi’in. Tapi, hadis-hadis tersebut melebur, ada sahih, hasan dan dho’if. Kemudian berkembang lagi menjadi kupu-kupu indah, hadis hadis yang bercampur tersebut oleh imam Bukhari dan Muslim dipilah menjadi yang hanya sahih saja. Begitu ia bermetamorfosis, hingga menjadi indah seperti kupu-kupu, hingga ia menjadi kitab yang hanya shahih saja. Kitab rujukan bagi umat Islam.

Diantara perkembangan di atas mungkin kita akan mencoba mengkaji musnad terkhusus lagi metode Imam Ahmad dalam musnadnya untuk lebih lanjutnya mari kita ikuti pembahasannya.

I. Pendahuluan

Dari masa ke masa, perkembangan selalu terjadi. Layaknya ulat yang menjelma kempompong, secara ajaib menyembul kupu-kupu indah. Dalam perkembangan hadis pun demikian, sebut saja Muwato’, di mana dalam muwato’ mencakup hadis nabi, qoul sahabat dan ijma’ tabiin, semua berbaur menjadi satu. Seiring perkembangannya, kemudian menjelma menjadi Musnad, di mana di sana tertulis hadis nabi saja, tanpa ada penyertaan qoul sahabat ataupun ijma’ tabi’in. Tapi, hadis-hadis tersebut melebur, ada sahih, hasan dan dho’if. Kemudian berkembang lagi menjadi kupu-kupu indah, hadis hadis yang bercampur tersebut oleh imam Bukhari dan Muslim dipilah menjadi yang hanya sahih saja. Begitu ia bermetamorfosis, hingga menjadi indah seperti kupu-kupu, hingga ia menjadi kitab yang hanya shahih saja. Kitab rujukan bagi umat Islam.

Diantara perkembangan di atas mungkin kita akan mencoba mengkaji musnad terkhusus lagi metode Imam Ahmad dalam musnadnya untuk lebih lanjutnya mari kita ikuti pembahasannya.

II.Berkenalan dengan imam Ahmad

a. Biografi

Nama asli beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdillah bin Hayyan bin Abdillah bin Anas bin ‘Auf bin Qosith bin Mazin bin Syiban bin Zuhl bin Tsa’labah bin ‘Ukabah bin Sho’ab bin Ali bin Bakar bin Wail adz Dzuhly asy Syiibany al Marruzy al Baghdady.
Beliau adalah salah satu diantara ulama yang berpengetahuan luas mendalam dan faqih. Beliau memilik dua orang putra yang bernama Shalih dan Abdullah. Imam Ahmad menikah pada umur empat puluh tahun dengan Ummu abi Abbasah bint al Fadhl.
Imam Ahmad dilahirkan pada bulan Rabi’ul Awal, tahun 164 Hijriah di Baghdad. Sebagaimana penuturan Shalih, “Ayahku berkata padaku, ‘aku diahirkan pada Rabi’ul Awal, tahun164 hijriah.
Kemudian Khutaib al Baghdadi juga mengatakan, “Abu Abdillah dilahirkan di Baghdad, tumbuh dan berkembang di sana, serta menuntut ilmu di sana. Kemudian setelah itu, barulah ia melakukan perjalana menuntut ilmu ke berbagai negeri, Kuffah, Bashroh, Makkah, Madinah, Yaman, syam dan Jazirah.
Muhammad bin ‘Abbas An-Nahwi bercerita, Saya pernah melihat Imam Ahmad bin Hambal, ternyata Badan beliau tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, wajahnya tampan, di jenggotnya masih ada yang hitam. Ia senang berpakaian tebal, berwarna putih dan bersorban serta memakai kain.
Ilmu yang pertama kali dikuasainya adalah Al Qur’an, hingga beliau hafal pada usia 15 tahun, beliau juga mahir baca-tulis dengan sempurna, hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu beliau mulai konsentrasi belajar ilmu hadis di awal umur 15 tahun. Beliau telah mempelajari Hadits sejak kecil dan untuk mempelajari Hadis ini, beliau pernah pindah atau merantau ke Syam (Syiria), Hijaz, Yaman dan negara-negara lainnya sehingga beliau akhirnya menjadi tokoh ulama yang bertakwa, saleh, dan zuhud. Imam Syafi'i mengatakan tetang diri Imam Ahmad sebagai berikut, "Setelah saya keluar dari Baghdad, tidak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih shaleh dan yang lebih berilmu daripada Ahmad bin Hambal." Abdur Rozzaq Bin Hammam yang juga salah seorang guru beliau pernah berkata, "Saya tidak pernah melihat orang se-faqih dan se-wara' Ahmad Bin Hanbal"
Ayahnya wafat ketika berusia tiga puluh tahun, usia yang muda sekali. Jadilah ketika ia lahir anak yatim.

b. Para guru dan Muridnya

Layaknya ulama besar, dalam menuntut ilmu beliau tidak terpaku pada satu atau dua guru, dan rata-rata para ulama dahulu pun demikian. Adapun orang-orang yang Imam Ahmad berhasil mencuri ilmu serta meriwayatkan hadits dariya adalah:
Husyaim, Sufyan ibn ‘Uyainah, Ibrahim bin Sa’ad, Jarir bin ‘Abdil Hamid, Yahya al Qaththan, Waliid bin Muslim, Isma’il bin ‘Aliyah, Ali ibn Hasyim bin al Bariid, Mu’tamar bin Sulaiman dan masih banyak lagi guru-guru beliau.

Adapun murid beliau dapat kita lihat seperti, Bukhari, Muslim, Abdurrahman bin Mahdi, asy Syafi’i, abu al Walid, Abdurrazaq, Waqi’, Yahya bin Ma’in, Ali bin al Madini dan lain lain.

c. Petualangannya dalam menuntut ilmu

Imam ahmad mulai bertualang mencari ilmu pada usia 15 tahun, bertepatan dengan tahun waatnya Imam Malik dan Hamad bin Zaid.
Dalam petualangan mencari ilmu ini, Imam Ahmad menempuh perjalanan yang sangat jauh dan panjang sekali. Di negeri yang terselip permata, beliau mampir ke sana. Beliau tak mengenal jauh demi ilmu. Hingga karena semangat beliau dalam menuntut ilmu ada yang bertanya, “ wahai Imam! Sampai kapan engakau akan menuntut ilmu?” beliau menjawab,“ sampai liang lahat.”
Adapun negeri yang beliau sambangi dalam menuntut ilmu diantaranya, Kuffah, Bashrah, Makkah, Madinah, Yaman, Syam, al Jazirah, dan ke Hijaz. Diantara negeri yang beliau sambangi tersebut, Hijaz merupakan negeri yang paling banyak beliau datangi, lima kali. Pertama kali beliau berangkat pada tahun 187 Hijriyah. Dan pada waktu itu beliau bertemu dengan imam asy Syafi’i. dan kembali bertemu dengan Imam Syafi’i di Baghdad.

e. Terjadinya Fitnah
Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa khilafah Al Mahdi, Ar-Rasyid dan Al Amin, bahkan Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah ‘makhluk.’ Namun, dia terus bersembunyi di masa khilafah ar Rasyid, baru setelah beliau wafat, dia menampakkan kebid’ahannya dan menyeru manusia kepada kesesatan ini.
Di masa khilafah Al Ma’mun, orang-orang jahmiyyah berhasil menjadikan paham jahmiyyah sebagai ajaran resmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur’an makhluk. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa al Qur’an makhluk, terutama para ulamanya. Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa al Qur’an Kalamullah, maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara.
Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan, banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam lisan saja. Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari segala siksaan dan penderitaan, namun beliau menjawab, “Bagaimana kalian menyikapi hadits, ‘Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab, yaitu sabda Nabi Muhammad ada yang digergaji kepalanya namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya’”. HR. Bukhari 12/281. lalu beliau menegaskan, “Saya tidak peduli dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja.”
Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, “Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hambal, kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat.”
Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa, beliau masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. Ia mengatakan, “Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku, “Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid, dan jika anda selamat, maka anda hidup mulia. ”Maka, hatiku bertambah kuat.”
Beliau berada di penjara selama tiga periode kekhlifahan yaitu al Makmun, al Mu’tashim dan terakhir al Watsiq. Setelah al Watsiq tiada, diganti oleh al Mutawakkil yang arif dan bijaksana dan Imam Ahmad pun dibebaskan.

II. Metodologi dalam penyusuanan Musnad
a. Pengertian Musnad menurut istilah
Sebelum kita masuk pada pembahasan yang lebih jauh, alangkah baiknya jikalau kita menghetahui apa itu Musnad. Dalam pengertian imam Khutaib al Baghdadi adalah sanadnya bersambung sampai akhir (pada nabi Saw.). Imam Hakim juga mengatakan, “Bersambung sanadnya kepada rasul saw.
Diantara syarat musnad itu adalah tidak diriwayatkan berdasarkan lafazh akhbartu ‘an fulan, kata imam Hakim, Haddatstu ‘an fulan, Ballighni ‘an fulan, azhunnuhu marfu’an, dan tidak pula raf’uhu fulan.
Tapi dalam pengertian imam Abdil Barr, beliau memasukkan di sana mungqati’ dan Mu’dhol dalam pengertian musnad. Tapi yang lebih rajih adalah pengertiannya imam Khutaib al Baghdadi yang didukung oleh imam Hakim.
b. Pengertian Musnad Imam Ahmad
Yang dimaksud dengan musnad imam Ahmad adalah kitab hadis yang mengumpulkan hadis nabi semata berdasarkan sanad atau rawi a’la. Atau, mengumpulkan hadis-hadis setiap sahabat dalam jumlah yang tidak dibatasi oleh satu maudhu’, penyusunannya tanpa berdasarkan bab fiqhiya, seperti hadis shalat maka akan kita temui hadis berikutnya hadis tentang zakat, jihad atau sebagainya. Bedanya dengan kitab sebelumnya, seperti muawatha’ imam Malik, kitab Muawatho’ masih mencantumkan perkataaan sahabat dan fatwa tabi’iin.
c. Sejarah penyusunan Musnad
Dalam sejarah pengumpulan Hadis, abad ketiga Hijriyah merupakan periode kelima, yakni periode yang ditandai dengan upaya melakukan periwayatan secara kritis, hingga para ulama hadis fokus pada bagaimana mengumpulkan dan memisahkan serta menyaring mana Hadis yang sahih, hasan dan dho’if.

c. Tujuan Imam Ahmad menciptakan Musnad
Imam Ahmad memiliki keinginan besar, yaitu mengumpulkan hadis-hadis nabi Saw. dalam sebuah kitab yang besar, makan terciptalah musnad Ahmad bin Hambal. Di dalamnya mengandung berbagai hadis, seperti hadis tentang aqidah dan cabangnya, hukum, akhlak, amar ma’ruf nahi munkar, halal dan haram dan lain sebagainya, hingga ia menjadi imam bagi manusia.
Untuk itu itu beliau berkata, “Aku buat kitab ini sebagai imam, karenanya apabila manusia berselisih tentang sunah nabi Saw., rujuklah kepadanya!
Diantara tujuan beliau juga adalah untuk membantu sunah nabi Saw. dengan mengumpulkan hadis-hadis, kemudian disampaikan kepada manusia, lalu mereka berpegang teguh padanya (sunah nabi Saw.), dan ini merupakan pahala yang sangat besar disisi Allah ta’ala.
d. Kedudukan kitab
Kitab Musnad merupakan karya besar yang lahir dari tangan imam Ahmad. Di dalamnya mengandung banyak hadis yang mana tidak terdapat dalam kitab lain. Dia juga merupakan kitab penting diantara kutub as sittah lainnya. Dan ini diakui oleh ulama hadis dahulu maupun sekarang.
Imam ahmad berkata pada anaknya, Abdullah, “Hafallah olehmu Musnad ini, semoga ia menjadi imam bagi manusia!
Hambal bin Ishaq anak saudara Ahmad bin Hambal berkata. Kami dikumpulkan pamanku, aku, Abdullah dan Shalih lalu beliau berkata, “Aku mengumpulkan kitab ini (lebih kurang empat puluh ribu hadis) dari 750.000 hafalanku. Maka, apabila manusia berselesisih tentang hadis nabi, rujuklah padanya. Sesungguhnya dia adalah sebagai hujjah. Yang dimaksud dengan hujjah di sini adalah hadis tentang ushul, karena ia tak dikeragui lagi keshahihannya.
e. Metode Imam ahmad dalam Musnad
Imam Ahmad menyusunnya berdasarkan yang pertama kali masuk islam, kemudian dilanjutkan dengan sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah Saw.. Selanjutnya berdasarkan muqim (tempat tinggal).
1. Musnad Khulafa ar rasyidin yang empat, kemudian dilanjutkan dengan enam sahabat yang mendapat jaminan masuk sorga dari Rasulullah Saw..
2. Musnad empat sahabat lainnya, seperti Musnad Abu Bakr ash Shiddiq, musnad Zaid bin Kharijah, musnad al Harits bin Khazimah, musnad Sa’ad maula Abu Bakr.
3. Masnad Ahl al Bait
4. Musnad sahabat yang masyhur
5. Musnad orang-orang Kuffah
6. Musnad orang Madinah
7. Musnad orang Syam
8. Musnad orang Bashroh
9. Musnad orang Anshor
10. Musnad Nisa’
11. Musnad Qabilah
f. Pembagian hadis dalam Musnad
Syaikh as Sa’ati, ayah almarhum Hasan al Bana membagi kepada enam bagian:
1. Riwayat abu Andirrahman bin al Imam Ahmad dari bapaknya yang ia dengar secara sima’an (langsung). Dan ini dinamakan dengan musnad imam Ahmad
2. Apa-apa yang didengar Abdullah dari bapaknya dan dari selain bapaknya, dan ini sedikit sekali
3. Apa-apa yang diriwayatkan Abdullah bin al Imam Ahmad dari selain bapaknya. Dan dia dinamakan dengan zawaid Abdillah.
4. Apa-apa yang dibacakan Abdullah kepada bapaknya, dan dia tidak mendengarkan darinya (bapaknya). Dan ini sediit.
5. Apa-apa yang tidak Abdullah baca dan tidak pula didengar dari bapaknya. Tapi, dia mendapatkannya dalam kitab bapaknya yang ditulis oleh bapaknya sendiri.
6. Apa-apa yang diriwayatkan al Hafiz abu Bakar al Qothi’i dari selain Abdullah dan bapaknya. Dan pembagian ini sangat sedikit sekali.
g. Kriteria hadis dalam Musnad
Imam Ahmad dalam memasukkan hadis dalam musnadnya meliputi sanad dan matan. Dan dia tidak memasukkan kecuali apa yang menurutnya sahih. Al Hafiz Musa al Madini mengatakan, imam Ahmad tidak keluar dari riwayat yang tsabit, terpercaya serta agamanya bagus, dan keamanahannya tidak tercela.
Imam Ahmad juga tidak meriwayatkan hadis dari orang yang diyakini dho’if alias tidak dhobith atau tidak paham terhadap hadis. Tapi, beliau meriwayatkan dari orang yang betul-betul tsiqoh dan adil, serta perawi tersebut terkenal dengan kesidiqan dan ketaqwaannya.
h. Derajat hadis dalam Musnad
Ulama berbeda pendapat tentang hadis yang terdapat dalam musnad:
a. Sebagian mereka berpendapat bahwa setiap hadis yang terdapat di dalam musnad adalah shahih dan dan bisa dijadikan hujjah.
b. Ibnu al Jauzi mengatakan bahwasanya hadis di dalam musnad itu terdapat shahih, dho’if dan maudhu’
c. Ulama lain berpendapat bahwasanya dalam musnad mengandung dho’if yang mendekati kepada hasan, ini adalah pendapat ibn adz Dzahabi, ibnu Hajar dan as Suyuthi.
d. Ibnu Taimiyah berpendaat bahwa sebagian hadis yang terdapat di dalam musnad imam Ahmad dha’if dari segi istilah, tetapi tidak terdapat hadis maudhu’ yang diriwayatkan imam ahmad. Apabila ada, itu tambahan dari abu Bakr al Qothi’i.
Namun demikian, kedudukan Musnad Ahmad ibn Hanbal termasuk ke dalam kelompok kitab Hadis yang diakui kehujjahannya sebagai sumber ajaran Islam. Jika dilihat dari segi peringkatnya, Musnad Ahmad ibn Hambal menempati peringkat kedua, disederajatkan dengan kitab Sunan yang empat, yaitu Sunan Abu dawud, Sunan an Nasa’I, Sunan at Turmudzi dan Sunan Ibn Majjah. Sedangkan peringkat pertama ditempati Shahih al Bukhari dan Shahih al Muslim.


i. Perbandingan antara Musnad dan Muwaththa’
a. Mereka sama-sama dalam hal menerima hadis mursal dan munqathi’. Mereka menjauhkan dari dari penambahan terhadap hadis Rasulullah Saw..
b. Imam Ahmad dalam musnadnya menyusun hadis berdasarkan musnad sahabat. Sedangkan imam Malik betdasarkan bab fiqhiyah.
c. Hadis dalam muawatha’ terbatas. Sedangkan dalam musnad mencapai 40.000-an hadis.
d. Hadis dalam Muwatho’ secara umum mendekati shahih. Sedangkan hadis di dalam musnad mendekati hasan lidzatihi dan hasan lighairihi karena saking banyaknya.
j. Perbandingan Musnad dengan shahih Bukhari
1. Dalam penyeleksian hadis, imam Bukhari lebih syadid dari imam Ahmad.
2. Imam Bukhari menyusun berdasarkan bab fiqhiyah. Sedangkan imam
H. Penilaian Ulama
Penilaian yang dilakukan Ahmad ibn Sakir terhadap Musnad ini, bahwa banyak Hadis sahih yang tidak ditemukan dalam kutub as Sittah. Kesahihan Hadisnya adalah menurut pernyataan Ahmad ibn Hambal, “Kitab ini kuhimpun dan kupilah dari lebih 750.000 Hadis, jika Muslimin berselisih tentang sebuah Hadis nabi, maka jadikanlah kitabku ini sebagai rujukan, jika kamu menemukan yang dicari di sana, itu sudah cukup sebagai hujjah. Kalau tidak, maka Hadis yang diperselisihkan itu bukanlah hujjah.
Menurut penelitian as Sa’ati, bahwa Hadis-hadis yang termuat dalam Musnad Ahmad ibn Hambal tidak seluruhnya dari Imam Ahmad. Tapi, ada tambahan dari anaknya, yaitu Abdullah. Selain itu juga dilakukan oleh Abu Bakar al Qathi’i yang meriwayatkan Musnad itu dari Abdullah.
III. Penutup
Masih banyak mutiara yang belum terpungut dari musnad imam Ahmad. Makalah mungil ini hanyanlah sebagai rangsangan kepada kita untuk mengggali dan terus menggali kembali, hingga mengeluarkan semua muatiara-mutiara yang tersimpan dalam kitab musnad tersebut. Yang namanya sebagai perangsang tentunya makalah singkat ini jauh dari ketamaman. Untuk itu, penulis mohon maaf atas kekurang-kekurangn itu. Akhirnya selamat mengkaji kembali.

Daftar Pustaka
1. Adz Dzahaby, Al Imam asy Asyamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman, 1427 H/2006 M. Siyar a’lam an Nubala’. Darul Hadits: Cairo
2. Ibn Hambal, Ahmad bin Muhammad, 1426 H/2005 M. Al Musnad li al Imam Ahmad bin Hambal. Dar al Hadits: Cairo
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_bin_Hanbal#Sabar_dalam_menuntut_ilmu
4. An Nawawi, Al Imam, 1425 H/2004 M. Tadrib ar Rawi lil Hafiz as Suyuthi, syarah Taqribu an Nawawi. Dar al Hadits: Cairo
5. Ibnu Katsir, al Hafiz, 1428 H/2007 M. Al Ba’its al Hatsits Syarah Ikhtishor Ulumu al Hadits. Dar al Aqidah: Cairo
6. http://one.indoskripsi.com/node/5984
7. Salim, Muhammad Musthofa Muhammad, 1429 H/2008 M. Buhus Fi Manahij al Muhaddisin. Dar ash Showaf: Egypt. (Muqarrar tk. III Hadis, Ushuluddin Zagazig)






16.54.00 | 0 komentar
Share photos on twitter with Twitpic

Bersama ikhwah memenuhi undangan orang Mesir

Orang kaya sedang beerfose. (Hihihi... gak malu)

Menggaya saja, biar dibilang keren. Hahaha...

Makan sate bareng konco-konco. Walau mahasiswa, kita gak kalah saing ya sama emak-emak. Hahaha... kita..?? Lu aja kali...!@#$%
Share photos on twitter with Twitpic

Jelajahi

Share photos on twitter with Twitpic

Tentang Seseorang

Foto saya
Seorang sosok yang ingin di atas biasa orang. Tapi seringkali tertinggal oleh kereta yang merangkak. Sering tenggelam oleh gerimis penggal malam. Dan selalu tegak, namun tak kalah cepat dari keong. Tetap optimis, karena gerimis sepenggal malam takkan menenggelamkan gunung menjulang.

Arsipan

Total Tayangan Halaman

free counters

Makan sate bareng di hari lebaran