Meranggas semak melinting hati
Kering!
Panorama yang melekat di sudut mata
seolah biasa
Pikiran purna semu merantai
Menimbun derai dari kelopak purnama
Dadaku menjelma kertas dalam lipatan pinggir jalan
Candra terselip dipojok pikiran,
tersumbat!
Aku merasa sunyi dari nyanyian shubuh
yang selama ini terpatri
Sanubariku mencoba merayah kembali serakan-serakan berdebu
bergaris lusuh di atas rak buku.
Buram!
Bordir zikir tak lagi timbul pada sulaman lidah yang kemarau
Hambar!
Guratan-guratan hitam digerayah kembali memori
yang telah tenggelam di dasar samudra ingatan
Betapa dulu karsa mengawai loka
Kuat terhujam dalam sukma
Tak lucut oleh helaan raksasa
Warna-warni pelangi asa digaris mata
pudar kini digerus nikmat senja yang bertahta.
Kelesah tak kuasa mencabut renjis comberan
yang melekat di selasar jiwa.
Terlalu kuat terpancang.
Oh, tidak!
Aku harus terus meniti tangga-tangga asa
walau licin oleh riak-riak galaba
karena membuang banyak kesempatan percuma
Aku tak peduli!
Aku tak boleh luntur oleh gerak masa
yang menelan nada lama
Aku harus terus terangkai dideretan kata
yang terpahat di dinding sejarah.
Aku juga ingin menjadi angin
peniup layar dari tepian pantai.
Hujan yang merambah debu-debu musim kemarau
Menyingkap zulmat yang merangkul darmakelana
ditengah jenggala raya.
Menjadi sesuatu yang memiliki arti
tak hanya sekedar obsesi yang terpajang di pangsa hati.
Ia butuh aplikasi
bukan sekedar teori yang meng-abu ditinggal api
atau molek bunga dicerai mekar pagi hari
Sekaranglah saatnya!
Geraaaaaaak!
Udo Iwan
11.48 WZ. 16 Februari 2012
Nyanyian Jiwa
Written By rumah karya on Minggu, 19 Februari 2012 | 05.04.00
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar