Assalamu'alaikum...,  Ahlan Wasahlan |  sign in  |  

Ahlan...

Sebuah blog untuk mengekspresikan diri. Manampung tetes pikiran yang jatuh. Sebuah parit kata, yang merayap dari celah jiwa. Sebuah bejana penyambut derai-derai inspirasi. Di sini dicoba untuk dieja. Kali saja menjadi huruf yang bisa dibaca. Menjelma alenia, membentuk cerita. Kalaupun berupa coretan tak berbentuk, mohon seka raut yang berluluk. Biar cerah. Dan jahitkan saku yang masih melambai. Karena aku sosok yang tak luput dari alpa. Thank's!


Tampilkan postingan dengan label Jejak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak. Tampilkan semua postingan

Adventure In Siwa (2)

Written By rumah karya on Minggu, 05 Februari 2012 | 23.24.00

Benar-benar alami. Tak seperti kehidupan di bumi Mesir lainnya yang serba canggih. Pakaian mereka necis dengan levis dan baju oblong yang fantastis. Budaya barat banyak sedikitnya telah menggesar budaya mereka yang berjalabiah. Terkadang lebih gaul dari orang barat sendiri. Di Siwa ini, jarang ditemukan yang gaul-gaul. Hebring. Natural.

Kami beristirahat di masjid Al Kabir Siwa. Mungkin ini masjid utama karena bentuk dan ukurannya yang luas dan gadang. Kami rehat diemperan, membujuk cacing perut yang terus menyuarakan aspirasinya. Ayam goreng dan sambal cabe super pedas, padeh tiga kali. Pedas! Pedas! Pedas! Cukup untuk menenangkan. Keringat mencucur. Ditambah udara yang menyengat pula. Bertambahlah penderitaan. Untung minumannya tidak ikut panas. Kalau iya, mampuslah! Hwaaaa!

Kendaraan keledai terus berlalu-lalang. Bersaing dengan kendaraan moderen yang jarang. Seolah tak mau kalah. Disamping majid, kulihat orang-orang Mesir sedang duduk mengobrol. Berteduh dari terik yang menyengat. Disamping warung depan masjid tampak mereka bersantai. Pedagang buah juga telihat di depan masjid menunggui dagangannya di bawah pohon kurma. Musim panas begini memang enaknya berteduh ketimbang mondar-mandir. Tapi itu tidak berlaku bagi kami. Bara semangat kami mengalahkan panasnya matahari. Sepeda motor bergerobak “halawa,” juga ikut beristirahat di samping masjid. Mobil penyedot WC juga nongkrong dipinggir jalan. Kayak polisi tidur saja. Hihihi!

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke jabal mauta. Mendengar kata ‘mauta’ mengantarkan tasawwur kita pada sesuatu yang berbaur kematian. Benar, jabal mauta merupakan sebuah bukit yang dipenuhi dengan kuburan orang-orang zaman dulu. Kalau kita sapukan pandangan dari puncak bukit, maka yang akan kita lihat hanyalah jubel-jubel kuburan. Kuburan-kuburan di bukit ini tidak seperti kuburan biasa, yang memiliki tonjolan tanah serta batu nisan yang dijadikan sebagai tanda. Ia layaknya goa yang memiliki pintu masuk. Lorong. Pintu-pintu inilah sebagai tanda bahwa itu adalah kuburan.
Seorang penjaga menceritakan tentang sebuah kuburan yang kami masuki, bahwa kuburan ini adalah kuburannya Fir’aun. Di dalam ruang tanah itu banyak ukiran-ukiran dan gambar-gambar tempo dulu, zaman Paraoh, yang tidak bisa dipahami.
Dari atas bukit ini terlihat hijaunya pohon kurma serta rumah-rumah penduduk yang jarang-jarang.

Setelah puas berfoto-foto di bukit ini. Perjalanan dilanjutkan ke ‘uyun Cleopatra, sebuah tempat pemandian ratu Mesir. Tidak terlalu jauh dari jabal mauta, hanya berkisar setengah jam perjalanan. Perjalanan menuju ke sana tak luput dari pohon-pohon kurma yang berbaris disepanjang jalanan. Seolah-olah mengawasi setiap gerak-gerik kami. Buahnya mengemuning. Ada juga yang merah. Tapi hanya beberapa saja. Debu-debu berseliweran digilas roda-roda mobil. Debu-debu itu menumpuk di daun-daun kurma yang melambai ditepi jalan. Kotor. Menutupi keindahannya.
Tak berapa lama kemudian, kami sampai di tujuan. Jarang-jarang bisa ke sini, lo. Besok belum tentu ada kesempatan. Hohoho!

Hmmm! Apa ini yang disebut ‘Uyun Cleopatra? Aku antara percaya dan tidak. Tapi di sebuah plang terdapat sebuah tulisan ‘Uyun Cleopatra’. Bayanganku sebelum sampai ke sini, ‘Uyun Cleopatra adalah sebuah mata air yang mengalir. Semua di luar dugaan. Di depanku sekarang terpajang sebuah kolam. Bentuknya bundar. Tepiannya di semen. Melihat wujudnya, ’Uyun Cleopatra ini sudah direnovasi. Beberapa orang Mesir tampak mandi di sana. Ceria sekali mereka bisa ciprat-ciprot main air. Selam-selaman. Kejar-kejaran dalam air. Salto dari atas dinding. Jungkir balik. Buuurrr! Air beriak, lumut-lumut bertambah banyak mengapung. Airnya segar. Panas-panas begini memang enak kalau mandi.
Disekelilingnya masih kebun kurma. Kemanapun mata dipandangkan, yang terlihat tetap pohon kurma dan pohon kurma. Kalau aku boleh menamakan, ‘hutan kurma’, karena saking banyak dan rimbunnya. Di dekat kolam tersebut terdapat sebuah kafetaria. Satu-satunya kafe yang tegak di sini. Selain menyediakan minuman, kafe ini juga menjual berbagai suvenir. Bagus-bagus. Sebagaian besar tradisional. Karya tangan-tangan lihai. Ada topi anyaman. Sapu tangan. Guci dari tanah. Dan banyak lagi yang aku tidak tahu namanya. Mau beli? Boleh. Tapi harus merogoh saku agak dalam. Mahal-mahal. Terlebih minumanan. Teh yang biasanya satu pound. Di sini menjadi lima pon. Harganya melompat-lompat. Aku merasa ini wajar-wajar saja. Selain ia berdiri sendiri, juga jauh dari keramaian. Tidak ada saingan. Berapapun harga yang dipatok, yang namanya haus, orang tetap akan membeli.

O o! Rupanya bukan kami saja yang berkunjung ke sini. Satu bus besar tampak datang memasuki pelataran yang pas-pasan dengan ukurannya. Rombongan dari manakah ini? Tampak satu-satu penumpang menuruni bus. Semua itu tak luput dari perhatian kami yang sedang beristirahat di bawah pohon kurma. Rupanya rombongan Malaysia. Kalau aku taksir jumlah mereka, lima puluh orang-an. Lebih banyak dari jumlah kami yang hanya dua puluh satu orang-an.

Kini perjalanan selanjutnya adalah ‘Uyun Fatnas. Jalanan dari satu tempat ke tempat lain sama dengan jalanan di kampungku yang masih alami. Kalau hujan, bisa dibayangkan rautnya. Becek. Dan tidak bisa ditempuh dengan kendaraan.
Hutan kurma disekelilingnya tak jauh beda dengan kebun sawit yang ada di kampungku, Abai Sangir, sebuah kebun milik PT. Bina Pratama Sekoto Jaya. Dan sebagian besar masyarakat kampungku bekerja di sana.

‘Uyun Fatnas bentuknya juga sama dengan ‘Uyun Cleopatra, bedanya ‘Uyun Fatnas lebih dalam, 15 meter lebih kurang. Di belakang ‘Uyun Fatnas ini menghampar sebuah hamparan kosong. Butiran garam yang telah mengering lumayan banyak aku lihat. Mungkin sebelumnya ada air asin mengapung, dan kemudian mongering disedot terik matahari. Dari hamparan kosong ini, matahari begitu bebas menampar pipi. Panas. Tak kuat berlama-lama berdiri di sini. Bisa gosong. Hwaaaa!

Setelah lelah menjelajahi sebagian tempat di Siwa, selanjutnya adalah ke Siwa Adim, sebuah tempat reruntuhan bangunan masa lalu berupa puing-puing. Bangunan itu letaknya diketinggian. Dari atas bangunan itu kita bisa melihat sebagian negeri Siwa. Bangunan tersebut warnanya menayatu dengan warna padang pasir yang kuning kecokelatan. Layaknya mumi yang diawetkan, aku melihat begitu juga dengan bangunan ini, diawetkan dengan pengeras (aku tidak tahu namanya) hingga menjelma layaknya batu-batu. Bila terbentur bisa membuat kaki terluka. Semua pemandangan ini kami rekam dalam foto-fot narsis, setelah ini belum tentu kami memiliki kesempatan mengunjungi.

Selesai juga Adventure in Siwa dengan lelah merasuki jiwa. Waktu juga yang membatasi gerak kami. Oase yang rencannya akan dijelajahi tak bisa terlaksana. Karena masih ada rute selanjutnya, Matruh. Dan harus sampai di sana sebelum Shubuh. Biar bisa beristirahat. Sedangkan kini, siang telah usang. Bayang-bayang sudah mulai memanjang. Itu artinya petualangan berakhir di sini.

Terakhir sebelum meninggalkan Siwa, kami berbelanja supenir sebagai kenang-kenangan dari Siwa, aku berbelanja sorban hijau. Lumayan bisa digunakan untuk berceramah ketika pulang nanti. Hehehe!

Good bay! Ikuti perjalannku di Matruh….

(Udo Iwan)
23.24.00 | 0 komentar

Adventure In Siwa (1)

Ujian sudah lama usai. Liburan panjang telah melambai. Merangkul dan mencumbu setiap orang yang baru saja lelah berjuang. Seperti biasa dan lumrahnya liburan, rata-rata para pelajar di Mesir mengadakan rihlah tahunan, pergi ke suatu tempat rekreasi yang berserak di Mesir. Begitu banyak tempat yang bisa dikunjungi di sini. Tergantung selera, kemana arah akan dituju.

Liburan musim panas juga merupakan detik terakhir kepengurusan organisai yang menjamur di Mesir ini. Dan program terakhir mereka biasanya adalah rihlah sa’idah. Seperti halnya organisasi yang menjamur itu, Dewan Perwakilan Daerah Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (DPD PPMI) yang berada di bagian timur Mesir, Zagazig, organisasi kami yang berada di daerah, juga melakukan hal yang sama, rihlah. Kali ini tujuan perjalanannya adalah Siwa dan Matruh. Siwa, katanya, merupakan sebuah pemukian warga yang masih natural. Dan bahasa mereka rada berbeda dengan bahasa Mesir secara umun. Dan banyak juga tempat bersejarah di sana, seperti halnya daerah lain di Mesir yang kental dengan nilai historis. Apa iya demikian? Hmmm. Kita ikuti saja perjalan rombongan.

Rombangan bertolak dari Zagazig pada jam sebelas malam, telat satu jam dari waktu yang telah direncanakan. Sengaja pilihan jatuh pada malam hari karena siangnya sangat panas dan membuat letih serta lesu. Dan esensi dari perjalanan tidak akan didapatkan. Kalau malam, kita bisa bersantai, karena udaranya sejuk, serta bisa memanfaatkan waktu siang untuk jalan-jalan sesuka hati.

Setelah semuanya berkumpul, bus ful AC itu mulai bergerak. Perlahan meinggalkan kawasan As Salam, sebuah kawasan tempat pelajar asing (Indonesia dan Malaysia) banyak tinggal. Perlahan hanya tampak titik kecil pada kawasan itu, lalu lenyap dari pandangan.

Keceriaan begitu terpancar dari raut setiap orang. Lega. Sebulan kurang telah bersusah payah menghadapi soal-soal ujian. Semua pikiran tertumpu pada diktat kuliah, terkadang bikin sumpek. Urat-urat pikiran tegang oleh baris-baris kata yang tak kunjung nempel dalam ingatan –sebagian orang-. Kini, semua bisa dilupakan untuk sesaat. Sekarang semuanya bisa ditinggalkan sejenak dengan berekreasi bareng.

Alunan lagu arab, gai delwakti yang dilantunkan Maya Nasri, mengiringi perjalanan malam ini, lagu yang distel supir itu membuat mata mulai mengantuk. Di luar jendela, bentangan pijar lampu yang memanjang, mempercatik rupa malam dengan kerlap-kerlipnya yang memesona. Tiang pabrik yang menjulurkan lidah api, menari-nari mengikuti irama angin. Semua begitu indah terlihat. Menyatu dengan simponi malam yang remang.
Perlahan, benang putih dan hitampun bisa dibedakan. Cahaya kebiruan mulai berebut tempat dengan pekat. Langit mulai tampak biru. Cukup lama dalam perjalanan. Sopir tampak sibuk melihat kiri kanan mencari kafe yang bisa dijadikan untuk rehat sejenak dan shalat shubuh bagi yang belum sempat shalat di atas mobil. Pemandangan masih berupa padang pasir yang membentang luas.
Tak lama kemudian, mobil berhenti disebuah pom bensin mengisi amunisi. Perjalanan panjang ini mesti ful tank kalau tidak ingin menginap dijalanan. Mobil kembali mengurangi kecepatannya. Ada sebuah kafetaria di depan, kafetaria dua puluh lima januari. Kata ‘Dua puluh lima Januari’ mengingatkan aku pada revolusi Mesir yang dimulai pada tanggal itu, hingga rezim Mubarak tumbang. Kafe itu masih tampak sepi. Mungkin karena masih pagi. Hanya ada satu dua pengunjung selain kami. Di kafe itu semua beban dibuang. Dan bisa shalat bagi yang belum shalat di dalam mobil.

Setengah jam kemudian, perjalanpun dilanjutkan kembali. Kali ini dengan rasa ringan dan dapat kembali bercengkerama. Jiwa-jiwa sudah siap bertempur manaklukkan Siwa yang konon katanya ada Oase, sebuah mata air yang terdapat di tengah gurun. Benar nggak, sih? Hmmm.

Perjalanan ini betul-betul perjalanan gila. Kenpa? Kalau aku pulang ke Indonesia dari Mesir, tanpa transit, tentunya sudah sampai. Delapan jam-an. Tapi ini masih dalam perjalanan dan belum tampak tanda-tanda Siwa. Disekeliling masih padang gersang kuning memanjang terpampang. Berbukit-bukit. Tak ada pemandangan lain yang menarik. Kalau perjalanan ini dilakukan di Indonesia, tentunya hijau pohon dan tanaman yang akan terlihat. Dan dapat menyegarkan pikiran yang butek. Meski demikian, perjalan ini tetaplah asik, karena bersama rekan-rekan dan kali pertama aku pergi. Tentunya beragam pertanyaan tentang Siwa masih menggelantung dan butuh jawaban.

Dari kejauhan, kulihat segerobolan domba menyebar di tengah padang pasir yang panas. Menggit rumput-rumput kasar yang tumbuh. Tak seperti binatang ternak yang hidup di bumi Indonesia yang dengan mudah akan mendapatkan rumput-rumput segar. Dengan kekuasaan Allah, domba ini bisa berkembang di tengah kerasnya hidup padang pasir. Diantara kekuasaan Allah lain yang aku lihat, rumput-rumput bisa tumbuh di tengah keringnya padang yang tak ditetesi hujan. Subhanallah! Rumah-rumah juga tampak berjajar. Jarang-jarang dan menyerupai kubus.

Setelah sebelas jam perjalan, akhirnya kami bisa sampai di tujuan, Siwa. Sebuah pemukiaman yang asri sudah terpajang di depan mata. Pohon kurma layaknya rimba, bertumpuk-tumpuk. Ditambah semak belukar. Walau banyak pohon kurma, tapi tak mengurangi teriknya matahari membakar kulit. Angin yang berembus tak bersahabat sama sekali. Meski demikian, tak tampak keletihan diwajah teman-teman. Tak ada bangunan yang mencakar di sini, seperti halnya bangunan di tempatku tinggal, Zagazig. Di sini bangunan yang paling tinggi dua tingkat. Selebihnya merata kayak bangunan rumah di desa-desa di Indoensia. Yang menyamakan bangunannya dengan daerah Mesir lainnya hanyalah warna yang kuning kecokelatan.

Orang-orangnya masih alami, itu terlihat dari pakaian yang kebanyakan mereka kenakan. Dan sebagian kendaraan masih menggunakan hewan. Keledai-keledai tampak menggeret gerobak kayu beroda. Orang-orang Mesir duduk dibelakangnya bak naik angkot. Kendaraan moderen, seperti mobil dan motor, hanya beberapa saja terlihat. Lebih didominasi hewan yang hilir-mudik. Pakaian mereka masih menggunakan jalabiah. Alami bana ma!

Perkerja-pekerja keras jalabiahnya sudah menyatu dengan warna tanah. Yang putih sudah memudar. Yang hitam sudah gak karuan. Kusut dan kotor. Besar kecil. Tua muda, berjalabiah. Sedangkan wanitanya memakai cadar atau lebih tepatnya burkah. Menghijab semua bagian wajahnya. Yang terlihat hanyalah bayangan mata dibalik kain tipis yang menutupi.

“Mereka curang, ya!” Kelakar salah seorang teman.
“Mereka bisa melihat kita, tapi kita tidak bisa melihat mereka.”
“Hahaha!” Ketawa kami meletus.
23.21.00 | 0 komentar
Share photos on twitter with Twitpic

Bersama ikhwah memenuhi undangan orang Mesir

Orang kaya sedang beerfose. (Hihihi... gak malu)

Menggaya saja, biar dibilang keren. Hahaha...

Makan sate bareng konco-konco. Walau mahasiswa, kita gak kalah saing ya sama emak-emak. Hahaha... kita..?? Lu aja kali...!@#$%
Share photos on twitter with Twitpic

Jelajahi

Share photos on twitter with Twitpic

Tentang Seseorang

Foto saya
Seorang sosok yang ingin di atas biasa orang. Tapi seringkali tertinggal oleh kereta yang merangkak. Sering tenggelam oleh gerimis penggal malam. Dan selalu tegak, namun tak kalah cepat dari keong. Tetap optimis, karena gerimis sepenggal malam takkan menenggelamkan gunung menjulang.

Arsipan

Total Tayangan Halaman

free counters

Makan sate bareng di hari lebaran