Assalamu'alaikum...,  Ahlan Wasahlan |  sign in  |  

Ahlan...

Sebuah blog untuk mengekspresikan diri. Manampung tetes pikiran yang jatuh. Sebuah parit kata, yang merayap dari celah jiwa. Sebuah bejana penyambut derai-derai inspirasi. Di sini dicoba untuk dieja. Kali saja menjadi huruf yang bisa dibaca. Menjelma alenia, membentuk cerita. Kalaupun berupa coretan tak berbentuk, mohon seka raut yang berluluk. Biar cerah. Dan jahitkan saku yang masih melambai. Karena aku sosok yang tak luput dari alpa. Thank's!


Sepenggal Cerita

Written By rumah karya on Selasa, 12 Oktober 2010 | 10.44.00

Terjaga! Tidur panjang selesai. Bangkit! Itulah yang harus dilakukan. Bekerja! Itulah yang harus dilaksanakan. Bergerak itulah tugas. Kini, bukan saatnya mematung, atau menatap kosong awang. Episod itu sudah jauh, sudah berganti dengan episod baru, sebuah episod dramatis, di mana di episod ini, kegigihan serta keuletan diuji.

Tonggak kesabaran didrobak. Musim panas mungkin musim yang ditunggu-tunggu. Sebab, di musim ini, segala geliat perkuliahan berhenti. Sesuatu yang beraroma kampus, di babat. Berubah kelegaan. Tak dinyana, lenyap sudah derita. Begadang melibas muqarrar, padam. Percikan fres menjelma pelita. Terang. Semua jelas. Kabut tebal raib. Fokus tak lagi pada satu titik muqarrar. Banyak hal sekarang yang bisa diraup. Tak semata muqarrar yang terkadang buat urat-urat syaraf melingkar-lingkar, pusing, belajar terlalu dipanjat.

Merdeka! Bekas! Sandangan pundak berserak. Bercecer jadi kerak-kerak lunak, melebur dengan tanah. Tak terlihat lagi beban ujian. Sekarang sudah bisa tersenyum. Saling sapa sesama. Menyeruak dari rumah. Ziarah. "Gimana ujiannya…??" sudah bisa saling tegur. Gembok-gembok kamar dirantai dalam museum, god by, tak lagi berguna. Dilirik ketika bayang-bayang ujian melambai.

Sebuah fenomena unik. Seperti jangkrik dalam cerita, menderita. Tak bergerak ketika kesempatan ditangan. Tertawa melihat semut yang tertatih-tatih mengisi gudang. Setelah kesempatan itu menjadi angin, terkejut. Terlambat. Kini, hanya bisa Menatap kosong. Semut menikmati musim dingin dengan sejuta bekal. Sementara semut mati kedinginan dengan lapar menari-nari. Itu mungkin sepenggal cerita ketika ujian tiba. Terutam yang aku rasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar