Assalamu'alaikum...,  Ahlan Wasahlan |  sign in  |  

Ahlan...

Sebuah blog untuk mengekspresikan diri. Manampung tetes pikiran yang jatuh. Sebuah parit kata, yang merayap dari celah jiwa. Sebuah bejana penyambut derai-derai inspirasi. Di sini dicoba untuk dieja. Kali saja menjadi huruf yang bisa dibaca. Menjelma alenia, membentuk cerita. Kalaupun berupa coretan tak berbentuk, mohon seka raut yang berluluk. Biar cerah. Dan jahitkan saku yang masih melambai. Karena aku sosok yang tak luput dari alpa. Thank's!


Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Amuk Badai

Written By rumah karya on Jumat, 22 Juli 2011 | 15.27.00

Supriono betul-betul tidak tahu harus berbuat apa lagi, uang ditangannya sudah tipis, di jaman yang moneter ini dapat apa dengan uang segitu. Ia pusing delapan keliling. Pekerjaannya sebagai pemulung kardus tidak bisa membawa anaknya, Titi, yang sedang sakit ke puskesmas, boro-boro Dokter. Sebagai pemulung, ia hanya bisa mengumpulkan sepuluh ribu perhari, itu pun kadang-kadang sebagiannya diperas oleh para pemalak.

Ia termenung disamping gerobak kumuhnya. Duriki, anak lelakinya berlari-lari riang disampingnya, ia tak mengerti kalau bapaknya sedang dalam masalah. Yang ia tahu hanya bermain dan bermain, karena memang usianya yang masih kecil, tujuh tahun. Di dalam gerobak kumuh itu terkapar seorang gadis kecil, wajahnya pasi, tubuhnya kurus. Sesekali merintih.

“Pak sakit… sakit pak….”
“Sabar ya, Nak, sebentar lagi Titi sembuh, kok. Nanti kita main bersama lagi.”

Hanya kata itu yang bisa diucapkan Supriono untuk mengobati anaknya tersebut. Supriono tak sanggup membawa anaknya kerumah sakit, karena tak ada uang. Hanya sekali ia membawanya ke puskesmas, setelah itu tak pernah lagi. Tidak ada yang bisa dipinjaminya, karena mereka juga memang pas-pasan. Tinggallah Supriono dengan penderitaan, tanpa ada yang meliriknya. Pemerintah yang mendengung-dengungkan pengobatan gratis untuk kaum miskin tak pernah ia dapatkan. Pernah suatu ketika ia meminta surat miskin, tapi ditolak, dengan alasan, “Anda bukan orang sini”. Semenjak itu ia tak pernah lagi mengurusnya. Fokus pada pulungannya.

Semua beban itu ia pikul sendiri, karena istrinya telah meninggal. Ya, dua tahun silam ia pergi dengan tekanan batin. Dua anaknya itulah kini yang setia membantu.
Hidup di Tebet membuat ia susah bernafas. Semua penuh dengan sesak oleh mereka yang terpelajar, mereka yang duduk gagah di atas kursi-kursi empuk. Bahkan yang terpelajarpun terkadang tak jauh lebih baik dari nasibnya. Apalagi Supriono yang bukan orang berpendidikan tinggi, sekolahnya hanya sebatas Sekolah Menengah Atas saja. Keahliannya juga tidak ada, kecuali memulung dan memilah tumpukan sampah.
Tatapannya kosong. Air matanya tak terasa menetes disela pipi yang mulai keriput dan mengkerut tak terawat. Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Ditatapnya anaknya itu dengan mata nanar. Tulang-tulang badannya sudah terlihat jelas, anak tiga tahunan itu semakin kecil badannya.

“Sabar, ya, Ti. Tidak lama lagi Titi akan sembuh.”
“Bapak, nanti aku ingin sekolah seperti mereka,” Menunjuk kekumpulan anak-anak yang
baru pulang sekolah. “aku ingin jadi presiden, aku ingin membantu orang miskin. Berobat gak perlu bayar. Biar nanti, kita tidak memulung kardus lagi. Boleh ya, pak. Boleh, ya.”
Semakin jatuh air matanya mengingat cita-cita mulia anaknya itu. Ia hanya menjawab dengan senyuman,
“Mulia benar cita-citamu, nak. Tapi entahlah, rasanya bapak tidak mungkin bisa memenuhinya. Dapat makan saja kita bersyukur.” Gumamnya dalam hati.
Perlahan kekuatan anaknya semakin lemah. Terlalu kecil bagi dia untuk menahan sakit. Dan akhirnya, nafas terakhir pun dihembuskan dipangkuannya. Supriono hanya bisa menangis menyesal tak bisa berbuat banyak untuk menolong. Dia terpukul menyaksikan sang anak menghembuskan nafas terakhir. Dipeluknya erat-erat. Tak henti-hentinya memaki diri.

“Ayah macam apa saya ini. Tidak bisa melindungi anak sendiri. Saya memang tak berguna.”
“Maafkan bapak, Titi. Bapak tak bisa berbuat apa-apa. Maafkan bapak.”

****

Ia berjalan menarik gerobak kumuh itu. Titi berbaring tak bernyawa. Kardus-kardus kumuh menutupi tubuhnya. Kini persoalan kedua datang, ia tak punya cukup uang untuk penyelenggaraan pemakaman. Di mana ia harus mendapatkan uang. Pusing kembali merambati pikirannya. Tak ada saudara di Tebet ini yang bisa ia pinjami. Orang-orang kaya terlalu tinggi tembok rumah mereka. Baru saja sekali bel dipencet, gonggongan anjing sudah menyambut. Dan mengemis hal yang paling pantang baginya.

Ia terus menarik gerobak kumuh itu. Setelah lelah berjalan, sampailah dia di stasiun kereta, Tebet. Ia akan membawa anaknya itu ke Bogor, Kampung Keramat, kampung kelahirannya. Di Tebet ini ia tak cukup uang untuk pengurasan jenazah anaknya. Uang dia hanya cukup untuk ongkos saja. Ia membopong si kecil dibalut dengan sarung lusuh. Sengaja ia lakukan itu agar orang tidak tahu kalau anaknya telah meninggal. Si Dursiki ia gandeng. Anaknya tersebut tidak tahu kalau adiknya telah meninggal. Orang-orang di dalam kereta tampak cuek tak ada yang memperhatikan. Ranpa disangka kereta berhenti mendadak. Kontan membuat gendongannya terlepas. Anaknya terjatuh membentur lantai. Sarung penutup badannya tersingkap.

“Hati-hati, Pak.” Ucap seorang penumpang seraya membantu mengangkat. Dan betapa kagetnya penumpang tersebut. Ia merasakan dingin menjalar ketubuhnya begitu memegang tangan anak kecil itu.
“Kenapa tangan anak bapak dingin sekali? Apa dia sakit?” Tanyanya kaget penuh penasaran. Tatapan orang-orang mulai menyapu Supriono.
“Tidak kenapa-napa, Pak. Dia hanya kurang enak badan.” Jawab Supriono kikuk.
Bapak tersebut tampak tak percaya. Dipegang nadinya. Tak berdetak. Dicek nafasnya, tak berhembus.
“Anak bapak sudah tidak bernyawa.”
Mendengar itu kontan saja segerbong heboh. Supriono sedikit takut dengan perubahan ini. Tapi kemudian dia segera menguasai diri.
“Iya, Pak. Dia telah meninggal satu hari yang lalu.” Terangnya.
“Lantas mau dibawa kemana dia.” Tanya penumpang lain tak kalah heran.
“Saya akan membawanya ke Bogor, kampung Keramat. Saya akan menguburkannya di sana.”
Kecelakaan kecil itu membuat ia berurusan dengan polisi. Ia diamankan oleh polisi setempat. Meminta keterangnnya kenapa anaknya itu bisa meninggal. Apakah ada unsur pembunuhan. Polisi tidak begitu saja percaya dengan penuturan para penumpang.
“Pak, saya harus segera menguburkan anak saya.” Mohon Supriono kepada polisi.
“Ma’af, pak, kami harus memeriksa anda, dan mengotopsi anak anda. Apakah benar ia mati secara wajar. Bukannya kami ingin merepotkan anda.”
Dengan terpaksa akhirnya Supriono harus mengikuti kata polisi itu. Ia digirng ke polsek setempat. Ia diintrogasi oleh seorang polisi yang kekar. Tampangnya sangar. Mengenakan baju kaos melar.
“Apa yang menyebabkannya meninggal?” Tanya polisi itu.
“Ia meninggal karena sakit, pak. Sakit perut.” Terang supriono.
“Kenapa bisa meninggal?”
“Kami tinggal di daerah kumuh. Makanan yang kami makan tidak sehat. Metabolisme tubuhnya tidak kuat. Hingga ia sakit. Suatu ketika makanan yang ia makan terkena virus. Dan saya tidak punya uang untuk mengobatinya! Saya hanya seorang pemulung kardus. Pengahasilan jauh dari cukup!”
“Saya tidak yakin dengan penjelasan yang anda berikan. Begitu benyak zaman sekarang akibat ketidak mampuan terjadi pembunuhan, termasuk anaknya sendiri.”
Mendengar itu supriono kaget. Ia tak menyangka polisi itu akan berkata demikian.
“Maksud bapak saya membunuh anak Saya.” Ucap Supriono berang. “Meskupun saya orang miskin, saya tidak sampai hati membunuh anak sendiri”
“Untuk mebuktikan kebenaran perkataan anda, kita akan mengotopsinya. Tapi mungkin besok kita akan berangkat. Karena rumah sakit agak jauh.”
“Tapi, pak, saya harus segera menguburkannya.”
“Ma’af, pak. Untuk melancarakn penyelidikan, saya harap bapak tidak menghalangi.”
“Ini bukan masalah halang-menghalangi, pak. Ini masalah penyegeraan pemakaman.”
"Bapak! Apakah anda ingin saya tahan di bui sini dengan tuduhan pembunuhan?” Ucap polisi itu marah.
Karena terpaksa lagi, akhirnya Supriono menurut saja. Ia tak mau urusan lebih panjang lagi.

****

“Pak Supriono,” seorang polisi memanggilnya.
“Saya, Pak.”
“Kami telah melakukan otopsi pada anak bapak. Dan kami mendapatkan beberapa memar dan lebam bekas benturan benda keras. Dan kami akan menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Dan dalam tahapan penyelidikan bapak kami tahan untuk sementara.”
“Ditahan, Pak.” Sontak Supriono terperanjat. “Apa yang telah saya lakukan, hingga mesti ditahan?” Tanyanya tak mengerti.
“Kami curiga ada yang tidak wajar dalam kematiannya.”
“tidak wajar bagaimana, pak? Bukannya sudah diotopsi?”
“Melihat memar-memar pada kulit anak bapak. Diansumsikan ada unsur kekerasan.”
“Tidak mungkin, Pak. Dia anak saya. Saya tidak pernah memukuli dia. Memar dikulitnya karena ia terjatuh dan membentur benda keras. Kulitnya tergores-gores tumpukan samapah keras.” Jelas Supriono penuh emosi.
“Itulah yang akan kami selidiki. Benar atau tidak perkataan bapak.” Ucap polisi itu sambil berlalu. Menyelipkan secarik kertas ditangan Supriono.
Supriono bingung. Tak mengerti maksud polisi itu. Kenapa polisi tersebut menghalangi langkahnya untuk segera menguburkan anaknya. Kenapa sulit sekali. Kenapa ia dipandang sebagai orang yang patut dicurigai atas kematian anaknya. Dia bukanlah seorang ayah yang tega menghabisi darah dagingnya. Dia bukanlah binatang buas yang untuk mempertahan hidup harus menghabisi sesama. Ia bukan penjahat.
Lunglai. Habis sudah tenaganya ditekan perasaan. Dibukanya lembaran kertas itu dengan malas. Betapa terperanjatnya ia membaca tulisan pada kertas itu. Ia tak percaya.

“saya bisa membantu memperlancar urusan anda. Dan segera menguburkan anak anda dengan segera. Tantunya dengan imbalan yang pantas. Silahkan datang ke ruangan saya. Kita bicarakan lebih lanjut.”
Supriono bingung. Heran. Zaman gila macam apa ini. Kenapa orang semiskin dia masih saja ada yang berharap. Tak ada yang dimiliknya. Kenapa masih ingin memakannya. Tak henti-hentinya Supriono bertanya pada dirinya sendiri. Pertanyaan yang tidak menemui jawaban sedikitpun.

****

Karena memang tak ada yang dimiliki Supriono. Akhirnya polisi itu membebaskan dia. Dan akhirnya Suprionon dapat mengelus dada. Ia sudah dibolehkan untuk membawa kembali anaknya. Supriono tak habis pikir, kenapa untuk menguburkan anaknya mesti berbelit-belit. "Mungkin ini sudah takdir." Pikirnya. Ia hanya bisa pasrah menjalani semua. Mungkin ini adalah konswekensi dari keras kepalanya dulu. Yang tidak mendengar saran dan nasehat tetangganya. Kini ia baru menyesali.

Supriono sebenarnya adalah seorang saudagar di kampungnya. Sawahnya banyak, kebun luas. Ternak. Tambak. Banyak. Hidup di kampung membuat ia bosan. Dan ingin mencari sesuatu yang baru dalam kehidupannya. Ia ingin pergi merantau ke Tebet mengembangkan usaha. Dan di sana ia sudah memiliki kenalan. Kenalan itulah yang akan membantunya nanti. Ia sudah begitu percaya pada semua perkataan kenalannya tersebut. Tak ada curiga. Para tetangga sudah memperingati. Kalau kenlannya itu bukanlah orang yang jujur. Tapi ia tak percaya dan menulikan telinga.

“Sudah banyak korban penipuannya. Kamu jangan percaya pada semua gombalan dan retorika dia.” Seorang tetangga mengingatkan suatu saat.
“Tapi hati saya berkata lain, Pak. Saya yakin bisa bekerja sama dengan dia.” Jawabnya membela diri.

Tetangga itu tidak bisa berbuat banyak. Tidak ada haknya untuk melarang. Sebagai tetangga ia sudah menjalankan tugasnya. Mengingatkan.
Belum genap satu tahun. Perkataan tetangga Supriono menjadi kenyataan. Semua uangnya habis ditilap oleh kenalannya tersebut. Atas musibah ini. Istri Supriono syok. Dan tak tahan. Lalu meninggal. Semua harta telah dijual untuk modal usaha yang tidak jelas ujudnya. Kini, tinggallah Supriono dengan dua anaknya terkatung-katung di Tebet. Malu ia memperlihatkan wajahnya pada tetangganya. Dan hal itulah yang membuat ia tak berani pulang. Ia sudah mencari pekerjaan kesana kemari, tapi tak ada yang mau menerimanya. Memang sulit meyakinkan orang lain di Tebet ini. Jalan terakhir yang dilakukan Supriono menjadi pemulung. Dan disanalah musibah kedua menimpa anaknya, Titi Khairunnisa. Hidup dilingkungan kumuh. Kerja kumuh menyebabkan penyakit menghatam putrinya.
15.27.00 | 0 komentar

Demi Sebuah Asa

Written By rumah karya on Rabu, 27 Oktober 2010 | 00.25.00

“Nak, ini uangnya!" Empat lembar ratusan ribu diserahkan Amak pada Buyuang.
“Cukupkan?” Tanya Amak kembali.
”Insya Allah, Mak. Ini lebih dari cukup.” Jawab Buyuang lembut. Seraya menerima uang itu.
“Buyuang, uangnya dihemat! jangan dihambur-hamburkan. Ingat! kehidupan kita hanya seperti ini! belajarlah yang rajin. Carilah ilmu yang banyak. 'Buah yang jatuh tidak akan kembali ketangkainya.' Kalau soal biaya? Tak usah pikirkan! Amak akan berusaha mencari!" Buyuang haru mendengar semua itu. Tak tega mebiarkan Amak.
"Terima kasih, Mak. Insya Allah. Buyuang akan jaga amanah Amak. Dan mempersembahkan yang terbaik." Ia sangat bangga pada Amak. Pada orang satu-satunya tempat ia bernaung sekarang. Pada orang yang membesarkannya dengan cinta, air mata bahkan darah.



***
Ya, semenjak Ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu. Ibunyalah yang mencukupi semua kebutuhannya. Ibunya bekerja menerima upah di sawah, kebun dan ladang orang. Dan kemudian uangnya ia gunakan untuk membiayai sekolah Buyuang. Juga, dari hasil penjualan pinang, di belakang rumah, yang ditanam Ayahnya dulu. Dari sanalah mereka menyambung hidup.


Buyuang sekolah di sebuah kota, Padang tepatnya. Ia menimba ilmu disana, di MAN 2 Padang. Di sanalah ia menunaikan segala amanah Amak. Orang yang menjaga, mendidik dan menjadikannya orang yang penuh optimis. Amak selalu memotivasi dan memberinya semangat, agar jangan pernah puas terhadap ilmu. Agar senantiasa istiqamah. Terkadang, Amak juga menceritakan semangat para pejuang ilmu dulu. Sehingga ada diatara mereka yang harus rela menempuh perjalanan jauh, melewati padang pasir terik. Dan terpaksa meminum air kencing sendiri, demi mempertahankan hidup, imam Ibnu Kharasi misalnya. Dan, juga seorang imam yang harus rela mencomot atap rumahnya demi ilmu, Imam malik. Kisah-kisah itu membuat semangatnya terlecut. Ia juga ingin seperti mereka. Gigih dalam mencari ilmu.

***
Amak, walau tidak tamat SD, kalau soal wawasan, nggak kalah saing dengan sarjana-sarjana IAIN. Meskipun sudah tua, Amak masih gigih mencari ilmu, membaca dan mengikuti pengajian-pengajian. Semangat itulah yang ditanamkan pada Buyuang. Beliau juga sering diminta jadi pemateri acara ta’lim ibu-ibu, walaupun kadang-kadang merasa minder dengan ustadzah Nur Haizah, jebolan al-Azhar satu-satunya di kabupaten, Hafidz Qur’an lagi, guru amak sendiri. Ustadzah Nur ngerti apa yang dirasakan Amak, begitu beliau biasa dipanggil. Sebab itu, ustadzah Nur sering menasehati, agar jangan pernah minder atau sungkan untuk menyampaikan yang benar, ”sampaikanlah walaupun satu ayat,” Begitu beliau mengutip hadits nabi. ”Rasa takut atau segan terhadap manusia janganlah sampai menghalangimu untuk menyatakan apa yang sebenarnya. Jika kamu memang benar melihat, menyaksikan atau mendengarnya sendiri."

***

Buyuang di sekolah terkenal dengan perangainya yang santun, ia disegani setiap orang. Ia kesayangan para guru dan teman-teman. Tak ada yang dengki padanya. Ia telah mengharumkan nama Sekolah. Bahkan di seataro Sumatera Barat namanya bersinar. Tak ada yang tak kenal. Ia selalu menempati yang pertama, baik di akademisi maupun ekstra. Ia HAMKA yang kembali dilahirkan, yang akan membangkit batang tarandam (baca: pohon terendam). Ia Natsir yang kembali diturunkan dari langit, membersihkan busuknya perpolitikan. Ia Imam Bonjol yang datang memurnikan ajaran Islam. Segala potensi ada padanya. Tapi sayang! itu dulu. Ketika semuanya belum terjadi, ketika semuanya masih normal. Berawal dari kecelakaan yang membuat ia harus kehilangan segalanya. Ia tidak bisa berfikir keras.
Waktu itu, ia pulang kampung dengan sebuah bus, SINAR GUMANTI. Bus itu menanjaki sebuah tanjakan yang sangat tinggi dan terjal, si Tinjau Lawik. Tepat di tengah tanjakan, mobil mati mendadak. Rem blong. Karuan saja, mobil tersebut mundur kencang dan menabrak tebing, untung tidak masuk jurang. Mobil remuk. Penumpang yang berjumlah tiga puluh orang, tewas di tempat kejadian peristiwa. Allah masih meberinya umur. Ia selamat. Walaupun harus rela kehilangan kejeniusannya. Dokter memvonis, ia tidak bisa berpikir keras, karena akan berakibat fatal. Waktu kecelakaan, kepalanya membentur keras job mobil, keras sekali. Sehingga sempat beberapa bulan tidak ingat apa-apa. Sejak saat itulah, ia tidak lagi bisa berbuat banyak. Setiap kali ia berpikir keras, kepalanya akan nyut-nyutan, pandangan gelap. Dan, akhirnya pingsan. Ia sebenarnya sudah putus asa terhadap hal ini. Dan tak ingin lagi sekolah. Tapi, Amak-nya salalu memberi semangat dan motivasi. Berkat dorongan dan motivasi itulah, ia masih terus lanjut sekolah.
"Itu semuanya dari Allah, Buyuang bersabar saja. Allah tidak menguji hamba-Nya di luar kesanggupan." Begitu Amak sering menasehati. Memembakar bara semangatnya.

Waktu terus merambat pergi. Meninggalkan jejak-jejak kehidupan. Cepat sekali. Setiap detik yang melintas, tiada terasa. Merugilah orang-orang yang lalai selama ini. Itulah kehidupan. Tepatlah yang dikatakan sebuah ungkapan, "Waktu itu terasa pendek, bagi orang yang senang. Dan terasa panjang, bagi orang yang diradang kesedihan."

***

"Hai!" Ada suara meriam menembak keras sekali. Tepat ditelinga. Menghentakkan badannya.
"Astaghfirullah." Dia terhenyak. Terdongok kedepan.
"Sialan! Kamu kalau manggil kira-kira dong!" Dia sedikit geram. Melipat jari.
"Sorry, sorry. Gitu aja marah" Jawab pengaget enteng. Tanpa merasa bersalah.
"Ada apa nyari-nyari saya." Membetulkan duduknya.
"Eh, Kamu sudah tahu belum pengumuman tes kemaren."
"Tes De-Pag maksudmu?"
"Iya."
"Belum tuh. Emang gimana?"
"Alhamdulillah, Yuang. Kita lulus, Berlima. Termasuk saya dan kamu."
"Ah, yang bener. Kamu lihat dimana?" Selidik Buyuang.
"Bener. Saya barusan lihat di internet bareng Ajo, Atuak dan Sutan."
"Alhamdulillah." Buyuang sujud syukur. Ia bertahmid memuji keagungan Allah.
"Terima kasih, ya Allah. Engkau telah mengabulkan doa hamba, 'Sungguh! Allah itu tidak pernah menyalahi janji.' Buyuang teringat perkataan Amakya, beberapa tahun yang lalu, 'sesungguhnya setiap kesulitan ada kemudahan.'"

Keras kerja, kini berbuah. Sekarang ia memetik hasil, dari usaha yang ditanam dulu, ia lulus ke Mesir. Suatu hal yang sangat luar biasa. Tak bisa di lukiskan. Kuliah di negri yang selama ini di idamkan, 'kenyataan hari ini, adalah mipi hari kemarin. Dan mimpi hari ini, adalah keyataan hari esok.' Begitu hasan al-Bana berkata.

"Anak-anak sudah pada tahu, Man?"
"Sebahagian sudah."
"Thank's, ya. Atas infonya. Sekarang saya mau ke wartel dulu. Nelpon Amak. Assalamu'alaikum." Beranjak meninggalkan Rusman.
"Ya, saya juga pengen ngubungin keluarga. Waalaikum salam."
bangkit dari duduknya.

Hari ini sangat indah dirasa Buyuang. Meskipun matahari memanggang. Tak dirasakan. Ia hanya merasa berada disebuah taman yang sangat sejuk, ditemani kicau burung yang merdu.

****
Disudut ruangan. Seorang wanita paruh baya, duduk mematung diatas kursi tua. Tatapannya kosong. Lurus kedepan. Diiringi buliran bening. Sesekali ia mengernyitkan dahi.
“Dari mana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu.” Ia bergeming pelan.
“Sembilan juta, bukanlah jumlah yang kecil.” Desahnya. Kembali melamun kosong. Menatap langit sore dengan hampa. Enam nol panjang yang berjejer di belakang sembilan, membuat ia berpikir keras.
Ia bangkit. Berjalan perlahan ke sebuah almari. Mengambil kotak kayu lusuh. Bila ditaksir, hanya berbeda beberpa tahun saja dari usianya kini. Ia mengeluarkan sesuatu dari kotak itu.
“Kalaupun ini kujual, masih sangat jauh dari cukup.” Menggenggam lemas benda tersebut.
Ia sangat sedih sekali, andai tidak bisa memenuhi semua janjinya. Janji pada anaknya yang menelpon beberapa waktu lalu, menanyakan perihal dana untuk ke Mesir. Sebenarnya ia ingin mengatakan belum ada sepeserpun. Tapi, berat sekali ia untuk mengatakan itu. Ia tak tega melihat anaknya kecewa.
“Dan dia memberi rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangaka.”
“Ibu Buyuang nggak berangkat kerja?” Tegur seorang tetangga yang lewat didepan rumahnya.
“Nggak buk.” Jawabnya pelan.
“Wajah ibuk kelihatan pucat. Apa Ibuk sakit?” Selidiknya.
“Iya, saya kurang enak badan. Tapi, nggak apa-apa kok. Paling bentar lagi juga baikan.”
“O, kalau begitu saya duluan ya buk, buru-buru nih, hampir malam.”
“ya, buk. Silahkan.”

***
Pagi ini, bandara Katapiang, Padang. Banjir akan manusia. Beragam. Tackoff. Landing. Ramai. Pagi yang mengharukan, derai air mata berjatuhan. Perpisahan akan terjadi. Bandara katapiang jadi saksi haru perpisahan itu.

"Buyuang, Pandai-pandai menjaga diri disana! Jaga kesehatan! Kalau sudah sampai kasih kabar Amak! 'Laut yang tenang tidak akan melahirkan pelaut yang handal!' Trus berusaha! Dekatkan diri pada Allah! Doa Amak menyertaimu." Amak merangkul Buyuang dengan air mata terus berguguran. Buyuang sendiri tak kuasa menahan buliran yang menggumpal di matanya.

"Insya Allah, Mak. Buyuang akan ingat pesan Amak."

Perpisahan yang sangat tak diinginkan terjadi. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Amak. Perasaannya berkecamuk, antara senang, sedih dan haru. Tapi, demi sebuah asa, semua itu harus ia lakukan, asa Amak, Buyuang dan semuanya.
Kini, Buyuang terbang bebas di udara. Menuju pulau impian. Mengumpulkan permata-permata.

Buyuang tidak pernah sadar dari mana datangnya dana. Sehingga ia bisa mengudara dengan Mandala. Ia tidak tahu, bahwa Amak-nya mati-matian banting tulang. Meminjam sana sini. Menggadaikan sertifikat rumah. Termasuk kebun pinang. Ia tidak pernah menyadari, di mana Amaknya akan tinggal, andai tidak bisa membayar semua itu. Buyuang tak pernah tahu.
"Sudah, Buyuang tak usah pikirkan." Begitu jawaban Amak, setiap kali ditanya. Amak tak ingin Buyuang tahu. Takut nanti menjadi beban pikiran.

Bisakah ia membuat bahagia orang yang mati-matian berjuang selama ini? Atau malah sebaliknya? Kita nantikan saja.
Selamat jalan Buyuang. Semoga engkau sukses mereguk apa yang kau impikan.
00.25.00 | 0 komentar

DILEMA

Dia duduk mematung. Kursi bambu lusuh seakan tak kuat menahan badan kecilnya. Kursi itu terlihat tua. Mungkin karena beban. Langit hatinya mendung, seperti halnya langit saat ini. Beberapa hari ini ia sering termenung. Di luar hujan tak pernah berhenti. Untung tempat tinggalnya berada di atas ketinggian. Andai seperti Jakarta -kata orang-, mungkin kampungnya akan menjelma jadi Danau. Ayah dan ibunya sudah berangkat kerja, ke ladang orang. Hujan tak jadi masalah. Karena memang kerja orang tuanya membabat rumput yang mudah sekali tumbuh di musim hujan ini. Kosong tatapannya. Pikirannya menerawang, menembus sekat-sekat ruang.
“Ma’afkan Ibu dan Ayah, Nak. Ayah dan Ibu ingin lihat kamu jadi orang. Tapi, kehidupan kita saat ini tidak memungkinkan untuk itu.”
Masih kuat terekam perkataan Ibunya itu. Ia melihat jelas buliran menetes dari kedua bola mata ibunya. Ingin ia menampung air itu. Tapi, ia tak kuasa. Ia masih terlalu kecil untuk itu. Apa yang bisa dikerjakan oleh anak sementah dia. Entahlah. Ia bingung. Dahinya berkerut. Dadanya bergelombang, menerjang dinding ketabahan. Terkadang ia sesak merasakan benturan kuat itu. Ia hanya bisa mengelus dada. Menenangkan badai gelombang yang menerjang.
****
“Apa tidak ada jalan lain, Pak. Ibu iba lihat Ena. Ibu sering melihat murung. Ibu takut terjadi apa-apa dengan dia.” Wanita paruh baya itu menatap suaminya lekat-lekat. Gurat kekhawatiran tergambar jelas dari rautnya.
“Bapak juga merasakan apa yang Ibu rasakan. Tapi, mau gimana lagi, Bu. Kita sudah tidak punya apa-apa. Cincin satu-satunya pernikahan kita sudah dijual.” Lelaki itu menenangkan istrinya. Tak sanggup ia membalas tatapan istrinya. Ia sudah bekerja sangat keras. Tapi, hasilnya tetap tak bisa mencukupi. Terkadang ia sempat berputus asa. Melihat kehidupan yang tak kunjung membaik. Untung ia selalu ingat nasehat gurunya.
“Pada hakikatnya setiap lorong kehidupan kita adalah ujian. Butuh benteng kesabaran yang tebal. Butuh ketegaran. Jangan pernah mengeluh.”
Masih kuat terekam kata-kata itu. Walaupun waktu sudah bergeser sepuluh tahun kemudian. Begitu mengenanya kata-kata itu. Tanpa diulangpun tetap terpahat di dinding momorinya. Tapi apa daya. Ia tak bisa berbuat apa-apa terhadap nasib selain bekerja dan bekerja. Hingga akhirnya ia lulus dari ujian ini.
“Pak!”
“Ya, Bu?”
“bapak pernah membayangkan tidak, kalau anak-anak kita jadi sarjana.”
“Pernah, Bu. Sering. Tapi, sekarang jangan bahas itu lagi. Bapak tak enak dengarnya.” Ia merasa sangat bersalah. Tak bisa menjadi pemimpin yang baik, yang membahagiakan anak istrinya.
“Maafkan Bapak, ya Bu. Tak bisa buat kalian bahagia. Tapi yakinlah, Bu, dibalik jeruji ujian ini, pasti ada buah manis yang akan kita petik nanti.”
Istrinya menganguk pelan.
“Amiin!”
****
Di rumah mungil itu. Ena tampak sibuk membolak-balik buku-buku. Buku-buku itu adalah hadiah lomba cerdas cermat antar sekolah sekecamatan. Ia berhasil jadi yang terbaik. Padahal persaingan sangatlah ketat. Tapi, kejeliannya menganalisa soal jebakan, buat ia berhasil peroleh kemenangan. Ia tersenyum sendiri mengenang kondisi saat itu. Betapa lucunya mereka semua kena jebakan. Semua melongo, ketika ia menjawab dengan sempurna. Heran.
“Assalamu’alaikum! Ena!”
Ada suara yang memanggilnya dari luar.
Ia berlari kecil menuju asal suara. Didapatinya seorang gadis kecil sebaya dengannya berdiri di halaman.
“Wa’alaikum salam.”
“Eka!” Pekiknya senang. “Tumben kamu ke sini. Ayo masuk. Gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah, baik.”
“Kabar sekolah gimana?” Tanyanya kembali
“Sepi.” Jawab Eka pendek.
“Lho, kenapa?” Ena penasaran
“Semenjak tidak ada kamu, semua sunyi. Kelas terasa sepi.”
“Maksudnya.” Ena tak mengerti.
“Na, kamu itu maskot di di kelas kita. Dan matahari di sekolah. Ketika kamu tidak ada, semua gelap. Bulan pun tak bisa bercahaya.”
Ena terdiam. Tertunduk. Haru. Ia mengerti perasaan teman-temannya. Ia masih ingat bagaimana mereka satu kelas dulu bersaing berebut soal dari bu Guru, siapa dapat dia boleh pulang duluan. Terkadang ada temannya yang tinggal sendiri, karena tak dapat menjawab pertanyaan. Indah sekali memang. Tapi mungkin sudah takdir, ia sekarang tak lagi bisa sekolah. Semenjak krisis, kehidupan keluarganya kritis, hutang menumpuk. Dan harus memaksa ibunya untuk ikut bekerja.
“En!”
“Ya.”
“Sebagai kawan, apa yang bisa kubantu?”
“Aku cuma minta tolong padamu untuk menghidupkan kembali semangat teman-teman. Jika Allah mengizinkan aku akan kembali bersama kalian.” Ena menepu-nepuk pundak sahabatnya.
“Cuma itu?”
“Ya, cuma itu. Salam untuk teman-teman. Ingat! Tetap semangat.”
“Baiklah kalau begitu. Kami menunggu kedatanganmu.”
Ena tersenyum.
****
Ena berlari menghampiri orang tuanya yang baru pulang. Badannya kecilnya menggigil.
“Pak! Pak!”
Belum sanggup ia merangkai kata.
“Ada apa, Na?”
“Orang kemarin! Orang kemarin datang lagi cari bapak. Ia marah-marah.”
Cess!
Ada yang merembes ke dalam dada bapak Ena. Jantungnya meronta. Ingin lepas dari ikatan urat. Takut. Cemas semua jadi satu. Seorang laki-laki gendut mondar-mandir di rumahnya. Perutnya buncit. Rambut keriting. Tangan mengepal-ngepal. Rautnya tak enak untuk dilihat. Tak bersahabat.
“Pak Mui!” Sapa bapak Ena. “Silahkan duduk, Pak.”
“Tak usah basa-basi.” Hardiknya dengan nada tinggi.
“Sekarang sudah melebihi batas waktu. Kalau bapak tetap tak bisa melunasi. Terpaksa saya bawa polisi ke sini.”
Langsung saja ia mencerca tanpa basa-basi. Bapak Ena yang baru pulang kerja sempat terpancing emosinya. Tapi, ia tak bisa apa-apa. Bahkan lebih dari itu, ia hanya akan diam saja.
“Beri kami tenggang lagi, Pak. Kami benar-benar belum punya uang. Kami mohon. Jika telah ada, kami pasti bayar.” Bapak Ena memohon dengan sangat.
“Iya, tapi sampai kapan?! Kemarin Anda juga bilang seperti itu. Saya capek nunggu, Pak.”
“Tolonglah, Pak.”
“Aah!” Mendorong bapak Ena yang mendekat.
Matanya menyapu isi rumah. Rak kayu dari papan, bertumpuk rapi baju-baju di atasnya. Tungku batu tiga. Tiga onggokan kayu bakar menyandar kedinding. Almari piring tua. Tripleks kusam pembatas kamar. Tak ada yang bisa disebut sebagai barang berharga di rumah itu.
“Mana sertipikat rumah?”
Pak Ena dan bu Ena kaget!
“Jangan, Pak.” Ibu Ena memohon.
“Cepat!” Melepaskan kepalan tangannya ke bawah.
Ia berjalan menuju rak kain dari papan. Baru tangannya akan menyentuh.
“Tunggu.”
Bu Ena berjalan mendekat.
“Baik. Jangan sentuh barang-barang saya.”
Lelaki itu tersenyum sinis.
“Semua ini milik saya.” Ucapnya sembarangan. Bu Ena tak ambil pusing. Ia masuk kamar. Tak lama kemudian ia ke luar.
“Ini!” Ibu Ena menyerahkan sertipikat rumah satu-satunya itu.
“Sertipikat ini bisa kalian ambil apabila kalian telah dapat melunasi hutang-hutang. Saya beri tempo dua minggu. Kalau tidak? Terpaksa kalian harus angkat kaki dari rumah ini.”
Lalu lelaki gendut itu berlalu tanpa salam. Mungkin tak pernah diajarkan oleh orang tuanya. Suami istri itu hanya diam. Pasrah.
“Sabar, ya Bu!” Menepuk-nepuk pundak istrinya.
Mengangguk pelan tanpa suara.
“Ya, Pak.”
Di dalam kamar, Ena menangis melihat orang tuanya dimaki-maki. Tidak hanya sekali orang itu mencerca. Dulu, hampir Ayahnya ditonjok. Itu juga sebabnya mengapa ia tidak mau memaksakan kehendak untuk sekolah. Ia mengerti bagaimana kehidupan keluarganya.
“Ibu!”
Ena keluar dari kamar. Memeluk ibunya. Ia merasakan beban yang sangat berat. Kulit wanita itu sudah mulai kendor. Gersang dibakar terik. Kerja keras yang dilakukannya setiap hari, membuat ia tampak tua. Badannya kurus. Rautnya legam.
****
Ia berjalan menapaki jalan kecil itu. Rerumput kecil menari-nari mengikuti irama angin. Di depannya sawah menghampar luas. Jembatan kecil melintang di atas kali kecil. Dari kali itulah penduduk mengairi sawahnya ketika hujan tak datang. Tapi sekarang kali itu meluap, rata. Tanggu-tanggul dan pematang tak terlihat. Jika dilihat dari jauh, hanya satu garis panjang yang membujur. Lalu garis itu dibelah menjadi dua bagian oleh pematang sawah yang dijadikan jalan. Di atas, langit kelabu. Awan putih yang arak-arak tak terlihat, apalagi matahari, mungkin ia malu menampakkan sosok, melihat ketimpangan yang terjadi. Yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin. Ena meniti pematang itu, tak tahu arah langkahnya. Terus saja ia berjalan. Tak seorangpun penduduk yang berlalu-lalang. Semua sudah di medan kerja, mengimas semak-semak yang menjalari pohon-pohon karet atau sawit yang cepat sekali tumbuh. Ayahnya pagi buta sudah meluncur. Hanya ibunya yang tidak ke mana-mana, kurang enak badan. Wajahnya Ena kusut. Ia sedang berpikir bagaimana mencari pintu keluar dari kurungan masalah ini. Otaknya tak henti bekerja, ia yakin pasti ada celah yang bisa mengeluarkan dari gudang masalah ini.
“Ma’af, Kek. Apa kakek butuh seorang pembantu. Saya bisa masak, mencuci dan pekerjaan rumah lainnya.” Ucapnya pada seorang kakek tua yang berpas-pasan denganya. Wajah kakek itu bersih. Rambut, jenggot dan kepalanya sudah mulai memutih. Pakaiannya rapi, meski itu pakaian kerja. Bot hijau panjang menempel di kakinya. Sekilas kakek itu memperhatikan Ena.
“Ena! Nak Ena-kan?” Kakek itu gantian yang bertanya. Seolah ia kenal.
“Iya. Nama saya Ernawati. Panggilan Ena. Kok kakek tahu?”
Kakek itu tersenyum.
“Anak kakek yang cerita.”
“O.” Mulut Ena membentuk bundaran. Ia tak ambil pusing dari mana kakek itu tahu. Yang ia perlu saat ini pekerjaan.
“Ena sedang apa di sini? Tidak sekolah?” kembali kakek itu bertanya.
“Sekarang sudah tidak, Kek.” Jawabnya ringkas.
“Kenapa?”
“Tak ada biaya, Kek.”
“Orang tua kerja apa?” Tanyanya penuh selidik.
“Menerima upah di ladang orang. Sejak krisis Ayah kehilangan pekerjaan.”
“Emang sebelumnya Ayah kerja di mana?”
“PT Sawit Bina Pratama Sekoto Jaya.”
Kakek tersebut terdiam. Naluri iba mengalir deras. Perlahan naluri itu berubah jadi lautan sedih. Tak sepantasnya ia menemukan Ena di pematang sawah ini. Apalagi ini adalah jam sekolah. Ombak tak rela menerjang karang perasaannya.
“Bagaimana tentang pekerjaan tadi, Kek?” Ena memecah lamunan kakek itu.
“Eh, I... iya.” Terbata.
“Besok sore kamu datang ke rumah Kakek. Blok E nomor 331. Sebut saja nama Kakek, Munaf. Insya Allah orang di sana kenal.”
“Terima kasih, kek. Insya Allah saya akan datang.”
Ena melonjak senang. Matanya berbinar. Ia melihat ada secercah cahaya merambat masuk ke celah pintu harapannya. Ia berharap ada pekerjaan yang akan diberikan kakek tersebut. Dan dapat menghidupkan api dapur rumahnya. Sekaligus membeli susu si Ima, adik mungilnya.
“Kakek tunggu kedatangannya.”
“Iya, Kek. Ena akan datang.” Jawabnya semangat.
****
Jantung Ena berdegup kencang. Berlarian. Darahnya mengalir deras mendobrak lorong-lorong nadinya. Senyumnya manisnya perlahan terhenti. Derap langkahnya tertahan. Keringat kecil mulai mencuat dari pori-porinya. Bulu romanya tegak seketika. Perasaan takut muncul. Ia kenal betul dengan rumah yang ada di depannya. Kebun bunga kecil. Pot-pot bunga menggantung. Rumput-rumput jepang yang menumbuhi halaman. Ia hapal betul. Ditambah dengan pohon rambutan sepinggangnya. Bukankah ia dan kawan-kawannya yang menciptakan semua itu, tiga bulan yang lalu. Berbagai pertanyaan meluncur dari busur benaknya. Siapa kakek ini? Kenapa dia tak pernah melihat kakek itu sebelumnya. Ena heran sekaligus ragu untuk menginjak pedal gas kakinya. Tapi janjinya dengan kakek Munaf memaksa ia untuk melangkah.
“Assalamu’alaikum.” Ena memberi salam.
Tak ada yang membalas salamnya. Semua terlihat sepi.
“Apa mungkin kakek Munaf lupa.” Pikirnya.
Tak lama kemudian pintu dibuka. Seorang pemuda tegak di sana. Kacamata tebal menutupi bola matanya. Rambutnya ikal. Kemeja petak-petak kuning berbaur hijau. Celana kain, hitam. Tersenyum ke arah Ena.
“Pak Guru!” Ena kaget.
…………………………………………

00.16.00 | 0 komentar

Menyulam Kelam (Bagian 3-selesai)

Written By rumah karya on Selasa, 12 Oktober 2010 | 16.28.00

Di Negriku, Abai Sangir, terdapat sebuah tambang emas. Letaknya dekat sebuah sungai. Perjalanan menuju ke sana sulit. Ekstra hati-hati. Kerikil liar, menendang-nendang ban motor. Kebanyakan para penduduk mencari uang di sana, termasuk angku Bustami. Sebenarnya beliau memiliki pekerjaan tetap di PT Sawit. Tapi, untuk tambahan, sekaligus mengisi sela-sela waktu, beliau bekerja di sana.

***

Tujuanku yang pertama mengajukan proposal adalah PT Bina Pratama Sekoto Jaya (nama sebuah PT Sawit) atau orang kampungku biasa panggil dengan sebutan Madik. Jalanan kesana bertanah. Berbukit-bukit. Medannya tidaklah sesulit ke tambang. Sesampainya di sana, aku langsung ke kantor pusat, Sentral. Di sana semua pejabat besar PT tinggal. Aku masuk ke dalam kantor yang ramai. Silih berganti orang berdatangan. Mulai dari Pengawas Blok sampai yang paling bawah, pekerja kasar. Ruangan kantornya tidak terlalu mewah. Meja tinggi memanjang. Kursi abu-abu. Dan ruang-ruang pegawai menyesakkan kantor itu. Meski PT tersebut besar, kantornya amat mungil. Saking besarnya PT ini setiap tempat di kepalai oleh seorang pengawas, satu tingkat di atas mandor. Pengawas inilah yang mengawasi dan bertanggung jawab terhadap segala pekerjaan yang ada di setiap Blok. Dia jugalah yang melaporkan ke pusat hasil kerja.
“Ma’af, Pak. Nama saya Irwan. Saya akan melanjutkan studi ke Mesir. Dalam hal ini saya mengalami halangan dana, untuk itu saya ingin mengajukan proposal di sini.” Aku menjelaskan maksudku pada seorang pegawai. Masih muda. Berkacamata. Rambut lurus berbelah dua. Pakain trendy. Baju abu-abu panjang tangan.
“Boleh saya lihat.” Pintanya
“Tentu.” Aku keluarkan satu eksemplar proposal dari dalam ransel. Ia mengamat-amati. Membalik-balik lembarannya.
“Baik, proposal ini saya terima. Silahkan adik hubungi tiga hari lagi. Saya akan ajukan proposal ini kepada pimpinan.”
“Terima kasih, Pak.”


***

“Kapan kamu pergi ke kantor Camat dan Bupati?” Tanya ibu sambil mengangkat jemuran. Diangkasa langit jingga kemerah-merahan. Mega-mega tak ada yang berarak. Ribuan kalong membentuk jalanan hitam di angkasa, kembali ke sarang mereka.
“Insya Allah besok, Bu.”
“Sendiri?”
“Dengan Dedi.”
“Hati-hati! Jangan ngebut. Ingat! Sebentar lagi kamu berangkat. Jaga kesehatan.”
“Iya, Bu.”

Aku memang terkenal pengebut dalam bermotor. Jarak yang ditempuh satu jam. Aku bisa setengahnya. Tentunya dengan perhitungan yang tinggi. Tidak asal kebut. Sore ini kuhabiskan ‘tuk bersantai, menikmati alam lingkungan yang asri. Pohon-pohon nangka, durian, kelapa, rambutan, semua hidup berdampingan di samping rumah. Di atas kursi panjang halaman rumah, pinggir nanas yang rimbun, bawah pohon jengkol yang rindang, aku memandangi langit sore yang bersih dari awan hitam. Sekarang di kampungku musim hujan. Minimal tiga kali dalam seminggu. Kampungku termasuk daerah tinggi. Jadi, tidak perlu khawatir kebanjiran. Daerahnya berbukit-bukit. Juga hijau pepohonan mencegah semua itu.

“Dedi!” Teriakku. Memanggil teman yang akan kuajak untuk menemani mengajukan proposal, yang kebetulan lewat di depan rumah.
“Iya.”
“Besok jadikan jam delapan pagi.”
“Insya Allah.”
“Mau kemana?”
“Beli makanan. Ada saudara yang datang dari kampung, Batu Sangkar.”
“O.”
“Saya duluan, ya.”
“Iya. Silahkan.”

***

“Sebaiknya apa tidak besok saja. Di luar jalanan masih basah dan licin.” Ibu memberi saran. Hujan semalam lebat. Air menggenang di setiap cekungan. Jalanan licin. Pohon-pohon basah. Itu menandakan hujan benar-benar lebat.
“Tidak apa-apa, Bu. Insya Allah Iwan akan baik-baik saja.” Aku tetap bersikeras untuk tetap pergi.
“Besokkan masih bisa!”
“Jika ditunda, nanti waktunya tidak cukup.”
“Kalau begitu ya sudah. Tidak apa-apa. Hati-hati!”
“Terima kasih, Bu.”

Pagi ini, jarang sekali kulihat orang-orang berkendaraan motor lalu lalang. Tampanknya mereka lebih memilih di rumah mengerjakan pekerjaan lain, ketimbang ke kebun atau ke ladang. Kecemasan ibu memang beralasan. Jalanan basah dan licin. Yang paling mengerikan ketika turunan. Terlebih berparit-parit. Sedikit saja bannya kepeleset, bisa guling-guling. Tanjakan tidak menjadi masalah. Ban anti keplater.

“Bukkkk!”
“Aduh!”
Dedi mengaduh. Memegangi kakinya yang terjepit.
“Sorry! Sorry, Ded. Ban depannya slip. Kamu tidak apa-apakan?”
“Tidak. Cuma nyeri sedikit di bagian tulang kering.”
Turunan yang barusan kami turuni licin dan keras. Sisi parit di tengah jalan mengakibatkan ban bergesek, dan menghilangkan keseimbangan. Lebih kurang satu jam, akhirnya kami sampai juga di mulut jalan aspal. Kami berhenti sejenak di sungai yang memotong jalan, membersihkan pakaian. Lega rasanya bisa keluar dari jebakan. Kalau jalanan kering, cukup ditempuh dengan setengah jam saja.

Kami melanjutkan perjalanan. Jalanan beraspal. Lebih santai. Kecepatan standar. Melewati kebun-kebun karet yang rindang. Tidak terasa, kami telah memasuki pelataran kantor Camat Sangir Jujuan, sepi. Luas. Bangunannya masih baru. Dari cat yang menempel di dinding, jelas! Bahwa kantor itu masih baru. Kami masuk ke dalam. Disana kursi kayu panjang untuk tamu menggeletak berhadapan.
“Maaf, Pak. Saya ingin mengajukan proposal. Saya harus berhubungan dengan siapa?.” Aku bertanya pada seseorang yang sedang duduk membaca koran di atas kursi panjang beranda kantor.
“Silahkan Adik temui Tata Usaha di ruangan sebeleh kiri sana.” Menunjuk ke arah samping ia duduk.
“Terima kasih, Pak.”

Aku dan Dedi melangkah ke ruangan yang di maksud. Di sana kulihat duduk seorang perempuan cantik dengan jilbab putih menempel indah di kepalanya. Ia tampak sibuk menulis dan membolak-balik kertas.
“Tok... tok....”
“Assalamu’alaikum.” Kami memberi salam padanya.
“Waalaikum salam. Silahkan masuk.” Ia menjawab dengan ramah sambil terus menulis. Kami duduk di kursi yang menggeletak dua buah di depan mejanya.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Begini, Buk. Saya ingin mengajukan proposal permohonan dana untuk melanjutkan pendidikan.”
“Boleh saya lihat.”
“Tentu.” Aku mengambil satu eksemplar proposal dari dalam tas.
“Silahkan dilihat.”
Ia menerima proposal itu. Membolak-balik halaman demi halaman.
“ke Mesir?” Tanyanya
“Iya.”
“Jauh sekali.”
Aku hanya menjawab denga senyuman.
“Baik. Nanti saya akan berikan ke pak Camat. Sekarang beliau tidak ada di tempat.”
“Terima kasih. Kapan saya bisa ke sini lagi.”
“Tiga hari lagi.”
“Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu.”
“Silahkan.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam”
Kami keluar kantor dengan lega. Tiga hari lagi harus ke sini, terhitung semenjak sekarang.
“Sekarang kita ke mana, Wan?” Tanya Dedi sambil menurunkan kaki celananya.
“Ke kantor Camat Sangir Padang Aro. Sekaligus Bupati. Kalau sempat nanti ke kantor DPRD dan Depag.”

Kami terus memacu kendaraan. Berpacu dengan deru angin. Membelah hijaunya pepohonan, rumah-rumah. Menyalip kendaraan-kendaraan lain. Melewati bukit-bukit dengan jalanan yang amat sempit. Tikungann tajam. Sedang di bawahnya menganga jurang. Kalau ada mobil yang berlawanan arah, salah satunya mesti mengalah. Sedang di sampingnya, bukit tinggi menjulang. Berbatu. Tegak bak tembok panjang yang melindungi China dari tentara Mongol. Lebih kurang satu jam kami sampai di depan kantor Camat. Seperti halnya di kantor Camat Sangir Jujuan, pak Camat juga tidak di tempat. Eksterior dan interior kantor sepi. Selanjutnya kami ke kantor Bupati yang terletak hanya beberapa meter, masih satu wilayah. Kantor Bupati luar biasa, ramai dengan orang-orang yang keluar masuk. Beragam jenis mereka. Mulai dari yang muda sampai yang tua. Mulai dari yang berdasi sampai yang tanpa alas kaki. Di interior depan, Satpol PP berjaga-jaga. Biasanya Satpam. Mungkin mereka (baca: Satpol PP) sedang Praktek Lapangan (PL). Mereka asyik memperhatikan yang berlalu-lalang. Terkadang tersenyum-senyum melihat tingkah para pengunjung yang beragam pula. Mulai dari yang kalem, pendiam, sampai yang berteriak-teriak, mencaci-maki. Entah apa yang dicaci dan dimaki.
“Maaf, Pak. Kalau mengajukan proposal tempatnya di mana?” Aku bertanya pada salah seorang di antara Satpol PP.
“Di ruang Tata Usaha. Silakan berjalan ke arah sana.” Menujuk kearah sampingnya.
“Nanti Adik akan melihat sendiri letak ruangannya.”
“Terima kasih.”

Tidak sulit untuk mencari ruangan yang dimaksud, karena di atas kusen pintunya tertera tulisan ‘ruang Tata Usaha.’ Aku masuk ke dalam. Dedi menunggu di luar. Sebuah ruangan yang sempit. Tiga meja kerja. Dua wanita muda. Satu laki-laki tua. Kalau melihat tampang dan kursi yang tinggi, laki-laki tua tersebut kepalanya. Di mejanya tertulis sebuah nama berbordir, Drs Hisyam. Aku menyerahkan satu eksemplar proposal pada beliau.

“Mesir!” Berdesis dengan nada seakan tidak percaya. “Adik mau ke Mesir?” Beliau bertanya memperkuat desisannya.
“Insya Allah, Pak.”
“Subhanallah! Belum ada orang Solok Selatan yang sekolah sejauh ini. Dan tidak tanggung, al-Azhar lagi. Universitas masyhur, yang telah banyak menelorkan Ulama. Bapak salut. Terus terang Bapak sangat sedih melihat kondisi negeri kita saat ini. Di mana generasi mudanya sudah sangat jauh dari nilai-nilai Agama. Yang lebih disayangkan adalah para orang tua yang juga ikut tak peduli. Mereka lebih senang memasukkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah umum ketimbang sekolah-sekolah Agama, dengan dalih biar cepat dapat kerjaan.” Beliau curhat padaku. Tatapannya menerawang, seakan-akan menembus langit-langit kantor.
“Iya, Pak. Saya juga sangat prihatin. Dan ini jugalah salah satu yang memotivasi saya untuk kuliah di Universitas al-Azhar. Mendalami ilmu-ilmu agama“ Aku ikut tersugesti perasaan pak Hisyam.
“Insya Allah, Bapak akan selalu mendoakanmu.”
“Amiin. Terima kasih, Pak”
“Baiklah, nanti Bapak akan ajukan proposal ini kepada pak Syafrizal -Bupati-. Beliau tentu sangat senang, ada putra daerah yang melanjutkan studi ke luar negri, al-Azhar-Mesir, untuk mendalami ilmu-ilmu agama“
“Terima kasih, Pak. Kapan saya bisa ke sini lagi?”
“Empat hari lagi.”
“Kalau begitu saya permis dulu.”
“Silahkan.”

Ternyata di negri ini masih ada orang yang seideologi denganku. Memperhatikan nilai-nilai agama yang mulai aus terkikis waktu. Aku kira rasa peduli telah mereka.
Selanjutnya kami ke kantor DPRD. Gedungnya persegi panjang. Di belakang gedung tersebut terdapat sebuah bangunan mewah, bercat kuning, Polda (baca:Polisi Daerah). Sedang di depannya (baca: kantor DPRD) kantor Departemen Agama. Setelah kantor DPRD aku ke kantor Depag mengajukan proposal. Ternyata hasilnya sama, ‘dana untuk pendidikan tidak ada.' Bedanya, kalau di kantor DPRD semua dana telah diserahkan ke Bupati. Sedang di Depag, dana kosong.
Perjalanan yang melelahkan. Demi sebuah asa, semua itu harus aku lakukan. Aku tidak ingin membebankan semuanya pada Ayah dan Ibu. Aku ingin membantu mereka. Minimal meringankan. Aku sangat kasihan pada mereka. Seolah-olah waktu dua puluh empat jam itu seluruhnya waktu bekerja. Walau mereka tak pernah mengeluh dan meminta bantuan untuk membantu.


***
Seminggu kemudian.
“Maaf, Dik. Proposal Adik sudah saya ajukan ke pak Camat. Tapi, belum ada respon. Mungkin beliau sibuk.” Pegawai tersebut menjelaskan. Aku sedikit kecewa, sudah tiga kali aku bolak balik ke sini. Tapi, hasilnya tetap nihil. Pertama, setelah tiga hari yang dijanjikan. Jawabannya sama, belum ada tanggapan. Dan memintaku untuk datang keeesokannya. Tapi, tetap tidak ada. Dan hari ini yang terkhir. Tetap nihil. Aku kecewa sekali.
Sudah tiga kantor Camat yang aku kunjungi. Ini yang terakhir. Pertama, kecamatan Sangir Batang Hari. Hasilnya sama, bedanya di sana langsung ditanggapi. Dan menyatakan terus terang, bahwa tidak ada dana.
“Terus terang kas kosong. Tidak ada dana yang bisa dikeluarkan, sebagai bentuk peduli, Bapak beri saja uang beli bensin. Jangan lihat jumlahnya. Bantuan juga bisa berupa doa bukan? Nanti biar Bapak bantu mengajukan proposal ini kepada tender-tender.”
Kedua, kecamatan Sangir. Dan di sana aku hanya mendapatkan lima puluh ribu rupiah. Alhamdulillah.

Perkataan pak Hisyam ketika menyerahkan dana proposal tiga hari yang lalu, kembali membayang, “Ingat! Apa yang kamu terima ini adalah amanah yang harus kamu laksanakan. Apa yang kamu terima hari ini, nanti akan diminta pertanggung jawabkannya. Penduduk akan bertanya kepadamu, apa yang telah kamu bawa untuk mereka? Allah juga akan bertanya kepadamu, kamu kemanakan amanah yang diberikan dulu. Jangan sampai kamu mengecewakan.” Nasehat itu begitu dahsyat, menggetarkan dadaku. Perkataan beliau membuka mata dan pikiranku. Bahwa apa yang aku terima tidaklah main-main, adalah sesuatu yang nantinya harus dipertanggung jawabkan, baik Dunia maupun Akherat. Kalau dipikir-pikir, zaman sekarang, dua setengah juta bukanlah jumlah yang besar. Tapi, amanahnyalah yang besar. Dan akan dipertanggung jawabkan.

Dengan menggabungkan seluruh dana yang aku peroleh, lumayan meringankan beban ayah dan ibu. Lima puluh ribu dari camat sangir pusat. Dan tiga ratus ribu dari PT Bina Pratama Sekoto Jaya. Walau dibandingkan dengan kebesaran dan kekayaannnya, jumlah itu sangat jauh sekali. Tapi, aku tetap bersyukur. Ditambah lagi patungan sanak saudara. Dari patungan mereka semua terkumpul lebih kurang satu juta lima ratus. Ditotalkan semuanya empat juta rupiah. Untuk biaya pengurusan mulai dari pasport, pakaian, transportasi dan lain-lain, menghabiskan setengahnya, dua juta rupiah. Bantuan-bantuan dari simpatisan lumayan mengurangi beban ayah dan ibu. Sementara proposalku yang di Padang, tidak keluar. Waktu yang sangat sedikit memaksaku untuk tidak dapat mengurusnya.

***

Pagi ini, pelataran rumahku ramai dengan tetangga, sanak saudara, handai taulan dan yang hanya sengaja ingin melihat keberangkatanku. Pagi ini, adalah pagi terakhirku bertemu dengan mereka, karena pagi ini juga aku akan berangkat ke Padang. Aku sedih, harus berpisah dari mereka.
“Berpandai-pandailah di sana. Kami semua menunggumu.”
Begitulah mereka berpesan. Seolah-olah mereka tak ingin dikecewakan. Berat memang amanah ini. Tapi, aku harus menjalaninya. Setelah berpamitan kepada mereka semua, aku beserta rombongan berangkat meninggalkan Abai Sangir.
“Cinta terhadap kampung, pergi menjauhinya. Jangan bertelor di dalamnya.”
Sepenggal kata tersebut mempunyai makna yang dalam. Sepenggalan kata yang diucapkan oleh mertua Ustazdku beberapa bulan yang lalu. Pergi tentu tidak sembarang pergi. Tapi, pergi yang mempunyai arti. Salah satu arti tersebut dengan menuntut ilmu dan kembali membangun negeri.

***

“Mana busnya?” Tanya ibuku dengan cemas.
“Katanya jam delapan.” Jawabku dengan nada yang tak kalah gusar. Sudah satu jam setengah kami menunggu. Bus tersebut belum juga nongol-nongol. Aku jadi sedikit panik. Padahal tack oof jam 11.00 Wib, sekarang sudah menunjukkan jam 09.00. Waktu yang dibutuhkan ke Bandara satu jam kurang, belum lagi kalau-kalau macet. Aku mondar-mandir sendiri kayak orang bingung. Keringat dingin mengucur dari pori-pori. Semua keluargaku tegang. Terlebih ibu. Ketegangan itu sejenak kemudian sirna. Dari jauh kami melihat bus mendekat.
“Itu busnya.” Teriakku girang. Semua saudaraku berdiri, bersiap-siap.
“Indaruang, Da”
“Cesss…!”
Dadaku berdesir. Ada sesuatu yang merembes ke dalam. Membuat udara di dalamnya panas, serasa akan meledak karena gesekan. Keringat semakin deras saja mengucur. Ternyata salah bus, bukan bus ke Indarung yang kami tunggu.
“Masak kamu lupa bentuk busnya, Wan.” Ujar pamanku sedikit kecewa.
Rasa panik membuatku lupa bentuk bus yang dipesan. Berselang beberapa menit kemudian datang satu bus lagi. Melihat background depannya, “NEVITA” aku yakin inilah bus yang kami tunggu. Ternyata dugaanku benar.
“Waduh, saya minta maaf sekali.” Kata sopir tersebut. “Tadi bannya bocor. Terpaksa saya harus tambal dulu. Kemarin ban serepnya pecah, belum sempat membeli yang baru. Saya sudah dari jam tujuh berangkat. Satu jam sebelum perjanjian. Agar tidak telat. Tapi, ya mungkin sudah takdir, di tengah jalan banya bocor.”
“Ya sudah, Pak. Tidak apa-apa. Kira-kira kita bisa sampai sebelum jam setengah sebelas?” Kulihat jam handphone sudah menunjukkan pukul 09.30 Wib.
“Insya Allah, bisa.”
“Baiklah kalau begitu. Ayo kita berangkat.”
Ada sedikit kelegaan. Walaupun rasa cemas masih menari. Mobil yang semula santai, perlahan mulai menambah kecepatan. Mobil-mobil yang berlawanan arah menjauh dengan cepat. Alhamdulillah, jalanan tidak macet. Mobil bisa melaju dengan tenang tanpa hambatan. Mobil mulai memasuki kawasan yang agak sepi, menjauh dari jantung kota. Di tempat sepi inilah bandara Katapiang Padang berdiri. Semula bandara ini berada di Tabiang (baca: Tebing), sebuah daerah yang berada tepat di jantung kota Padang. Semenajak berubah status menjadi bandara Internasional, akhirnya dipindahkan ke tempat yang lebih luas, yaitu di perbatasan Lubuk Buayo (baca: Lubuk Buaya) dengan Pariaman.
Ternyata apa yang dikatakan sopir tidak salah. Kami sampai tepat jam 10.15 Wib. Disana teman-temanku sudah berkumpul. Lengkap dengan saudara-saudara mereka. Mereka sudah bersiap-siap masuk ruang lobi.
“Jaga dirimu di sana ya, Nak. Jangan lupa kabar-kabari Ayah dan Ibu di kampung. Belajarlah yang rajin. Berpandai-pandailah di sana. ‘Pisang itu belum tentu berbuah dua kali.’ Gunakan kesempatanmu dengan baik.”
Aku haru, tak kuasa menahan buliran yang menggumpal di kelopak mata. Wajahku seketika memerah. Hari ini perpisahan terjadi. Aku akan pergi meninggalkan mereka semua. Sedih. Senang, mengharu biru, jadi lautan rindu. Yang harus ditumpahkan suatu waktu.
“Insya Allah, Ayah-Ibu. Iwan janji akan menjalankan amanah ini sebaik-baiknya. Mohon doakan Iwan selalu.”
Kupeluk mereka satu-persatu. Menumpahkan beban yang bergejolak dalam dada. Beban yang sangat berat sekali.
Mandala Air Lines resmi menjadi pemisah antara aku dan keluarga. Ia membawaku terbang membumbung ke angkasa. Meninggalkan segalanya. Menuju sebuah pulau yang berlimpah harta, yang tak ternilai dengan angka.

“SELAMAT TINGGAL SEMUANYA, DOA DARI SEMUA, SELALU KUNANTI.”
16.28.00 | 0 komentar

Menyulam Kelam (Bagian 2)

“Astaughfirullah.”
Aku terpekik dengan hasil analisaku. Benar apa yang dikatakan sopir pak Masparasit, tidak masuk akal. Ingatanku kembali menerawang ke kejadian tadi, “Pak Harun Nasution lulusan Amerika. Beliau sudah beberapa kali mendapat penghargaan dari pemerintah, karena sumbangsihnya dalam pendidikan. Dan sekarang mengajar di Universitas ANDALAS. Beliau juga dosen terbang di ITB Bandung. Menjelaskan alamat dengan sangat detail. Seakan menerangkan alamat sendiri. Cepat akrab. Saling tukar nomor. Pembicaraan yang saling menguatkan. Mimik yang mencurigakan. Koin pembawa penyakit. Melalaikan perintah kakek tua dalam mimpi. Anak belum dirawat di rumah sakit M. Djamil Padang. Uang registrasi yang belum cukup. Menyerahkan koin kepada pemilik sawit atau orang pertama yang pertama kali ditemui, dalam hal ini adalah aku.” Semuanya janggal. Sekarang aku baru bisa merasakan semua itu. Kenapa tadi tidak? Apakah aku diguna-guna? Ah, tidak mungkin. Aku manggut-manggut mengerti sekarang. Perenunganku berhasil membuka simpul-simpul syaraf otak. Hampir saja aku masuk perangkat. Untung Allah menyelamatkanku lewat telpon pak Masparasit. Kalau tidak entah apa yang terjadi. Mungkin aku akan terus mengumpat karena kebodohan sendiri.
“Jika kamu menolong (Agama) Allah, Allah pasti menolongmu.”

***
Matahari mulai menuruni tangga langit, yang semula tegak, kini mulai condong ke Barat. Mengurangi terik. Mega-mega putihpun saling berebutan melindungi bumi. Teduh. Sejuk. Angin sepoi-sepoi. Dedaunan menari-nari. Pepohonan melik-liuk. Semuanya menunduk, memuji keagungan Tuhan.
“Bagimana mana hasilnya, Wan?” Kak Hamid bertanya.
“Belum ada. Handpone pak Gamawan Fauzi -Gubernur- tidak aktif. SMS juga tidak dibalas. Tampaknya beliau sibuk sekali. Pak Masparasit juga mencoba mengajukan ke-Dewan Penegak Syariat Islam. Seminggu lagi diminta ke sana.”
“DPRD, bagaimana?”
“Anggaran untuk itu tidak ada. Semuanya sudah dimasukkan kedalam anggaran Gubernur.”
“O.”
Kak Hamid kembali menyapu Mushallah yang sempat terhenti karena kedatanganku. Aku lebih memilih istirahat dalam kamar, lelah. Seharian aku keliling kota, keinstansi-instansi mengajukan proposal. Hampir semua instansi di kota Padang aku kunjungi. Tapi, hasil nyata belum tampak.

****

“Tit... tit... tit....”
Keras sekali klason mobil memanggil-manggil di luar.
“Kak, saya pamit dulu.”
“Ya, hati-hati di jalan.”
“Do’anya. Assalamu’alaikum.”
Aku segera berlari keluar. Terburu-buru. Tidak enak sama sopir travel yang sudah lama menunggu.
“Ayo, Dik. Kita musti buru-buru. Masih banyak penumpang yang akan dijemput.” Ujar sopir tersebut dari dalam mobil.
“Ya, Bang. Ma’af, tadi saya ketiduran lagi setelah Shubuh.” Aku segera masuk ke dalam. Duduk di jok paling belakang. Baru beberapa penumpang. Dua wanita di samping sopir. Dua lelaki dibelakangnya. Dan dua laki-laki di depanku. Semuanya berjumlah tujuh orang denganku. Masih kurang lima penumpang lagi, agar semua bangku terisi. Mobil segera melaju meninggalkan Mushallah Nurul Ihsan, Penjernihan II. Hari ini aku pulang kampung, mengajukan proposal di sana. Biasanya aku pulang naik bus di Bay Pass, tempat bus biasa nongkrong. Atau langsung ke terminal Aia Pacah (baca: Air Pecah). Tapi, terlalu jauh. Bus dari terminal semuanya melewati Bay Pass. Untuk menghemat waktu, biasanya aku langsung ke Bay Pass dengan menaiki angkot dua kali. Semenjak travel menjamur, tak pernah lagi naik bus. Walaupun harganya lebih mahal. Tapi, yang jelas memuaskan. Kita di jemput dan diantar ke alamat.

Persiapan ke Mesir, aku dituntut untuk banyak belajar. Belajar bagaimana berusaha, bersabar, sekaligus mengurus semua keperluan, baik berupa administrasi ataupun lainnya. Banyak sekali hal-hal baru yang aku dapatkan dalam perjuangan ini. Sangat menyenangkan. Suatu saat nanti akan kutulis dengan tinta emas. Kenang-kenangan di hari tua. Mobil terus melaju jauh meninggalkan Mushallah tempatku dan kakakku tinggal. Sebelumnya aku indekost. Semenjak tamat dan lulus tes ke Mesir, aku memustuskan untuk tinggal di Mushallah. Ngirit uang. Sebenarnya Mushallah tempatku tinggal hanya untuk dua orang saja, kakakku dan temannya. Lantaran aku sering shalat dan Imam di sana, pengurus akrab denganku. Ketika aku mengutarakan keinginan untuk tinggal sementara, mereka -para pengurus- tidak keberatan. Meski tidak digaji seperti halnya mereka, aku sama sekali tidak keberatan.
Di kelas satu dulu, aku tinggal di Asrama yang diapit oleh dua sekolah, Tsanawiyah dan Ibtidayyah. Dari sekolah, letaknya tidak terlalu jauh. Cukup berjalan lima menit. Kelas dua dan tiga aku indekost. Karena Asrama tidak lagi diperuntukkan untuk laki-laki.
By Pass ramai sekali. Mobil-mobil berseliweran. Simpang yang memebelah jalan jadi empat, macet. Antrian di setiap sudut simpang memanjang. Belum lagi macet disebabkan bus-bus yang berjejal-jejal di pinggir jalan, membuat jalan yang semula luas jadi sempit.
Di luar jendela mobil, kulihat para kernek berteriak-teriak, mencari penumpang.
“Solok... solok....”
“Sangir... Sangir....”
Berlomba. Adu suara. Adu ketangkasan dalam menggaet penumpang. Perlombaan yang menarik untuk dinikmati.

Mobil mulai menanjaki tanjakan tinggi, Si Tinjau Lawik. Di sisi kanan, jurang menganga lebar. Curam dan terjal. Siap memangsa yang kurang hati-hati. Sedang di sisi kiri, bukit berbatu tegak mematung, menyaksikan arus lalu lintas yang tak pernah sepi dan berhenti. Di sisi bukit, terpampang papan peringatan, “warning! hati-hati longsor.” Batu-batu bukit itu tidak melekat erat. Dan siap meluncur bila hujan, menghantam jalanan. Hutan-hutan masih hijau. Hanya satu dua bukit yang gersang tanpa pepohonan. Sebuah bukit yang di gasak oleh PT tua, Semen Padang, untuk bahan Semen. Bukit tersebut tampak putih dari kejauhan. Truk-truk. Traktor. Buldoser. Mesin Cangkul. Para pekerja, semua terlihat berupa titik-titik kecil dari kejauhan. Di sepanjang perjalanan, hanya bukit-bukit hijau yang menghampar. Menjulang tinggi. Mencakar langit.
Jarak antara Padang dengan kampungku lumayan jauh, enam jam perjalanan. Itu jikalau mobilnya normal. Tidak mogok. Jalanan berliku-liku tajam. Sempit. Kalau tidak hati-hati bisa tabrakan. Atau masuk jurang. Kebun-kebun teh menghampar hijau. Rindang. Sungguh luar biasa. Asri tiada terkira. Lebih kurang setengah jam, mobil berhenti, turun makan. Setiap mobil dari Padang, biasanya berhenti di tempat ini, Alahan Panjang. Sebuah perkampungan yang sangat dingin. Di Sumatera Barat ada dua daerah dingin, Bukit tinggi dan Alahan Panjang. Aku turun, perut lapar sekali, tadi tidak sempat sarapan, terburu-buru.

“Mbak nggak turun?” Tanyaku pada seorang wanita muda berjilbab pink.
“Nggak, masih kenyang.”
Aku langsung bergegas turun. Tapi tidak langsung ke rumah makan, ke sungai. Membuang semua beban kecil dan besar, sekaligus cuci muka yang kucel kena debu. Setelah itu baru ke rumah makan, mengganjal perut. Seperti biasa, aku memesan gulai ayam dan satu teh hangat. Luar biasa, nikmat sekali. Berkali-kali aku minta tambah pada pelayannya.
“Ah, kenyang....” Celetukku sambil menarik nafas dalam. Aku segera membayar ke kasir. Sebelum akhirnya ke mobil menunggu penumpang lain. Baru saja kakiku melangkah meninggalkan rumah makan, sayup-sayup kudengar suara wanita memanggil-manggil dengan nada gusar.

“Pak... pak... pak....”
Tidak jelas ke arah siapa panggilan itu ditujukan. Aku menoleh ke asal suara. Seorang gadis remaja dengan baju serba ketat. Suara itu mengundang perhatian orang, penasaran. Berbondong-bondong orang ke asal suara. Nafas wanita itu tersenggal-senggal. Wajahnya berkeringat. Pucat. Seakan menyimpan suatu beban.
“Ada apa?” Tanya seorang bapak-bapak. Bapak itu adalah kasir tempatku membayar tadi.
“Ada perempuan dan bayi.”
“Seorang perempuan dan bayi? Bapak tersebut kembali mengulang. Bingung akan maksudnya.
“Di WC kita ada seorang perempuan paruh baya. Awut-awutan. Kusut. Bajunya kumuh. Wajahnya kucel tak terawat. Sedang di depannya ada seorang bayi. Pusarnya masih panjang. Tapi, sudah tak terlihat tarikan nafas.” Terperanjat semua yang mendengar. Semuanya berhamburan ke arah yang di maksud. Benar, seorang perempuan kumuh dengan seorang bayi tidak bernyawa di depannya. Wanita kucel tersebut tergeletak. Tapi, masih ada tarikan nafas.
“Innalillaahi wainnalillaahi rooji’un.” Hampir bersamaan orang mengucapkan kata itu.
“Apa yang terjadi ini? Siapa yang tega melakukan ini?” Pertanyaan bapak itu mengawang. Hilang tanpa jawaban.
“Sungguh sangat tidak berperikemanusiaan. Kasihan sekali dia.”
Semua orang heran mendengar ucapan bapak itu.
“Apa maksud Bapak dengan mengatakan, ‘siapa yang tega melakukan ini?” Tanya salah seorang ibuk-ibuk. Pertanyaan itu sekaligus mewakili yang lain. Bapak tersebut diam sejenak. Mengelus-elus dagunya yang ‘tak berkumis.
“Pastinya saya tidak tahu. Yang jelas dia sering muncul di sini. Dia sedikit ada kelaianan jiwa. Terakhir dia datang 7 bulan yang lalu. Tidak ada tampak buncit pada perutnya. Saya tidak habis pikir ada orang yang tega menghamili dia.” Padat bapak tersebut menjelaskan. Dari rautnya tampak rasa geram, marah, sekaligus kecewa.
“Kenapa bayi itu meninggal?” Tanya ibuk itu kembali.
“Saya tidak tahu.”
Kemudian wanita itu diangkat untuk dirawat. Sedangkan anaknya dimandikan sebelum kemudian dikebumikan. Keji sekali orang yang telah menghamili perempuan malang itu. Bukannya ditolong. Malah di sakiti. Zaman edan. Kalau nafsu mengubun, apapun bisa terjadi. Termasuk kambing sekalipun bisa digarap. Nafsu binatang. Tak pandang-pandang. Aku tidak sempat menyaksikan kelanjutan peristiwa itu. Sopir travel keburu memanggil.
“Kasihan sekali wanita itu ya, Dik.” Komentar seorang bapak di sebelahku.
“Iya, Pak.”
“Kok ada orang yang tega berbuat demikian. Benar-benar keji.” Lanjutnya dengan nada geram.
“Semoga saja kasus ini segera terungkap.”
“Ya, semoga saja.”

****

Setelah enam jam perjalanan, akhirnya aku sampai di perempat jalan menuju rumah. Harus berjalan satu jam terlebih dahulu, menanjaki tanjakan tinggi yang beronggok-onggok, untuk sampai ke rumah. Biasanya aku di jemput. Kali ini mungkin ayah sibuk, sehingga tidak bisa menjemputku. Dulu, tidak perlu berjalan kaki, bus-bus atau travel-travel langsung ke Desa. Tapi, semenjak jalanan rusak parah, tidak ada lagi kendaraan umum yang berani mengambil resiko. Di sepanjang perjalanan, sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah ladang-ladang hijau, sungai-sungai dan danau-danau kecil.
Dengan penuh keletihan, akhirnya aku sampai juga di depan rumah. Masih seperti dulu, halamannya gersang. Tak ada bunga-bungaan yang menghiasi. Di daun pintu, kulihat adik bungsuku sedang menutup pintu. Mengusir ayam ayam yang bertengger di sana. Ayam-ayam di kampungku tidak sopan, itu sebabnya pintu harus ditutup. Ketika melihatku, ia urungkan niat itu.

“Ibu! Udo iwan pulang!” ia berteriak senang. Berlari menghampiriku. Mencium tangan.
“Gimana belajarnya, Ti?” Tanyaku padanya. Pertanyaan itulah yang sering aku ajukan setiap kali berjumpa dengannya. Dia agak pemalas, tapi agresif. Namanya Hidayati. Biasa aku panggil Yati. Anaknya agresif. Rajin.
“Alhamdulillah lancar. Udo gimana juga kabarnya?”
“Alhamdulillah, baik. Ayah dan Ibu ada di rumah?”
“Ibu ada. Ayah belum pulang.”
“Kemana?”
“Jualan keliling.”
“O.”
“Do, mana ole-olenya?”
“Tenang. Udo bawa banyak. Ayo kita masuk.”
“Horeeee!” Ia jingkrak-jingkrak mengiringi langkahku. Aku geleng-geleng senang memperhatikan tingkahnya yang lucu dan masih kekanak-kanakan. Setiap aku pulang, ia tak pernah lupa menanyakan ole-ole. Aku sedih, jika tidak bisa membawakan ole-ole untuknya. Yati, Yati….


****

“Ibu menyarankan, sebaiknya kamu pakai motor Angku (baca: Paman) Bustami saja. Motor beliau masih baru. Tidak seperti motor Ayahmu, sering sakit-sakitan.”
“Iya, Bu. Besok Iwan akan coba pinjam. Semoga saja tidak dipakai.”
“Besok biar ayah antar.” Ayahku menimpali.

Kampungku namanya Abai Sangir. Desa pribumi. Tidak ada campuran dengan penduduk manapun. Jikalaupun ada, bisa dihitung. Jalanan di sana sudah di aspal kasar. Listrik sudah masuk. Desanya ramai. Seluruh sanak-saudaraku tinggal dan hidup di sana. Sedang aku, ayah, ibu dan adik-adikku tinggal di Transmigrasi. Yang terletak tidak jauh dari Abai Sangir, kampung asliku.
Keesokannya kami berangkat dengan Supra tua andalan ayah dalam berdagang keliling. Motor itu sebenarnya motor baru, hanya karena dipaksa terus bekerja, meyebabkan ia tua dan sakit-sakitan, ditambah medan yang jelek. Untuk menghemat waktu, kami menempuh jalan pintas, melewati hutan kecil yang sepi. Berbukit-bukit. Semula hutan ini tidak ada yang memanfaatkan. Sekarang sudah banyak yang berladang di sana. Semenjak zaman bertambah maju, jalan ini kemudian diperbaiki dan di perlebar. Jalan pintas ini bertemu dengan jalan utama, jalan yang menghubungkan dengan Desa tetangga. Dipinggir jalan utama, mengalir sungai, sungai Tantiak. Di pinggir sungai ini ladang-ladang kacang, jagung, menghampar. Rata-rata sebagian penduduk, terutama yang tua-tua, menghabiskan hari-harinya di sini.
“Ayah hanya bisa menyediakan ke perluanmu. Sedang mengurus sesuatunya, ayah serahkan padamu.” Ayahku membuka pembicaraan.
“Insya Allah, Yah. Iwan akan berusaha.” Jawabku tersenyum, sambil terus memperhatikan pemandangan yang eksotik itu.
Ayahku hanyalah seorang petani. Beliau tidaklah terlalu mengenal seluk-beluk administrsi negeri ini. Pendidikan beliau hanya sampai SD, itupun tidak selesai, hanya sampai kelas lima. Keadaan yang memaksa beliau untuk hanya sampai di situ. Sebagai gantinya, beliau belajar di luar, kepada guru-guru ngaji. Dan ditambah dengan membaca buku. Dari sanalah beliau mendulang ilmu.
Sebuah bangunan berbentuk rumah gadang (baca: Besar) tegak memanjang. Di depan bengunan tersebut berdiri sebuah plang putih bertuliskan “Kantor Camat Sangir Batang Hari,” sebuah kecamtan di Solok Selatan.
Lebih kurang setengah jam, kamipun sampai di rumah. Tidak ada siapa-siapa yang kami jumpai, hanya nenek dan anak bibiku, Frengki. Kakek, bibi serta suami beliau tidak ada.
“Kakek dan Bibi Anti, kemana, Nek?” Tanyaku pada beliau yang sedang memasak di dapur.
“Belum pulang kerja.” Sambil meneruskan pekerjaannya.
“O.”

Hanya duduk beberapa menit, kemudian aku melanjutkan perjalanan ke rumah angku Tami, berjalan kaki. Ayah sudah kembali ke Trans. Banyak pekerjaan yang harus beliau selesaikan. Jarak rumahku dengan rumah angku Tami tidak jauh. Hanya beberapa menit saja sampai.
Di pelataran rumah bercat kuning, kulihat berdiri sebuah sepeda motor merah. Mengkilat. Pintu rumah tidak ditutup. Gorden kaca digulung. Isi rumah terlihat jelas dari luar, karena kaca jendelanya yang bening.
“Tok... tok…”
“Assalamu’alaikum.”
Tak ada suara yang menjawab salamku. Kusapu pandangan ke penjuru rumah, sepi. Tak lama aku menunggu, sejenak kemudian keluar seorang ibu paruh baya, mengenakan daster coklat dengan kain panjang melilit pinggang hingga kaki.
“Wa’alaikum salam. Eh, Iwan” Jawabnya ramah. Menghampiriku. “Silahkan masuk. Jangan berdiri di situ.”
“Terima kasih, Ngai (baca: Ibu).”
“Kapan dari Padang.”
“Kemarin.”
“Sendirian?”
“Iya.”
“O.”
“Angku Tami ada?” Tanyaku langsung ke tujuan.
“Ada. Sebentar, ya. Biar Ingai panggilin.”

Rumah yang sederhana. Almari potong penuh alat pecah belah. Sofa kuning. Meja makan cokelat di daun pintu dapur. Tirai-tirai dari keong kecil. Gorden pink. Keramik putih dengan karpet hijau menghapar di atasnya. Teko merah. Dua gelas kaca kosong. Kesemuanya tertata rapi. Tak lama kemudian dari arah belakang muncul seorang lelaki tinggi besar, kekar, tegap. Posturnya bak postur tentara, ditambah dengan baju kaos ketat yang menempel di badan. Beliaulah orang yang kucari, angku Bustami.
“Iwan! kapan pulang?” Tanya beliau senang. Pertanyaan andalan. Ini memang sudah menjadi kebiasaan. Setiap ada yang pulang dari rantau, baik pelajar atau pekerja. Pertanyaan yang pertama kali muncul, ‘kapan pulang.’ Dan uniknya tak pernah basi.
“Kemarin, Ngku.”
“Gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah, baik. Angku sendiri bagaimana?”
“Alhamdulillah, cuma sedikit flu.” Menyeka air bening yang keluar dari hidungnya. “Pulang tambang kemarin hidung mampet. Masuk angin.” Tambah beliau.
“Semoga cepat sembuh.”
“Amiin. Oya, ada yang bisa Angku bantu?” Baru saja aku akan menyatakan tujuan, beliau mendahului.
“Begini, Ngku. Sehubungan dengan kuliah ke Mesir. Iwan mau pinjam motor untuk pengurusan proposal. Apa Angku tidak keberatan?”
“O tentu tidak! Dengan senang hati Angku akan pinjamkan.”
“Nanti Angku pergi ke tambang pakai apa?”
“Itu masalah gampang. Nanti bisa numpang sama teman.” Beranjak dari tempat duduk.
Dari arah dapur mertua beliau muncul membawa minuman.
“Silahkan diminum, pak Ustazd.”
Aku tersenyum kecil dipanggil dengan pak Ustadz.
“Terima kasih, Ngai.”
“Ngomong-ngomong, kapan berangkat ke Mesir-nya?”
“Insya Allah bulan September. Tanggal pastinya belum tahu.”
“O. Ayo silahkan diminum.” Kembali menawarkan, sambil beranjak meninggalkanku.
Tak lama kemudian, angku Bustami muncul.
“Ini kuncinya. Ada uang beli minyak?” Aku tersenyum kecil.
“Kebetulan minyaknya mau habis. Beli saja nanti, ini uangnya.” Menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan.
“Terima kasih, Ngku.”
Aku senang punya Paman seperti beliau. Tidak pelit. Penyayang kepada anak kemenakannya.
16.26.00 | 0 komentar

Menyulam Kelam (Bagian 1)

“Kamu kemana saja?” Tanya kak Hamid kesal. “Bapak itu tidak punya banyak waktu. Ini, kamu malah menyia-nyiakannya.” Terus memarahiku yang baru datang dari luar.
“Sekarang beliau kemana, Kak?”
“Ke kantor DPRD. Sekarang kamu susul saja ke sana!”
“Ya udah deh, sekarang saya susul ke sana.”
Aku bangkit dari duduk. Beranjak pergi, meninggalkan kak Hamid yang sewot. Kak Hamid adalah sepupuku yang kuliah di STKIP (Sekolah Tinggi Kejuruan dan Ilmu Pengetahuan) yang berada tak jauh dari Sekolahku. Untuk memastikan posisi, benar atau tidaknya bapak tersebut di kantor DPRD, terlebih dahulu aku menghubungi via handphone. Dan ternyata benar, beliau di sana.
Untuk menuju tempat tujuan, aku menggunakan ojek, biar cepat. Angkot tidak bisa diharapkan, rutenya mutar-mutar. Buang waktu. Walaupun harganya lebih, tak masalah. Yang penting cepat sampai dan bertemu dengan beliau. Seperempat jam kemudian aku telah sampai di sana.
“Titit... titit... titit….”
Handphoneku berbunyi. Ada pesan masuk.

“Silahkan tnggu stngh jam. Saya sdg rpt.”
Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Meski cuma setengah jam.
“Huh.”
Kupandangi pelataran kantor DPRD yang membentang bisu. Mobil-mobil mewah barjejer. Mengkilat. Parkir rapi. Pohon-pohon pinang berderet-deret. Jikalau memandang kantor dari luar, akan tersamat. Yang kelihatan hanya bagian tengah dan atas gedung. Sedangkan bagian bawah tertutup. Di balik pagar, dengan diapit oleh pohon-pohon pinang, tegak sebuah plang putih bertuliskan, ‘Kantor Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Tingkat I, Padang, Sumatera Barat,’. Bonsai-bosai layaknya tentara yang melakukan pagar betis, berdiri rapat, melingkari bangunan. Satpam berjaga sambil bercanda. Berisik. Memecah kebisuan sekitar.
Di luar gerbang. Aku berusaha mengendalikan diri dengan memurajaah hafalan yang cuma satu juz. Sesekali memencet kipet handphone, otak-atik. Dalam menghilangkan kejemuan, kita harus jeli, kalau tidak ingin stres.

“Maaf, Dik. Numpang tanya.”
Ada suara yang menegur. Aku sedikit kaget. Bacaanku terhenti. Bangkit mencari asal suara. Rupanya suara itu berasal dari arah belakang. Tampak seorang pemuda berdiri. Ikal. Sipit. Pesek. Baju ke dalam. Rapi. Celana jeans hitam. Kaos oblong putih.
“Maaf, Dik.” Kembali ia menegur.
“Eh, I...ya. Ada yang bisa saya bantu.” Sedikit tergagap.
“Adik tahu alamat ini?” Menyodorkan kertas putih kusut. Bersegi banyak. Tinta hitam.
“Profesor Doktor Harun Nasution, MA. Dosen senior Universitas Andalas.” Gumamku setelah membaca kertas lusuh tersebut.
“Iya.”
Sejenak aku berpikir.
“Maaf, Bang. Saya tidak tahu.“ Memberikan kembali kertas itu.
Tampak ada gurat kecewa dari rautnya, karena tak menemukan alamat yang dituju. Aku dan dia terdiam sejenak. Pandanganku menggerayang menyapu jalanan. Mobil lalu lalang. Kencang. Para sopir angkot saling berlomba mencari penumpang. Bersaing. Siapa cepat dia dapat. Cara yang sehat.
“Mungkin bisa ditanya kepada orang itu!” Saranku. Memecah kebisuan. Menunjuk kearah orang yang lewat. Dia hanya mengangguk pelan.
Orang itu mendekat.
“Maaf, Pak. Mau numpang tanya?”
Orang itu menghentikan langkahnya, tepat di hadapan kami. Tubuhnya kurus. Tinggi. Kumis tipis. Kaca mata bening menghimpit hidungnya yang mancung. Cocok. Sepatu hitam mengkilat. Celana licin hitam. Kemeja kotak-kotak kuning. membuat wajahnya yang cerah tambah cerah.
“Iya, ada yang bisa saya bantu?”
Pemuda tersebut menyerahkan kertas lusuh tadi.
“Saya baru datang dari Pasaman Barat. Saya ke sini mencari alamat itu.” ia menerangkan sambil menunjuk ke kertas yang berada di tangan si Bapak
“Pak Harun Nasution?” Tanyanya.
“Iya, apa Bapak tahu alamatnya?”
Bapak kurus tinggi tersebut berpikir sejenak. Keningnya berkerut. Matanya menerawang, seakan ingin menembus ruang. Sejurus kemudian.
“Apakah yang Adik maksud, Pak Harun Nasution lulusan Amerika?”
“Ya. Lulusan Amerika” Jawab pemuda tersebut tanpa keraguan, sekaligus menguatkan.
“Beliau sudah beberapa kali mendapat penghargaan dari pemerintah, karena sumbangsihnya dalam pendidikan. Dan sekarang mengajar di Universitas ANDALAS.” Tambah orang itu panjang lebar.
“Tepat, tepat sekali yang Bapak katakan.” Berbinar wajah pemuda itu. “Beliau juga dosen terbang di Institut Teknologi Bandung.” Tambahnya.
“Setahu saya begitu.” Bapak tersebut menguatkan.
“Kalau saya boleh tahu, nama Bapak siapa?”
“Saya Muhammad Hasan. Panggil saja Pak Hasan.”
Melihat tampang ia memang jauh lebih tua dari pria baju oblong.
“Saya Arta.”
Kini mereka sudah mulai akrab satu sama lain. Obrolan mereka sudah lepas, tidak ada sekat. Arah pembicaraanpun sudah mulai ke masalah pribadi, bagaimana keluarga? Apakah sudah punya istri? berapa bersaudara? pekerjaan apa? Dan yang terakhir, saling tukar alamat dan nomor handpon. Alamat pak Harun Nasution dijelaskan dengan sangat rinci, seperti menjelaskan alamat rumahnya sendiri, hafal sampai ketitik-titik kecilnya.
“Ngomong-ngomong, Dik Arta mencari pak Harun ada urusan apa?”
Meski kini mereka telah akrab satu sama lain. Mendapat pertanyaan itu, pria bernama Arta tersebut terdiam. Keningnya berkerut, berpikir. Ada satu keraguan.
“Sebenarnya saya tidak boleh mengatakannya, karena ini sangat sensitif, bila diketahui orang. Tapi, karena Bapak dan Adik telah membantu saya, baiklah. Tapi, sebelumnya saya berharap, untuk merahasiakan hal ini. Cukup kita bertiga yang tahu. Sekarang kita buat kesepakatan, bagaimana?”
“Kalau itu rahasia, sebaiknya jangan diceritakan saja, Bang.” Aku angkat bicara.
“Tidak apa-apa. Sudah terlanjur. Sekarang saya hanya butuh kesepatan dari kalian berdua, bagaimana?” Kembali ia mengulangi pertanyaannya.
“Baiklah.” Jawab kami bersamaan.
“Begini….” Ia memulai bercerita, sambil menyapu pandangan kesekeliling, kali-kali ada orang lain yang mendengar.
“Sebagaimana diketahui, Pak Harun merupakan orang kaya. Dia memiliki banyak kebun sawit yang berpuluh-puluh hektar. Di setiap kecamatan yang ada di Pasaman Barat terdapat kebun sawitnya. Belum lagi di luar Pasaman, seperti di Solok, Bengkulu, Jambi dan Riau. Saya bekerja di salah satu kebun sawitnya yang terletak di Pasaman Barat, sebagai penanam bibit, terkadang juga sebagai pemupuk. Seperti biasa, saya berangkat kerja pagi-pagi, membawa bibit-bibit sawit dengan Traktor. Setibanya di tempat, sebelum menanam sawit, terlebih dahulu saya menggali tanah yang akan dijadikan tempat penanaman. Lebih kurang empat jam saya melakukan penanaman, semuanya berjalan lancar. Sampai pada galian yang terakhir. Cangkul saya berbenturan dengan benda keras yang membuat tangan saya nyeri dan kesemutan. Semula saya menyangka benda tersebut batu. Tapi, setelah saya gali, terrnyata dugaan saya salah.”
Ia berhenti sejenak. Mengambil udara memenuhi paru-paru. Kemudian ditarik dalam-dalam, terakhir dihempaskannya tanpa beban.
“Ternyata benda tersebut sebuah guci kecil. Lusuh kecoklat-coklatan. Saya sendiri tidak tahu, terbuat dari apa guci itu. Dan yang lebih membuat saya kaget, adalah dari dalamnya keluar sinar yang dipantulkan cahaya matahari. Penasaran saya bertambah. Saya keluarkan benda tersebut dari dalam guci. Bagai disengat ular berbisa, saya terperanjat bukan alang-kepalang ketika mengetahui apa yang saya keluarkan.”
Kembali ia menarik napas. Kali ini lebih panjang. Wajahnya yang tegang tambah menegang. Sesekali ia menyapu pandangan ke sekeliling. Dari rautnya jelas bahwa itu sangat rahasia.
“Isinya sekeping emas. Bulat. Bermata dua. Dan, di salah satu matanya bertuliskan kalimat ‘lailahaillallah.’ Di atas kalimat tersebut, memanjang sebuah garis berbentuk pedang. Di mata yang satunya lagi, menggores tulisan-tulisan Arab yang saya sendiri tidak tahu maksudnya.”
Wajahnya berkeringat. Bulir-bulir bening mencuat dari pori-pori wajahnya. Kami tegang. Tatapanku tetap pada satu titik, memperhatikannya.
“Dan malamnya saya bermimpi, bertemu dengan seorang kakek tua, pakaiannya serba putih, sorban. Mulai dari ujung kepala sampai kaki. Wajahnya bersinar, menandakan bahwa ia orang yang taat. Dia berkata, ‘Benda tersebut bukanlah hak milikmu. Kamu hanyalah perantara yang akan memberikannya kepada yang berhak, yaitu tuan Sawit ini. Atau, orang beruntung yang kamu temui pertama kali ketika menyerahkannya. Dan sebagai imbalan atas jerihmu, mintalah sesuatu yang setimpal kepadanya. Sekarang, laksanakanlah. Jangan menunggu. Karena semakin lama benda yang bukan hakmu ini ditanganmu, akan semakin menambah kesulitan.’ Tetapi saya mengabaikan pesan tersebut. Saya tidak percaya. Akibatnya, apa yang dikatakan kakek tersebut terbukti, anak saya sakit keras. Sekarang ada di sini, di Rumah Sakit M Djamil Padang.
“Astaughfirullah.”
Aku tersentak kaget, tanpa tahu perasaan apa yang sedang berkecamuk. Pak Hasan lebih terperanjat lagi. Kalau tidak ada pelindung jantungnya, mungkin sudah ikut terbang bersama kekagetannya.
“Setelah kejadian itu, baru saya menjalankan apa yang diperintahkan. Sorenya saya ke sini. Dan paginya menyempatkan diri membawa anak ke rumah sakit, sebelum akhirnya saya pergi menjalankan amanah. Dalam perjalanan, saya bertemu dengan Adik ini, dan Bapak.”
Pak Hasan menganguk-angguk. Dari yang semula tegang, kini mulai mengendor. Raut kami tidak mengombak lagi.
“Bagaimana dengan Anak ‘Dik Arta?” pak Hasan bertanya. Dan arah pembicaraan sedikit begeser.
“Saya sangat khawatir terhadap kesehatannya. Pihak rumah sakit belum mau menangani, lantaran uang registrsi belum cukup. Untuk itu, saya mempercepat mencari tahu alamat ini.” Membuka kepalan tangannya yang memegang kertas krenyok itu.
“Sekarang, apa yang akan Adik lakukan?”
“Saya akan ke alamat ini, Indaruang. Memberikan benda tersebut. Dan meminta imbalan yang setimpal.”
“Apakah waktunya cukup, ‘Dik Arta? Sementara alamat yang akan dituju membutuhkan waktu yang lama. Belum lagi macet.” Pak Hasan memberi pertimbangan.
Laki-laki yang dipanggil Arta tersebut diam. Membenarkan apa yang dikatakan pak Hasan. Semua diam. Sementara mobil semakin ramai beseliweran. Berbagai kernek angkot berteriak-teriak menarik penumpang.
“O ya.” Pak Hasan memecah keheningan. Semua mata tertuju padanya. “Bukankah dalam mimpi ‘Dik Arta, kakek berpakaian serba putih itu menyebut ‘atau orang beruntung yang pertama kali dijumpai.’”
Aku keget. Bukankah orang itu adalah aku. Akukah orang yang beruntung itu?
“Iya ya. Saya hampir lupa.” Laki-laki tersebut seperti diingatkan. “Benar apa yang dikatakan pak Hasan. Meminta imbalan bukan hanya kepada pemilik kebun, tapi juga bisa kepada yang pertama kali ditemui, yaitu Adik ini.”
Titik pandang beralih kepadaku. Aku tersentak kecil. Tapi kemudian bisa menenangkan diri.
“Bagaimana, ‘Dik? Apakah Adik setuju? Laki-laki tersebut memberikan tawaran.
“Setujui saja, ‘Dik.” Pak Hasan menguatkan. “Lagi pula, ‘Dik Arta ini butuh dana yang mendesak untuk pengobatan anaknya. Kalau tidak segera, dikhawatirkan akan terjadi sesuatu pada anaknya!”
Aku sebenarnya agak keberatan atas permintaan itu. Tapi, aku tidak tega melihat ada orang yang kesusahan. Masalahnya aku tidak bawa apa-apa, apa yang akan aku berikan, hanya handpone Nokia 1600 ini.
“Baiklah, Bang. Saya akan bantu. Tapi, saya tidak punya uang. Mungkin hanpone ini bisa membantu.”
“Tidak apa-apa, ‘Dik. Itu sudah sangat membantu.” Jawabnya kembali ceria.
“O ya, sebelumnya saya akan menyerahkan benda ini.” Merogoh saku celananya. Mengeluarkan sesuatu yang dibalut kain lusuh.
“Ini, ‘Dik. Ambillah! Dengan demikian tugas saya selesai.” Ia menyerahkan benda itu. Aku sendiri tidak tahu pasti apa isinya. Hanya mendengar dari penuturannya saja.
“Maaf, Bang. Saya tidak bisa menerima benda itu. Abang simpan saja. Yang jelas Abang sudah menjalankan amanah.”
“Tidak, Dik. Benda ini menjadi hak milik Adik. Jika Adik menjualnya, akan mendapatkan uang yang banyak.” Mendengar perkataannya itu, pintu-pintu nafsu terbuka lebar. Tergiur. Terlebih lagi aku sedang butuh dana tambahan untuk ke Mesir.
“Baiklah kalau begitu.” Aku menyetujui. Kamipun melakukan serah terima. Aku julurkan tangan, memberikan. Diapun menyodorkan benda itu. Bersamaan dengan itu, handphoneku berdering. Kutarik kembali tangan yang terlanjur terjulur itu. Dan melihat siapa yang memanggil.
“Aih, pak Masparasit.” Desisku senang. Orang yang sudah aku tunggu satu jam kurang. Walaupun perjanjiannya setengah jam. Tapi, mungkin acara beliau baru selesai. Tidak apalah.
“Kemana saja. Saya sudah di depan gerbang.” Terdengar suara dari seberang sana menegurku. Kupandangi tempatku berdiri sekarang, rupanya tidak di depan gerbang lagi. Sudah menjauh. Cerita yang dituturkan laki-laki penemu koin emas itu, membuat semua tidak terasa. Terlalu asyik untuk didengar.
“I...ya, pak. Saya segera ke sana.” Jawabku sedikit gagap.
Kusapu sosok di depan yang tampak bingung.
“Maaf, Bang. Saya ada janjian. Silahkan ditunggu. Nanti saya kembali lagi.”
“Tapi, Dik….”
Aku berlari kecil menuju pintu gerbang tempat pak Masparasit menunggu. Suara lelaki tersebut tidak terlalu aku perhatikan. Aku sangat tidak enak dengan pak Masparasit yang menunggu untuk yang ke-dua kalinya. Nanti beliau pergi lagi. Menunggukan hal paling membosankan.
Di pintu gerbang, tegak sebuah mobil kijang biru. Kuamati mobil itu dengan teliti. Apa mungkin itu mobil beliau?
“Hei! ngapain bengong di situ? Ayo!” Terdengar suara memanggil. Kumelangkah mendekati mobil itu. Dari kaca yang terbuka, kulihat dua orang laki-laki duduk di jok depan, mengenakan koko hijau, dan kopiah meletak di kepala. Sedangkan yang satunya lagi, seorang laki-laki paruh baya dengan kemeja putih kotak-kotak, memegang stir. Kalau aku tebak, pak Masparasit adalah yang borkoko hijau dan berkopiah. Dari penampilan serta auranya terlihat. Sedang di belakang, duduk seorang wanita dengan gaun batik-batik oren berbaur jingga dengan jilbab mekat di kepala.
“Yah, bengong lagikan. Ayo naik.” Suara pak Masparasit membuyarkan lamunanku.
Aku sedikit bimbang untuk naik. Teringat dua orang tadi. Apalagi yang satunya butuh pertolongan. Juga tawaran itu. Tapi, aku tak berani membantah ajakan pak Masparasit. Takut, nanti beliau marah. Akhirnya kunaik. Aku duduk di belakang, di samping wanita bergaun indah tersebut. Usianya juga paruh baya. Mungkin dia istri dari pak Masparasit. Perlahan mobil mulai berjalan. Kulihat dua orang tadi dari jendela sedang bercakap-cakap. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku merasa tidak enak.

“Saya itu sibuk. Tidak punya banyak waktu.” Pak Masparasit membuka pembicaraan.
“Iya, pak. Saya minta maaf. Saya mengaku salah.” Kembali menyesali keegoaanku. Mendahulukan pekerjaan yang tidak terlalu penting, mengambil jahitan.
“Ya sudah. Tidak apa-apa.”
Dari dalam jendela mobil, pagar-pagar rumah menjauh. Titik-titik kecil di depan semakin besar. Sementara daripada itu, aku kembali teringat dengan orang yang mebutuhkan pertolongan tadi, anaknya sakit. Ingin segera kuceritakan semua itu. Sekaligus menumpahkan beban tidak enak. Lidahku kelu. Ragu. Segan.
“Pak, tadi ada orang yang membutuhkan pertolongan. Dia datang dari Pasaman Barat.” Akhirnya aku meberanikan diri buka mulut. Kuceritakan kembali semua yang kudengar. Tidak ada satu katapun yang tercecer. Dengan gamblang dan jelas. Terus terang, jika sesuatu itu menarik, satu katapun tidak akan hilang dari ingatanku.
Semuanya tersenyum. Aku heran melihat mereka. Seakan mereka ingin tertawa mendengar ceritaku. Apanya yang lucu. Aku jadi bingung.
“Itu cerita basi. Cerita biasa, yang sering digunakan para penipu.”
“Cesss…”
Berdesir dadaku mendengar jawaban singkat itu. Seakan ada yang meleleh dari dalam dada.
“Cerita basi yang sering digunakan penipu?” Kembali aku mengulangi. Dengan nada tidak percaya. Seakan kurang jelas apa yang barusan dikatakan.
“Ya, cerita basi.” Kembali dipertegas. Sekarang coba kamu renungkan, apa yang barusan menimpamu. Masuk akal tidak? Koin emas. Kakek tua. Minta imbalan. Anak sakit. Coba kamu hubungkan semuanya. Apakah benar demikian?”
Aku sedikit terpekur. Terhenyak. Merenungkan kembali apa yang dikatakan sopir pak Masparasit.
“Astaughfirullah.”
16.22.00 | 0 komentar
Share photos on twitter with Twitpic

Bersama ikhwah memenuhi undangan orang Mesir

Orang kaya sedang beerfose. (Hihihi... gak malu)

Menggaya saja, biar dibilang keren. Hahaha...

Makan sate bareng konco-konco. Walau mahasiswa, kita gak kalah saing ya sama emak-emak. Hahaha... kita..?? Lu aja kali...!@#$%
Share photos on twitter with Twitpic

Jelajahi

Share photos on twitter with Twitpic

Tentang Seseorang

Foto saya
Seorang sosok yang ingin di atas biasa orang. Tapi seringkali tertinggal oleh kereta yang merangkak. Sering tenggelam oleh gerimis penggal malam. Dan selalu tegak, namun tak kalah cepat dari keong. Tetap optimis, karena gerimis sepenggal malam takkan menenggelamkan gunung menjulang.

Arsipan

Total Tayangan Halaman

free counters

Makan sate bareng di hari lebaran