Assalamu'alaikum...,  Ahlan Wasahlan |  sign in  |  

Ahlan...

Sebuah blog untuk mengekspresikan diri. Manampung tetes pikiran yang jatuh. Sebuah parit kata, yang merayap dari celah jiwa. Sebuah bejana penyambut derai-derai inspirasi. Di sini dicoba untuk dieja. Kali saja menjadi huruf yang bisa dibaca. Menjelma alenia, membentuk cerita. Kalaupun berupa coretan tak berbentuk, mohon seka raut yang berluluk. Biar cerah. Dan jahitkan saku yang masih melambai. Karena aku sosok yang tak luput dari alpa. Thank's!


Adventure In Siwa (1)

Written By rumah karya on Minggu, 05 Februari 2012 | 23.21.00

Ujian sudah lama usai. Liburan panjang telah melambai. Merangkul dan mencumbu setiap orang yang baru saja lelah berjuang. Seperti biasa dan lumrahnya liburan, rata-rata para pelajar di Mesir mengadakan rihlah tahunan, pergi ke suatu tempat rekreasi yang berserak di Mesir. Begitu banyak tempat yang bisa dikunjungi di sini. Tergantung selera, kemana arah akan dituju.

Liburan musim panas juga merupakan detik terakhir kepengurusan organisai yang menjamur di Mesir ini. Dan program terakhir mereka biasanya adalah rihlah sa’idah. Seperti halnya organisasi yang menjamur itu, Dewan Perwakilan Daerah Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (DPD PPMI) yang berada di bagian timur Mesir, Zagazig, organisasi kami yang berada di daerah, juga melakukan hal yang sama, rihlah. Kali ini tujuan perjalanannya adalah Siwa dan Matruh. Siwa, katanya, merupakan sebuah pemukian warga yang masih natural. Dan bahasa mereka rada berbeda dengan bahasa Mesir secara umun. Dan banyak juga tempat bersejarah di sana, seperti halnya daerah lain di Mesir yang kental dengan nilai historis. Apa iya demikian? Hmmm. Kita ikuti saja perjalan rombongan.

Rombangan bertolak dari Zagazig pada jam sebelas malam, telat satu jam dari waktu yang telah direncanakan. Sengaja pilihan jatuh pada malam hari karena siangnya sangat panas dan membuat letih serta lesu. Dan esensi dari perjalanan tidak akan didapatkan. Kalau malam, kita bisa bersantai, karena udaranya sejuk, serta bisa memanfaatkan waktu siang untuk jalan-jalan sesuka hati.

Setelah semuanya berkumpul, bus ful AC itu mulai bergerak. Perlahan meinggalkan kawasan As Salam, sebuah kawasan tempat pelajar asing (Indonesia dan Malaysia) banyak tinggal. Perlahan hanya tampak titik kecil pada kawasan itu, lalu lenyap dari pandangan.

Keceriaan begitu terpancar dari raut setiap orang. Lega. Sebulan kurang telah bersusah payah menghadapi soal-soal ujian. Semua pikiran tertumpu pada diktat kuliah, terkadang bikin sumpek. Urat-urat pikiran tegang oleh baris-baris kata yang tak kunjung nempel dalam ingatan –sebagian orang-. Kini, semua bisa dilupakan untuk sesaat. Sekarang semuanya bisa ditinggalkan sejenak dengan berekreasi bareng.

Alunan lagu arab, gai delwakti yang dilantunkan Maya Nasri, mengiringi perjalanan malam ini, lagu yang distel supir itu membuat mata mulai mengantuk. Di luar jendela, bentangan pijar lampu yang memanjang, mempercatik rupa malam dengan kerlap-kerlipnya yang memesona. Tiang pabrik yang menjulurkan lidah api, menari-nari mengikuti irama angin. Semua begitu indah terlihat. Menyatu dengan simponi malam yang remang.
Perlahan, benang putih dan hitampun bisa dibedakan. Cahaya kebiruan mulai berebut tempat dengan pekat. Langit mulai tampak biru. Cukup lama dalam perjalanan. Sopir tampak sibuk melihat kiri kanan mencari kafe yang bisa dijadikan untuk rehat sejenak dan shalat shubuh bagi yang belum sempat shalat di atas mobil. Pemandangan masih berupa padang pasir yang membentang luas.
Tak lama kemudian, mobil berhenti disebuah pom bensin mengisi amunisi. Perjalanan panjang ini mesti ful tank kalau tidak ingin menginap dijalanan. Mobil kembali mengurangi kecepatannya. Ada sebuah kafetaria di depan, kafetaria dua puluh lima januari. Kata ‘Dua puluh lima Januari’ mengingatkan aku pada revolusi Mesir yang dimulai pada tanggal itu, hingga rezim Mubarak tumbang. Kafe itu masih tampak sepi. Mungkin karena masih pagi. Hanya ada satu dua pengunjung selain kami. Di kafe itu semua beban dibuang. Dan bisa shalat bagi yang belum shalat di dalam mobil.

Setengah jam kemudian, perjalanpun dilanjutkan kembali. Kali ini dengan rasa ringan dan dapat kembali bercengkerama. Jiwa-jiwa sudah siap bertempur manaklukkan Siwa yang konon katanya ada Oase, sebuah mata air yang terdapat di tengah gurun. Benar nggak, sih? Hmmm.

Perjalanan ini betul-betul perjalanan gila. Kenpa? Kalau aku pulang ke Indonesia dari Mesir, tanpa transit, tentunya sudah sampai. Delapan jam-an. Tapi ini masih dalam perjalanan dan belum tampak tanda-tanda Siwa. Disekeliling masih padang gersang kuning memanjang terpampang. Berbukit-bukit. Tak ada pemandangan lain yang menarik. Kalau perjalanan ini dilakukan di Indonesia, tentunya hijau pohon dan tanaman yang akan terlihat. Dan dapat menyegarkan pikiran yang butek. Meski demikian, perjalan ini tetaplah asik, karena bersama rekan-rekan dan kali pertama aku pergi. Tentunya beragam pertanyaan tentang Siwa masih menggelantung dan butuh jawaban.

Dari kejauhan, kulihat segerobolan domba menyebar di tengah padang pasir yang panas. Menggit rumput-rumput kasar yang tumbuh. Tak seperti binatang ternak yang hidup di bumi Indonesia yang dengan mudah akan mendapatkan rumput-rumput segar. Dengan kekuasaan Allah, domba ini bisa berkembang di tengah kerasnya hidup padang pasir. Diantara kekuasaan Allah lain yang aku lihat, rumput-rumput bisa tumbuh di tengah keringnya padang yang tak ditetesi hujan. Subhanallah! Rumah-rumah juga tampak berjajar. Jarang-jarang dan menyerupai kubus.

Setelah sebelas jam perjalan, akhirnya kami bisa sampai di tujuan, Siwa. Sebuah pemukiaman yang asri sudah terpajang di depan mata. Pohon kurma layaknya rimba, bertumpuk-tumpuk. Ditambah semak belukar. Walau banyak pohon kurma, tapi tak mengurangi teriknya matahari membakar kulit. Angin yang berembus tak bersahabat sama sekali. Meski demikian, tak tampak keletihan diwajah teman-teman. Tak ada bangunan yang mencakar di sini, seperti halnya bangunan di tempatku tinggal, Zagazig. Di sini bangunan yang paling tinggi dua tingkat. Selebihnya merata kayak bangunan rumah di desa-desa di Indoensia. Yang menyamakan bangunannya dengan daerah Mesir lainnya hanyalah warna yang kuning kecokelatan.

Orang-orangnya masih alami, itu terlihat dari pakaian yang kebanyakan mereka kenakan. Dan sebagian kendaraan masih menggunakan hewan. Keledai-keledai tampak menggeret gerobak kayu beroda. Orang-orang Mesir duduk dibelakangnya bak naik angkot. Kendaraan moderen, seperti mobil dan motor, hanya beberapa saja terlihat. Lebih didominasi hewan yang hilir-mudik. Pakaian mereka masih menggunakan jalabiah. Alami bana ma!

Perkerja-pekerja keras jalabiahnya sudah menyatu dengan warna tanah. Yang putih sudah memudar. Yang hitam sudah gak karuan. Kusut dan kotor. Besar kecil. Tua muda, berjalabiah. Sedangkan wanitanya memakai cadar atau lebih tepatnya burkah. Menghijab semua bagian wajahnya. Yang terlihat hanyalah bayangan mata dibalik kain tipis yang menutupi.

“Mereka curang, ya!” Kelakar salah seorang teman.
“Mereka bisa melihat kita, tapi kita tidak bisa melihat mereka.”
“Hahaha!” Ketawa kami meletus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar