Faktor kepentingan terkadang membuat sekat yang jauh dan menenggelamkan rasa empati. Saling cubit dan toyol. Saling geol dan senggol. Dan saling sikut dan gigit. Dalam ranah politik, ini terang terlihat. Menjadi lumrah dan biasa, karena memang tujuan dan kepentingan yang berbeda. Dan untuk mencapi misi, beragam cara dirakit. Terkadang masuk akal. Terkadang tak tertangkap nalar pikiran.
Begitu juga dalam dunia sepakbola. Keinginan untuk menjadi tim terbaik mengharuskan bekerja maksimal. Latihan ekstra. Disiplin. Serta kompak. Ini cara sehat yang bisa diterima. Mengherankan ketika skor pertandingan ikut diatur agar bisa menjadi jawara. Tidak sportif. Pada setiap pertandingan, tentunya ada yang kalah dan menang. Ini biasa. Dan menjadi tidak biasa ketika tidak bisa menerima kekalahan, bahkan sampai tawuran. Ini bisa kita lihat pada sepakbola tanah air. Acapkali pertandingan menjadi ajang lempar-lemparan. Menyedihkan.
Atau mungkin kita masih ingat keributan antara Mesir dan Aljazair pada kualifikasi piala dunia yang diadakan di Afrika Selatan pada tahun 2010 silam. Mesir tidak lolos. Pesaing beratnya di wilayah regional, Aljazair, berhasil menghentikan laju langkah mereka dengan skor tipis 1-0 dalam suatu babak play-off di Sudan, setelah kedua tim bersaing ketat dengan memperoleh poin yang sama. Sebelum play-off di Sudan, Mesir telah memprotes ketika suporter Aljazair menghancurkan markas besar perusahaan telekomunikasi Mesir Oroscom Telecom Dzejjy. Mobile. Mesir menang 2-0 atas Aljazair pada pertandingan yang diadakan di Kairo tersebut.
Sebelum itu, pemerintah Aljazair dibuat kesal setelah suporter Mesir melempari bis yang ditumpangi tim nasional Aljazair dengan batu. Beberapa suporter terluka pada laga kualifikasi di Kairo itu.
Itu mending hanya luka-luka. Kalau sudah menimbulakan korban jiwa, ini baru dilema. Seperti yang terjadi di Port Said pada 1 Februari 2012 lalu. Petaka yang menelan tujuh puluh empat nyawa ini menyita perhatian penduduk dunia. Setiap orang yang bersentuhan dengan media, dapat memelototkan mata menyaksikan.
Semua berawal ketika tim sepakbola Al Masri menjamu tim sepakbola papan atas Al Ahly. Pertemuan ini mengantarkan Al Masri sebagai pemenang dengan skor 3-1. Sebuah catatan yang jarang terjadi. Adalah suatu kebanggaan ketika bisa mengalahkan tim superior semisal Al Ahly. Sayang, bukannya kebahagiaan yang meluap. Tapi justru kekerasan yang muncul. Tiba-tiba ratusan suporter Al Masri masuk ke dalam lapangan, bukan merayakan kemenangan, namun mengejar pemain Al Ahly. Seperti yang terekam dalam video, suporter Al Masri tampak turun dari tribun, memukuli pemain Al Ahli. Ratusan suporter lainnya terinjak-injak dan luka-luka, 74 orang berakhir nestapa. Presiden FIFA –induk organisasi sepakbola dunia-, Blatter, menyebut tragedi ini sebagai peristiwa kelam dalam sepakbola.
Dari serangkain peristiwa di atas, saya tidak menyoal sepakbola sebagai penyebab kerusuhan dan perpecahan. Karena kerusuhan bisa terjadi apapun sarananya. Entah karena bidang tanah. Entah sebab harta benda. Saya teringat ketika kecil dahulu, bagaimana masalah sepele pemuda merambah tawuran antar desa. Masalah kelompok atau oknum berakibat perang antar kecamatan.
Tapi yang kita tilik di sini adalah suporter yang miskin nilai perikemanusiaan. Tak memikirkan akibat dari perbuatan mereka. Dan lebih mengedepankan ego serta emosi. Klub yang didenda. Atau pemain yang cedera akibat lemparan-lemparan, tak lepas dari ulah mereka. Menyedihkan. Terlebih ketika suporter itu muslim. Dan yang menyerang juga muslim. Ini lebih menyakitkan lagi.
Sepakbola hanyalah sebuah permainan, bukan medan jihad yang harus menumpahkan darah dengan mengacungkan senjata. Seharusnya kita bersatu membangun islam dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, terutama nilai ukhuwah. Jangan hanya dijadikan sebagai pajangan belaka, hingga ia membusuk diantara deretan pikiran yang tak terbentuk, karena tak kunjung diamalakan. Menjaga diri dari serigala-serigala yang siap menerkam kapan saja adalah keharusan.
Selaku suporter arif bijaksana, cukup menjadikan sepakbola sebagai hiburan dan media silaturhim yang menyegarkan pikiran dari tumpukan-tumpakan masalah. Jangan ciptakan ia sebagai ajang permusuhan. Kalau menang, jangan menghina. Kalau kalah, cukup sekedar kecewa saja, tak usah mengumbar amarah.
Sepakbola ibarat mata pisau yang kegunaanya tergantung yang memakai. Bahkan kalau dimanfaatkan dengan maksimal, sepakbola bisa menjadi lem perekat ukhuwah antar pemain, sesama suporter. Suporter yang dimaksud di sini adalah yang beragama islam.
Aplikasi dari teori sangat urgen dalam menjaga tindak tanduk. Tidak berbuat, kecuali tahu resiko dan akibat. Memahami bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap muslim lainnya. Tentunya kita tidak asing dengan hadis rasulullah Saw. yang mengatakan umat islam itu satu tubuh. Dari Aliyah kita sering mendengarnya, bahkan mungkin Tsanawiyah. Ketika satu jiwa mengeluh karena sakit, maka yang lainnya pun ikut merasa, sebuah analogi tentang umat islam dari rasulullah Saw.. Satu sama lain adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, bahkan tidak sempurna keimanan ketika kecintaan terhadap saudara tak seperti cinta pada diri sendiri. Yang menjadi pertanyaan, seberapa jauh kita telah mengamalkannya. Jangan-jangan dia hanya menjadi pajangan belaka dalam bak pikiran.
Ukhuwah merupakan sebuah anugerah yang yang patut kita sukuri dan mesti dijaga keutuhannya. Ia adalah kekuatan yang mampu mengangkat beratnya beban. Sukarnya persoalan. Dan rumitnya permasalahan. Hubungan yang mengalir dalam nadi pelakunya semata-mata karena Allah. Ia kental. Lebih intim dari hubungan nasab. Walau satu naungan dalam rahim, namun berbeda tempat berdiri ketika lahir. Tetap kedekatan sesama muslim lebih mulia. Kita bisa melihat sebuah sikap yang tercermin dari sahabat Mush’ab bin Umair terhadap saudara kandungnya Abu Aziz bin Umair, disaat saudara kandungnya itu menjadi tawanan perang Badar. “Perkuat ikatannya! Ibunya seorang yang kaya raya. Siapa tahu ibunya akan menebus anaknya dengan tawaran yang tinggi” Pinta Mush’ab kepada sahabat Anshar yang menawannya.
Ucapan Mush’ab ini membuat kaget saudaranya. Seseorang yang diharapkan bantuannya, malah membiarkan ia tertawan. “Beginikah caramu memperlakukan saudara kandungmu?‘ Geram Abu Aziz.
“Kamu bukan saudaraku. Tapi orang yang menahanmu itulah saudaraku!” Jawab Mush’ab bin Umair tegas.
Inilah sikap yang ditunjukkan Mus’ab bin Umair. Cinta yang ia labuhkan buat saudara seimannya lebih besar dan kokoh ketimbang cinta pada saudara kandung, karena memang dengan saudara seaqidah inilah ia akan dapat tolong menolong dalam kebaikan dan kesabaran. Serta berlomba-lomba dalam setiap kebajikan.
Banyak ayat dan hadis yang menerangkan bagaimana sikap seorang saudara terhadap yang lainnya, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah. Dan jangan bercerai- berai.” (Q.S. Ali ‘Imran : 103). Dalam hadis qudsi Allah berfirman, “Wahai hambaku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezholiman terhadap diri-Ku, dan menjadikannya haram diantara kalian. Oleh sebab itu, janganlah kalian saling menzholimi,” (HR. Muslim). Atau dalam hadis lain, “Janganlah kalian saling mendengki, saling bersaing dalam penawaran, saling membenci dan saling membelakangi. Dan janganlah sebagian kalian membeli belian bagian yang lain. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim terhadap muslim lainnya adalah saudara." (HR. Muslim)
Dan banyak ayat dan hadis lainnya.
Maka rasululullah Saw. dan para sahabat adalah sebaik-baik tauladan yang telah mengamalkan apa yang Allah dan rasul-Nya ajarkan. Semoga rasa ukhuwah ini tertanam dalam diri kita, umta islam. Dengan demikian, kita takkan mudah terprovokasi oleh hal-hal yang hanya akan merusak persaudaraan. Dan pesona ukhuwah akan tetap berkibar dengan gagah di jagad raya. Wallahua’lam.
(Udo Iwan)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar