Assalamu'alaikum...,  Ahlan Wasahlan |  sign in  |  

Ahlan...

Sebuah blog untuk mengekspresikan diri. Manampung tetes pikiran yang jatuh. Sebuah parit kata, yang merayap dari celah jiwa. Sebuah bejana penyambut derai-derai inspirasi. Di sini dicoba untuk dieja. Kali saja menjadi huruf yang bisa dibaca. Menjelma alenia, membentuk cerita. Kalaupun berupa coretan tak berbentuk, mohon seka raut yang berluluk. Biar cerah. Dan jahitkan saku yang masih melambai. Karena aku sosok yang tak luput dari alpa. Thank's!


Kurang Bukan Penghalang

Written By rumah karya on Sabtu, 21 Januari 2012 | 12.51.00

Pagi ini giliranku belanja ke pasar. Hidup dirantau mengharuskan kemandirian. Semua pekerjaan kita yang melakukan. Memasak. Mencuci. Belanja. Dan menyetrika. Tidak seperti di kampung, ada ibu atau adik yang mengerjakan pekerjaan rumah. Jam setengah sembilan aku berangkat. Agak siang memang, karena pagi-pagi udaranya sangat dingin. Tahulah, sekarang Mesir sedang musim dingin. Januari. Walau matahari sudah meninggi, tetap saja udaranya menembus jaket-jaket tebal yang aku pakai.
Orang sudah ramai berlalu-lalang. Jam segini aktivitas sudah mulai berjalan, mungkin karena pasar. Kalau hari biasa, masih sepi. Kebanyakan masry (orang Mesir) masih dalam mimpi. Aktifitas mulai mencair jam sembilan atau setengah sepuluhan. Di belakang jam itu, hanya anak-anak I’dadiyah, Ibtidaiyah dan Tsanawiyah saja yang tampak berpagi-pagi. Udara yang dingin ditambah angin yang berembus sepoi menambah beku aktivitas.

Karena rumahku yang tidak terlalu jauh dari pasar Syiba, aku cukup berjalan kaki. Tempat tinggalku biasa dikenal dengan mantiqoh Mauaf (kawasan terminal, asal katanya mauqaf; tempat pemberhentian. Dalam bahasa Amiyah huruf qaf biasa dibaca alif). Tuk-tuk (bajaj) berwarna hitam sudah mulai keliling mencari penumpang serta mengantarkan ibu-ibu Mesir yang baru pulang. Jam segini sebagian pembeli sudah pada selesai belanja. Kalau musim semi, panas atau gugur aku juga sudah pulang.

Lebih kurang sepuluh menit berjalan, aku sudah sampai di pasar. Sudah ramai. Ibuk-ibuk mondar-mandir beranjak dari satu pembeli ke pembeli lain. Para pedagang sibuk meneriakkan dagangannya. Pasar kecil setiap hari selasa ini begitu padat. Belum ditambah tuk-tuk dan mobil yang ikut masuk, terkadang bikin jalan tambah zahmah alias macet.

Huh!

Kusapu pandanganku pada setiap penjual. Hmmm? Tak ada yang jual cabe merah rupanya.
Aku terus menerobos ke dalam pasar. Ada yang menjual to’miyah juga rupanya di tengah pasar.

Dari deretan penjual sayur mayur, kulihat seorang kakek tua dengan dagangan plastiknya. Aku perkirakan umur beliau 60-an. Tampangnya kusut. Pakaian kumal. Dan sedikit bungkuk. Musim dingin menambah kekusutannya. Jaketnya yang tebal tidak menampakkan badannya yang kurus. Aku mampir ke-galeh-nya membali kresek. Aku tidak membawa kantong apa-apa ketika berangkat. Lebih senang membeli langsung di pasar.

“Assalamu’alaikum.” Sapaku.
“Kam wahdah?” Menunjuk kresek hitam.
“rubu’ yabni.”
“Aiz bigeneh.” Mengangkat telunjuk ke atas.
Tangan kurusnya segera mengambil empat plastik hitam dan memberikannya padaku.
“syukran.”

Akupun berlalu dari hadapannya. Baru saja beberapa langkah. Terdengar suara memanggil.
“Stanna.”

Aku menoleh ke belakang. Tampak dia mengibaskan sebuah plastik warna pink, yang ukurannya lebih kecil dari plastik hitam yang kubeli barusan.

“Hadiah minni.”

Dengan senang hati aku menerima pemberiannya. Tak lupa juga memberikan senyum dan terima kasih.

Aku tercenung sambil terus berjalan menuju pedagang ikan. Meskipun bapak itu hanya pedagang plastik, keinganan untuk berbuat baik tak membuatnya enggan untuk memberikan helai plastiknya. Dengan itulah dia mampu berbuat baik. Kalau memang memiliki keingan untuk berbuat baik, keterbatasan takkan pernah mampu menghalangi. Aku jadi teringat para sahabat yang mengeluh kepada rasulullah Saw., “Wahai rasulullah. Orang kaya itu datang dengan banyak pahala, mereka shalat seperti kami shalat. Mereka berpuasa seperti kami berpuasa. Dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta yang mereka miliki, (sedangkan kami tidak bisa). ”Rasulullah kemudian menjawab, “bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang bisa disedekahkan?! Sesungguhnya setiap tasbih, takbir, tahmid dan tahlil adalah sedekah.” (HR. Imam Muslim)

Berinfak di tengah kekurangan justru tersedia balasan yang lebih buat pelakunya. Setiap orang tentunya ingin mendapatkan. Namun tak semua orang bisa mengerjakan. Setiap sesuatu yang bernilai, memang berat untuk mengaplikasikannya. Dalam Al-Quran Allah mengkhabarkan kepada kita,

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu. Dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit. Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintain orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran 133-134)

Lebih lengkap, ketika setiap amalan baik kita dibungkus dengan takwa kepada Allah. Seperti yang Allah sebutkan di atas.
Hadis dan ayat ini memberikan motivasi kepada kita untuk bersedekah atau berinfak dengan yang kita bisa. Orang kaya dengan kelebihannya ia berinfak, seperti halnya Abu Bakar. Abu bakar dikenal sebagai orang yang kaya. Dan menjadikan kekayaannya itu sebagai ladang ibadah. Semua hartanya ia sumbangkan untuk dakwah islam,hingga tak tersisa. Rasulullah pun bertanya dibuatnya, “apa yang engkau sisakan untukmu dan keluargamu?” Ia menjawab, “Allah dan rasul-Nya.”

Ketika kita tidak memiliki apa-apa, masih bisa melakukan seperti yang rasulullah ajarkan pada sahabatnya, bertasbih, takbir, tahmid dan tahlil. Atau juga seperti hadis berikut, “Mendamaikan dua orang yang berselisih adalah sedekah. Membantu seseorang mengangkatkan baawaannya kekendaraannya adalah sedekah. Kata-kata yang baik adalah sedekah. Setiap langkah menuju shalat adalah sedekah. Dan menyingkirkan rintangan dari jalan juga sedekah." (HR. Bukhari Muslim)

Begitu banyak pintu kebaikan yang bisa dimasuki. Yang jadi pertanyaan, kita mau masuk atau tidak. Yang jelas, pintu itu takkan pernah tertutup. Kekurangan bukanlah sekat yang membatasi diri kita untuk bisa bersedekah dan berbuat baik.

“Kam kilo ya andunisi..?”

Aku sedikit tergagap. Suara penjual ikan membuyarkan lamunanku. Tanpa kusadari, aku telah berdiri di depan penjual ikan. Ah, betapa malunya aku melamun di tengah keramaian. Huhuhu!

1 komentar:

Posting Komentar