Assalamu'alaikum...,  Ahlan Wasahlan |  sign in  |  

Ahlan...

Sebuah blog untuk mengekspresikan diri. Manampung tetes pikiran yang jatuh. Sebuah parit kata, yang merayap dari celah jiwa. Sebuah bejana penyambut derai-derai inspirasi. Di sini dicoba untuk dieja. Kali saja menjadi huruf yang bisa dibaca. Menjelma alenia, membentuk cerita. Kalaupun berupa coretan tak berbentuk, mohon seka raut yang berluluk. Biar cerah. Dan jahitkan saku yang masih melambai. Karena aku sosok yang tak luput dari alpa. Thank's!


Tampilkan postingan dengan label Penggal Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penggal Puisi. Tampilkan semua postingan

Tentang Ayah

Written By rumah karya on Senin, 07 Mei 2012 | 14.09.00

Mataku memang menyapu jalanan yang remang
Tapi tidak dengan pikiran
ia bergentayang
menggerayang ingatanku yang mulai usang
memutar slide show sosok Ayah
Sosok yang berpagi dan pulang petang
larut malam terkadang

Inikah rasa yang menderanya saban hari ?
Oh, tidak!
Lebih malah
Karena rasa ini masih bisa aku tapaki.

Yang kucoba ini hanyalah percikan kerjanya
Tidak berarti apa-apa.

Jalanan yang dia tempuh tidak lagi remang
Betul-betul pekat
Gelap!
Sepi dan mencekam
dikelilingi kebun-kebun dan hutan

Motor bututlah temannya membelah malam
dengan gerobok di belakang
Sukur ketika cuaca tenang
Kalau hujan?
Aku tak bisa membayangkan
bagaimana hendak tanjakan licin itu didaki
Atau, ketika bannya bocor
dan minyak habis di tengah jalan
Aih, betapa repotnya beliau.

Jarak yang ditempuh tidaklah dekat
jauh dari lalu lalang orang
Tentu beliau harus menuntun dengan sisa-sisa tenaga
Menaklukkan bukit-bukit yang tegak perkasa.
Atau tidur dipinggir jenggala

Sesampai di rumah
tak terlihat rautnya yang lelah
Mungkin sengaja disembunyikan dari anak-anaknya

Ketika ayah pulang dengan sisa dagang
Beliau tak mengeluh sepinya pembeli
Mungkin itulah rezeki hari ini
Ayah berhusnuzzan
Sabar ketika sepi
Dan bersukur ketika habis

Semangat tak mengenal lelah terus terpancang
Tak roboh oleh angin-angin letih
Kurasa rasa lelah, bosan, untuk merayu
agar jangan bersusah-susah

Itulah sosok ayah
Matanya penuh dengan cahaya
Tak melenguh pada derita.

Walau tak mendapat tumpahan penat kerjanya
Minimal percikan lelahnya dapat kurasa
Begini rupanya.

Karena tak pernah meneguk lelahnya
kita acap alpa

Mungkin itu mengapa aku mencoba mendayung sepeda
dari satu rumah ke rumah
hanya untuk merasakan percikan kerjanya.
Upah bukanlah titik utama
Karena banyak titik lain lebih berharga

Itulah sosok ayah
Tak terdeskripsi dengan susunan kata-kata

Udo Iwan
Zagazig, 16 Maret 2012
10.59 WZ
Untuk membuat ingat, ada banyak hal yang bisa kita lakukan
14.09.00 | 2 komentar

Pituah Amak

Written By rumah karya on Senin, 26 Maret 2012 | 21.37.00

Kau adalah bara yang membakar semangat kerja
Kecukupanmu adalah embun yang menghilangkan dahaga
Cintaku padamu
telah membius rasa letih yang mencabik-cabik raga
Tak peduli titis hujan
Tak peduli panas sang surya
Atau larut malam yang menggoda
untuk memejamkan mata
Aku tak hiraukan itu semua

Kau adalah penghangat dalam dinginku
Penghibur kala dukaku
Cita-citamu adalah harapanku
harapan yang dulu dihempas kemiskinan
Aku tak rela anakkupun tenggelam karsanya

Aku berharap tak hanya nama pahlawan yang berdenyar
karena jasa yang mereka ukir
Atau nama ulama yang menggaung
karena karya yang mereka toreh
Tapi juga namamu
karena jasa yang kau pahat
karena karya yang kau buat

Asamu adalah cambukku untuk giat
Rantaumu adalah jendela pikiranku
yang membuka ragam jalan
terkadang tak tertempuh orang
Inilah karunia Tuhan

Anakku!
Kampung kita butuh pendidik
Aku berharap kau menjadi guru bagi kami
Membuka selimut bodoh yang melingkupi
Tak hanya kampung, mungkin dunia

Harapan Itu adalah motor penggerak
kaki kami menjeput setiap rezeki
yang menggeletak disudut bumi
Kami kerahkan seluruh tenaga untuk berusaha
Tak ingin kau kekurangan di negeri orang sana

Anakku!
Orang tuamu bukanlah pengusaha bertabur harta
Atau pejabat bergaji jutaan rupiah
Hanya pekerja keras yang mengandalkan tenaga
Tak lebih!

Alhamdulillah!
Sampai saat ini kebutuhanmu tetap terjaga
Entah masih bisa setamat kau kuliah
karena usia terus bertambah
Mengingat adikmu akan tamat sekolah

Anakku!
Tak bisa kugambarkan haru hati
melihat kau menaiki pesawat untuk kali pertama
Hanya buliran bening disudut mata yang berbicara
Kapan kita bersua lagi?
Kapan kami bisa naik pesawat sepertimu?
Melihat dunia dari angkasa?
Atau merasakan suasana di udara?
Ah, itu tidak penting
yang jelas kau sudah buat kami bahagia.

Menyekolahkanmu ke luar negeri
ada kebanggaan tersendiri bagi orang seperti kami
karena semua lahir dari keringat yang mengalir
Kelukur-kelukur di badan tak lagi terasa
Rasa letih tak lagi ada
Sirna semua

Tubuh yang makin ringkih
Garit urat yang menyembul
Keriput kulit membungkus tulang
tak lagi jadi perhatian
Karena semua perhatian hanya tertumpu padamu

Terkadang ketika telat mengirimmu uang
Aku meneteskan air mata
apakah kau makan seperti kami di sana?
Dapat tidur nyenyak?
Apakah sewa rumahmu tidak menunggak?
Tak kuasa aku menyuap nasi di tangan
Berat!

Tanpa segan,
aku akan menyatroni rumah-rumah tetangga mencari pinjaman
Terkadang ada, terkadang juga susah
Karena kebutuhan yang berbeda-beda

Rasa gundah terus mendekap
Mata manegantuk tak terkejap
Mengingat pinjaman yang tak dapat-dapat
Sangat menjadi bahan pemikiran

Terkadang ibu ditegur ayah
untuk jangan menyebut-nyebut jerih payah
karena itu adalah kewajiban orang tua, katanya
Ibu sependapat dengannya
tidak sedikitpun membantah
Ibu bercerita hanya sebagai bara
biar semangatmu terus menyala
Sebagai angin
biar semangatmu terus berkibar

Sebagaimana kau tahu
Ibu bukanlah penyair
yang dapat meramu kata menjadi indah
Pakar sejarah
yang dapat menceritakan berbagai peristiwa
Atau ahli agama
yang dapat mengajarkan ragam hikmah

Melalui curhatanlah aku ingin membuka matamu
agar jangan pernah terpejam
Mengingatkanmu agar jangan pernah alpa
Melalui inilah ibu bisa menyusun kata

Anakku!
Kini kau telah dewasa
Sudah saatnya menentukan alur cerita
Apakah ber-ending nestapa
Atau bahagia
Semua tergantung bagaimana kau melangkah

Inilah pituahku yang harus kau jaga
Jangan pernah lupa!
Tak semua orang memiliki keberuntungan sepertimu.


Udo Iwan
Zagazig, 5 Maret 2012. 15:33
Pesan Amak yang kuabadikan dalam sajak. Sebagai stimulan. Cambuk. Biar selalu terkenang bagaimana mereka lelah berjuang. Ummi wa abi, Uhibbukum fillah.
21.37.00 | 2 komentar

Debur Tafakur

Written By rumah karya on Kamis, 01 Maret 2012 | 10.00.00

Gelap masih merayap
merangkul praja berhalimun lesi
Di tepian malam pagi mulai mengendap-endap
Mengintip tiap ingatan yang masih lelap
dibuai mimpi-mimpi

Kokok ayam bersahut
semilir angin di tengah lelah jiwa
Sekedar pendekorasi
Tak mampu membuka kelopak
yang tertaut mati

Shubuh belumlah membentang
Membuat buai tidur semakin panjang
Kemul selimut semakit kuat dipasang
Tak lelah mengikuti jejak bayang-bayang
Dan alpa dari ijabah doa
pada sujud panjang

Sukar memang
Itulah perang
Itulah menang
Itulah sayang
sayang terbuang

Hanya semiang yang bangkit
Pada hati tak berpenyakit
Lebur bersama debur tafakur
Menyelami makna-makna ayat yang tak terukur

Satu dari sekian ribu
Dua dari sekian juta
Segelintir yang mengejawantah


Zagazig, 23 Februari 2012 17.06
Udo Iwan
10.00.00 | 0 komentar

Slide Show

Kelebat waktu membius raga
menyirnakan perihnya garit luka yang menganga
Terlampau lena!

Slide show perjuangan memercik dari onggok pikiran
menggerayah tirai lenyai di sudut hafalan
Bagaimana ter jalanan jemu menampung jejak kendaraan
yang terus merangsek tanpa bosan

Bergentayang tanpa lelah
Pada penolakan tak menyerah
Kata “tidak ada anggaran” daun kering di tong sampah
Proposal terus melesat bagai anak panah
Hingga ending-nya pun berbuah
Sepenggal kisah yang masih mendidih di kepala

Melihat usiaku kini
Aku ingin membuang muka saja
Tidak mengutuk,
hanya sekedar muhasabah

Aku masih mendengkur di lembah teori
Dengan semiang usaha mendaki dinding aplikasi
Beku dalam diam!

Inilah selubung lalai yang terus merantai
Mengisolasi aku dari percaturan kreasi
Mengkaramkan gerakku yang setapak
Melabrak tunas yang tumbuh sejenak

Meski begitu,
Langit tetap kudekap
Membisikkan syukur tiada henti
Di bawah, masih ada pendaki

Meski begitu,
Langit tetap kudekap
Berharap agar lebih tinggi
Di atas, orang telah berkreasi

Udo Iwan
Zagazig, 21 Februari 2012. 00:22 WZ
09.45.00 | 0 komentar

Nyanyian Jiwa

Written By rumah karya on Minggu, 19 Februari 2012 | 05.04.00

Meranggas semak melinting hati
Kering!
Panorama yang melekat di sudut mata
seolah biasa
Pikiran purna semu merantai
Menimbun derai dari kelopak purnama

Dadaku menjelma kertas dalam lipatan pinggir jalan
Candra terselip dipojok pikiran,
tersumbat!

Aku merasa sunyi dari nyanyian shubuh
yang selama ini terpatri
Sanubariku mencoba merayah kembali serakan-serakan berdebu
bergaris lusuh di atas rak buku.
Buram!

Bordir zikir tak lagi timbul pada sulaman lidah yang kemarau
Hambar!
Guratan-guratan hitam digerayah kembali memori
yang telah tenggelam di dasar samudra ingatan
Betapa dulu karsa mengawai loka
Kuat terhujam dalam sukma
Tak lucut oleh helaan raksasa

Warna-warni pelangi asa digaris mata
pudar kini digerus nikmat senja yang bertahta.
Kelesah tak kuasa mencabut renjis comberan
yang melekat di selasar jiwa.
Terlalu kuat terpancang.

Oh, tidak!
Aku harus terus meniti tangga-tangga asa
walau licin oleh riak-riak galaba
karena membuang banyak kesempatan percuma
Aku tak peduli!

Aku tak boleh luntur oleh gerak masa
yang menelan nada lama
Aku harus terus terangkai dideretan kata
yang terpahat di dinding sejarah.

Aku juga ingin menjadi angin
peniup layar dari tepian pantai.
Hujan yang merambah debu-debu musim kemarau
Menyingkap zulmat yang merangkul darmakelana
ditengah jenggala raya.

Menjadi sesuatu yang memiliki arti
tak hanya sekedar obsesi yang terpajang di pangsa hati.
Ia butuh aplikasi
bukan sekedar teori yang meng-abu ditinggal api
atau molek bunga dicerai mekar pagi hari

Sekaranglah saatnya!
Geraaaaaaak!

Udo Iwan
11.48 WZ. 16 Februari 2012
05.04.00 | 0 komentar

Hati Malaikat

Written By rumah karya on Selasa, 21 Juni 2011 | 13.11.00

Aroma wangi membelai udara pagi
Aroma yang keluar dari sebelah bilik mandi
Ciprat air suci yang ternodai
oleh kotor kucing berdebu bergelut dengan kerasnya hidup
yang dipungut dari dalam dekapan kabut shubuh.
Kucing malang yang terbuang di tengah ramainya lalu lalang orang.

Seorang pemuda dengan hati salju mengeja langkah
Memungut dengan hati lara
Memandang lekat-lekat dengan senyum rekah.
Berujar, "Malang sekali kau sayang!"
Mendekap penuh iba.
Meresapi kepedihan yang diderita.
Resapan yang mencabik alam nyata.

Byuuuuurrrr!
Air jatuh pada gundukan tanah hitam
Tanah keras yang dipungut dari pinggir sawah belakang kuliah
Mencoba meluluhkan
Mencoba memberi nafas pada tumbuhan
yang meranggas berebutan makan.

Pagi masihlah buta
Ketika suara azan baru saja mengelinding di udara
Dengan sigap tangan-tangan itu memungut gayung membentuk irama
menyatu dengan degup pagi yang masih perawan

Dua manusia dengan hati permata.
Mencoba berkasih sayang dengan lain sama.
Kasih yang mulai pudar di negeriku Indonesia.
Demi kepentingan,
semua dimakan tanpa rasa jijik dan siksa.
Daging mentah, tanah, bahkan kotoran,
luluh lantak ditelan.
Ufhh!

Aku tersenyum bangga pada mereka berdua
Manusia dengan hati malaikat dengan kucuran pahala
siap mengalir pada setiap keikhlasannya.


Puisi untuk sahabatku Edra Wardi dan Kasmon Prasatya.
10.02 WZ. 17 Juni 2011
13.11.00 | 0 komentar

Inklusif

Written By rumah karya on Kamis, 16 Juni 2011 | 15.07.00

Subur.
Menumbuhkan tunas-tunas harapan.
Ranting-ranting yang terbuang, hidup,
walau beronggok tak beraturan,
walau hanya dibelai gerimis musiman.
Tenang. Sejuk.
Masukan dan kritikan menjadi pupuk


yang menyuburkan.
Inklusif.
Terbuka.
Hati yang hidup rela menerima


Senin, 30 Mei 2011
Udo Iwan
15.07.00 | 0 komentar

Kabut Malam

Kabut malam mengurung jejak langkah.
Menyekat titik tuju.
Dan memendam ragam luka.

Keluar dan merdeka.
Bebaskan jiwa dari dekapan.
Jangan terkulai dengan keadaan.



Karena menggantung banyak beban.
Geraklah!
Terburai andai kau abai.
Tenggelam andai kau lalai.


Rabu, 1 Mei 2011
Udo Iwan

15.05.00 | 0 komentar

Kering

Keruh.
Tak ada cahaya mutiara yang berpendar.
Putih ikan mengapung, tersekat.
Tertutup permukaan yang berkarat.
Nasehat dan wejangan tumpah tak tahu arah.
Masukan dan kritikan berbuah amarah.


Hati yang kering, demikian adanya.

Ahad, 29 Mei 2011
Udo Iwan
15.04.00 | 0 komentar

Saudara Plestina

Senandung hati-hati yang luka
dijamah tangan-tangan berlumur dosa.
Menjerit.
Berteriak.
Tapi, semua menulikan telinga.
Membutakan mata.
Membungkamkan suara.



Ah, betapa malang nasibmu, kawan.
Kau dilupakan.
Dan dipinggirkan.
Kau berjuang sendiri.
Melontarkan kerikil-kerikil mati.

Di sana, saudara-saudaramu menonton.
Tersenyum manis melihat kau terjerembab makan tanah.
Seolah ini adalah tontonan yang menakjubkan.
Dengan kau sebagai pejuang malang.

Akupun sama kecil denganmu.
Dari jarak jauh.
Do'a dan dukunganlah yang dapat kuberikan.
Aku tak punya kekuatan.
Aku bukan presiden. Raja.
atau perdana menteri.
Aku juga bukan Jenderal yang punya segudang pasukan.
Aku rakyat jelata
hanya bisa menitikkan air mata dan berdoa.
Semoga kau diberi kekuatan dan kesabaran
saudara palestinaku.


Senin, 16 Mei 2011
Udo Iwan
15.01.00 | 0 komentar

Stagnan

Kaki membeku,
tak lagi terasa batu-batu yang menimpa.
Tak kuat berdiri.
Layu bak tanaman kurang air,
tak sanggup menengadah.
Berat.
Helaan-helaan nafas membeku dalam dada.
Sesak.


Tinggal kemuning daun,
hijaunya habis dilumat ulat.
Perlahan gugur ditiup angin.

5 agustus 2010
14.58.00 | 0 komentar

Tanda Tanya

Seperti terpenjara.
Pengap dan tersiksa.
Layaknya beban berat menumpuk di kuduk.
Kini lega menghempaskan udara.
Tak lagi sesak bak asma.
Namun, di depan jalanan gulita.
Masih berupa tanda tanya (?).


Tak tahu nikmat apa.
Dan bahaya apa yang kan menimpa.
Waspada!

21 Januaro 2011
14.57.00 | 0 komentar

Tercabik

Lembaran yang tercabik
oleh tetes-tetes gerimis.
Lembaran berharga penentu arah.
Begitu gampangkah terkikis?
Hanya dengan gerimis.
Pecundang.
Badai.
Puting beliung.


Tornado.
Masih bisa dimaklumi.
Tapi, ini....??????
Oh, tidak.

Selasa, 17 Mei 2011
Udo Iwan
14.55.00 | 0 komentar

Sampah

Bising.
Terlalu banyak lalat berteriak.
Hinggap dipojok-pojok jiwa.
Menyedot setiap harapan dan cita.
Lalu jiwa mati.
Dan takkan ada madu, gula, atau sekedar penghibur lara.
Seketika menjelma sisa-sisa tak berharga.
Dikesampingkan.


Dibuang karena tak berharga,
karena menganggu tatapan mata.


Selasa, 24 Mei 2011
14.54.00 | 0 komentar

Rawa Penyakit

Rawa-rawa tergenang.
Air kotor kubang.
Kubang segala penyakit yang menjangkit.
Jentik-jentik nyamuk.
Lintah-lintah penghisap.
Ular-ular berbisa.
Buaya-buaya pemangsa.
Hidup.
Keringkan!


Lalu bangun tembok keimanan.
Karena mencegah lebih baik dari mengobati.
Sebelum hati terjajah,
mengeringkan rawa adalah keharusan.

Ahad, 29 Mei 2011
Udo Iwan
14.52.00 | 0 komentar

Itulah Kita

Saatnya pegang kendali.
Karena kita 'tak lagi bayi yang disuapi.
Kita adalah generasi dg sejuta kreasi dan inovasi.
Mendobrak jalan2 buntu.
Menimbun lobang2 dahulu.
Ya, itulah kita, pemuda pembaharu.Pembaharu


Karena kita bukanlah sampah pengotor sudut2 jalanan.


20 Januari 2011
14.51.00 | 0 komentar

Merah.

Hamparan hijau diinjak kaki bercak darah.
Meranggas lapuk ranting didera nestapa.
Berkas sinar mengapung,
tersumbat belukar belantara.
Tinggal pekat bergerilia,
mencipta nista,
mengayam noda.


Menjelmalah perisai baja.
Tak goyah hanya dengan angin kata.

Selasa, 31 Mei 2011
Udo Iwan
14.50.00 | 0 komentar

Bintik Hitam

Got hitam diaduk.
Wajan hitam legam.
Titik hitam dipekat malam.
Awan kelam.
Hitam.
Semua hitam.
Tapi kalah hitam dengan bintik-bintik yang menjamur dalam hati.
Kering berdebu.


Keras membatu.
Tak luluh dengan bujuk rayu.
Tak cair dengan panggang matahari.
Mati.

Sabtu, 28 Mei 2011
Udo Iwan
14.49.00 | 0 komentar

Berpisah

Kembali ia pergi,
meninggi dan terus meninggi.
Kemaren kita rasanya baru melepas rindu,
kini menjelma pilu.
Ah, apakah aku termasuk org yg sedih dg berlulunya kau.
Atau org yg bertepuk girang.
Semoga aku termasuk para perindumu,
seperti para sahabat yg tak sabar menanti kau kembali.


Menangis ketika kau tak ada disisi.
Berharap semua bulan adalah kau.
Ya Allah, pertemukanlah kami kembali. Amiin!

9 september 2010
14.47.00 | 0 komentar

Dunia Ujud

Inilah duniaku,
dunia ujud.
Duniaku bukan bayang dipekat malam.
Di duniaku ini aku menggapai,
memanjat, dan menggali.
Bukan saatnya bengong menatap kosong.


Karena aku hidup, aku mesti berjalan.

Ahad, 22 Mei 2011
Udo Iwan
14.45.00 | 0 komentar
Share photos on twitter with Twitpic

Bersama ikhwah memenuhi undangan orang Mesir

Orang kaya sedang beerfose. (Hihihi... gak malu)

Menggaya saja, biar dibilang keren. Hahaha...

Makan sate bareng konco-konco. Walau mahasiswa, kita gak kalah saing ya sama emak-emak. Hahaha... kita..?? Lu aja kali...!@#$%
Share photos on twitter with Twitpic

Jelajahi

Share photos on twitter with Twitpic

Tentang Seseorang

Foto saya
Seorang sosok yang ingin di atas biasa orang. Tapi seringkali tertinggal oleh kereta yang merangkak. Sering tenggelam oleh gerimis penggal malam. Dan selalu tegak, namun tak kalah cepat dari keong. Tetap optimis, karena gerimis sepenggal malam takkan menenggelamkan gunung menjulang.

Arsipan

Total Tayangan Halaman

free counters

Makan sate bareng di hari lebaran